Kontradiksi Roti Beragi dan Roti Tak Beragi

0
909
RobertCheaib / Pixabay

Keberatan:

Sebelum berbicara mengenai Kontradiksi Roti beragi dan tidak beragi, maka baiklah kita lihat kapankah Roti tidak beragi digunakan dalam tradisi Yahudi?

Yehezkiel 45 : 21

Pada bulan pertama (Nisan), pada tanggal empat belas bulan itu haruslah kamu merayakan hari raya Paskah, dan selama tujuh hari kamu harus makan roti yang tidak beragi.

“Kapankah Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dimana dia pertama kali mengkonsekrasi Roti dan Anggur menjadi tubuh dan darahNya sendiri?”

Ada sedikit kontroversi. Menurut Mat 26:17, Mrk 14:12, Luk 22:7 paskah dirayakan pada hari pertama Paskah, dalam penanggalan Yahudi adalah 14 Nisan. ini berarti bahwa roti yang dipakai di Perjamuan Terakhir adalah roti tak beragi. Namun di injil Yohanes disebutkan bahwa Perjamuan Terakhir terjadi sehari sebelum Paskah (Yoh 13:1), yaitu 13 Nisan. Ini berarti roti yang dipakai pada Perjamuan Terakhir adalah roti beragi.

Mengapa kemudian Gereja Orthodox atapun Gereja Katolik Timur menggunakan roti yang beragi?

Sebenarnya mengenai kontradiksi di atas antara ke tiga Injil di atas dengan Injil Yohanes, akan terjawab jika kita belajar Pemahaman INJIL dengan bahasa aslinya, dan melihat Roti apa yang sebenarnya Yesus gunakan saat Perjamuan Terakhir.

Kesan perbedaan dari Injil Matius 26 : 17, Markus 14 : 12, Lukas 22 : 7, dengan Injil Yohanes 13 : 1, akan terselesaikan jika kita melihat Roti apa yang sebenarnya Tuhan Yesus gunakan dalam kitab suci berbahasa aslinya. Artos / Prosfora / Roti Beragi, yang dipakai Jemaat Perdana dalam Perjamuan Kudus dan diterus sampaikan oleh Gereja Orthodox hingga sekarang.

Untuk menjawab Matius 26 : 17, kita merujuk kepada Matius 26 : 26

Matius 26 : 26

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”

Kemudian untuk menjawab Markus 14 : 12, kita merujuk kepada Markus 14 : 12

Markus 14 : 22

Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

Dan Yang Terakhir untuk menjawab Lukas 22 : 7, maka kita merujuk kepada Lukas 22 : 19

Lukas 22 : 19

Lalu Ia mengambil roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi), mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Kenapa terjadi Perbedaan antara 3 Injil (Mat, Mark, Luk) dengan Injil Yohanes alasannya adalah demikian :

  1. Dalam Tradisi Yahudi, jam 6 Sore adalah tanda pergantian hari.
  2. Jika Yesus merayakan itu pada malam hari sebelum hari raya (Yoh 13 : 1) maka adalah benar jika itu sudah masuk hari raya pertama paskah karena pergantian hari sudah dimulai jam 6 sore.
  3. ketiga Penulis Injil Matius, Markus, Lukas berpatokan pada waktu dimana Yesus merayakan Perjamuan Terakhir yakni Malam sebelum hari Pertama Paskah (Pergantian hari jam 6 sore maka sudah masuk hari pertama Paskah). namun 3 Penulis Injil sepakat bahwa Roti yang digunakan masih Roti beragi, karena memang baru keesokkan harinyalah Bangsa Yahudi memulai makan roti tidak beragi. Kemungkinan besar Yesus merayakan Perjamuan terakhir pada jam-jam pergantian hari (5 Sore – 7 Sore).
  4. Yohanes Penginjil kemungkinan mengatakan Hari sebelum Paskah karena memang itu belum masuk Paskah / jam-jam pergantian hari, dan kemungkinan patokan Yohanes Penginjil mengatakan Hari sebelum Paskah karena roti yang digunakan bukan Azumos (Roti tidak beragi) melainkan Artos (Roti Beragi)

Perbedaan Patokan antara 3 Injil (Mat, Mark, Luk) dengan Injil Yoh inilah yang mengakibatkan perbedaan statemen antara mereka.Matius, Markus, dan Lukas berpatokan pada kapannya Perjamuan Akhir, sedangkan Yohanes berpatokan pada Roti yang digunakan yakni Roti yang beragi.

ke empat Injil Kanonik sepakat bahwa Yesus menggunakan Roti beragi atau dalam bahasa yunaninya adalah ἄρτος (Artos).

