Martir Katolik: Rela Mati demi Surga yang Dirindukan

0
561
tassilo111 / Pixabay

Kitab 2 Mak. 7:1-2, 9-14, seperti yang kita dengar pada bacaan pertama hari Minggu kemarin, mengisahkan tentang tujuh bersaudara dan ibu mereka yang dengan gigih membela apa yang mereka imani. Kita tahu bahwa mereka merupakan penganut agama Yahudi.

Sebagai orang Yahudi yang taat, ketujuh bersaudara dan ibu mereka itu tahu betul bahwa Tuhan melarang umat-Nya memakan daging babi yang haram. Dan, bagi mereka, larangan itu merupakan bagian dari iman. Maka, sebisa mungkin mereka tidak melanggar larangan itu, entah dalam situasi apapun; sebab melanggar larangan Tuhan, sama saja artinya dengan ‘menyangkal iman’. Karenanya, mereka rela memilih mati daripada harus melanggar larangan dari Tuhan.

Apa yang membuat mereka berani? Kitab 2 Makabe itu menjelaskan bahwa mereka berani mati karena mereka percaya bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara saja. Semua orang, entah cepat atau lambat, akan mati juga. Tapi, bagi orang yang selama hidupnya mampu