Adalah suatu fakta bahwa Yesus tidak menggunakan Roti tidak beragi yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ἄζυμος (azumos)

Azumos / Hosti / Roti Tidak Beragi, Ditradisikan oleh Gereja Barat (Katolik Roma dan Protestan) hingga sekarang.

Seperti dalam Injil Lukas 22 : 1

Lukas 22 : 1

Hari raya Roti Tidak Beragi (ἄζυμος, azumos), yang disebut Paskah, sudah dekat.

Dan ketika berbicara bagaimana seharusnya kita mengadakan Perjamuan Kudus? Yesus pernah bersabda

Lukas 22 : 19

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Yesus menghendaki kita untuk melakukan dan berbuat seperti apa yang dilakukan-Nya dalam perjamuan terakhir untuk mengenangkan-Nya, dan inilah yang dilakukan dan dilaksanakan oleh Gereja Orthodox sampai sekarang, menghayati Perjamuan Terakhir disetiap Liturgi Illahi, Karena Perjamuan Terakhir adalah Peringatan dan Rekaman dari apa yang telah Yesus Perbuat.

Dan ketika kita berbicara mengenai Tradisi Rasuliah maka kita akan selalu mengacu kepada kitab-kitab Rasuliah

2 Tesalonika 2 : 15

Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

Dan jika apa yang dituliskan oleh para rasul adalah Artos (Roti beragi) maka dengan Artos (Roti beragi) jugalah kita mengenangkan Perjamuan Kudus Tuhan.

Dan tradisi penggunaan Roti Beragi (Artos / Prosfora) ini juga terlihat dalam Tradisi Gereja Perdana

Kisah Para Rasul 2 : 42

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti (ἄρτος, Artos, Roti beragi) dan berdoa.

Dalam Tradisi Gereja Perdana, Para jemaat selalu berkumpul untuk memecahkan roti dalam artian Roti beragi dan berdoa. Roti yang dikatakan selalu dipecahkan itu tidak dikatakan ἄζυμος (azumos / Roti tidak beragi) melainkan ἄρτος (Artos / Roti beragi)

Lalu bagaimanakah kejadiannya sehingga di Barat (Katolik Roma) memiliki Tradisi yang berbeda dari Gereja Orthodox yang mewakili Jemaat Perdana?

Sebelum Abad ke 6 tepatnya pada tahun 554, di barat pun memiliki keanekaragaman tradisi ada yang menggunakan roti yang beragi dan ada yang tidak beragi (hosti), baru pada abad ke 6 lah diputuskan wilayah barat harus memiliki tradisi yang sama yaitu menggunakan hosti dalam Ekaristi.

Penggunaan hosti secara sah berlaku seragam di seluruh Gereja wilayah barat baru pada abad ke 6 dengan Konsili setempat (wilayah barat) di Arles tahun 554.

 

Dan catatan mengenai Hosti sendiri, Penggunaannya di Gereja Barat ditradisikan baru pada abad ke 4 ini terdapat dalam catatan St. Epifanus, Yang sebenarnya Gereja Barat pun pada 3 abad pertama tetap setia menggunakan Tradisi yang sama dengan Gereja Timur (Orthodox).

Tanggapan

(1) Jika roti yang dimakan Yesus saat perjamuan Seder Pesakh adalah roti yang beragi hanya didasarkan atas kata Yunani ARTOS, maka kita telah mengontradiksikan dengan seluruh makna yang terkandung dalam Pesakh dan Perayaan ha Matsah (Roti Tidak Beragi).

(2) Bahkan Rasul Paul saja menghubungkan pengorbanan Mesias sebagai Anak Domba Paskah (1 Kor 5:7) dan Roti Tidak Beragi sebagai gaya hidup pengikut Mesias agar berjalan dalam kemurnian sebagaimana disimbolisasikan dalam Roti Yang Tidak Beragi sebagaimana dikatakan:

“Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:7-8). Kita telah memgetahui bahwa perjamuan akhir dirayakan pada hari raya roti tak beragi maka Yesus takkan melanggar hukum taurat dan tentu akan menggunakan roti tak beragi Markus 14:12 ,Lukas 22:7, Matius 26:17 dll dll dll

(3) Benarkah kata Yunani ARTOS menunjuk pada roti yang beragi?

Apabila kita melihat kata “artos” sebenarnya adalah kata umum untuk roti secara keseluruhan baik beragi maupun tidak beragi. Kita bisa melihat dalam beberpaa ayat septuaginta.

Levitivicus 8:26

καὶ ἀπὸ τοῦ κανοῦ τῆς τελειώσεως τοῦ ὄντος ἔναντι κυρίου ἔλαβεν ἄρτον ἕνα ἄζυμον καὶ ἄρτον ἐξ ἐλαίου ἕνα καὶ λάγανον ἓν καὶ ἐπέθηκεν ἐπὶ τὸ στέαρ καὶ τὸν βραχίονα τὸν δεξιόν

Numbers 6:15 – καὶ κανοῦν ἀζύμων σεμιδάλεως ἄρτους ἀναπεποιημένους ἐν ἐλαίῳ καὶ λάγανα ἄζυμα κεχρισμένα ἐν ἐλαίῳ καὶ θυσία αὐτῶν καὶ σπονδὴ αὐτῶν

Numbers 6:19

καὶ λήμψεται ὁ ἱερεὺς τὸν βραχίονα ἑφθὸν ἀπὸ τοῦ κριοῦ καὶ ἄρτον ἕνα ἄζυμον ἀπὸ τοῦ κανοῦ καὶ λάγανον ἄζυμον ἓν καὶ ἐπιθήσει ἐπὶ τὰς χεῖρας τοῦ ηὐγμένου μετὰ τὸ ξυρήσασθαι αὐτὸν τὴν εὐχὴν αὐτοῦ

Exodus 29:2

καὶ ἄρτους ἀζύμους πεφυραμένους ἐν ἐλαίῳ καὶ λάγανα ἄζυμα κεχρισμένα ἐν ἐλαίῳ σεμίδαλιν ἐκ πυρῶν ποιήσεις αὐτά

Sebagai tambahan  Kita lihat definisnya dari The New Testament Greek Lexicon sbb:

ἄρτος

food composed of flour mixed with water and baked

the Israelites made it in the form of an oblong or round cake, as thick as one’s thumb, and as large as a plate or platter hence it was not to be cut but broken

loaves were consecrated to the Lord

of the bread used at the love-feasts and at the Lord’s Table

food of any kind

http://www.searchgodsword.org/lex/grk/view.cgi?number=740

Perhatikan frasa “to be cut but broken” (dipecah). Ini khas roti tanpa ragi yang dimasak sehingga menjadi keras dan dapat dipecahkan

Josephus dan Philo memberikan deskripsi mengenai ARTOS sebagai MATSAH dan hidangan saat Seder Pesakh sebagaimana dikatakan:

“In addition, both early Jewish writers Josephus and Philo use artos in their description of the matzo of the Passover meal. Also, the loaves of the unleavened showbread in the Tabernacle and Temple, were regularly called artoi (plural of artos). It is understandable, then, that the gospel writers used the generic term artos because they knew that their readers would know what kind of bread they were talking about”

Lah jadi apakah ada kontradiksi penggunaan roti sakramental antara Katolik latin dan katolik timur dalam hal ini?

sama sekali tidak!

Sementara itu Gereja sendiri menetapkan bahwa baik roti beragi maupun tak beragi adalah sah untuk dikonsekrasi:

Pernyataan dari Konsili Florence (dimana kesatuan sementara antara Barat dan Timur tercapai) yang menyebutkan bahwa baik roti beragi maupun tak beragi adalah sah untuk mengkonsekrasi. Meskipun begitu tiap-tiap Gereja HARUS mengkonsekrasi roti menurut tradisi mereka (kalau Barat, ya konsekrasi yang tak beragi, dan sebaliknya). Bila konsekrasi dilakukan berlawanan dengan tradisi mereka (ie. barat mengkonsekrasi roti beragi, dan sebaliknya) maka konsekrasi itu illicit (melanggar hukum) dan merupakan bentuk penyelewengan Liturgis MESKIPUN konsekrasinya tetap sah (roti telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus)

The Ecumenical Council of Florence

Session 6—6 July 1439

Maka roti tak beragi mapun roti beragi ketika dikonsekrasikan secara rasuli maka tetap menjadi tubuh dan darah kristus

Penulis : Jamal benedict Counttall

Tuhan memberkati

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected] atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289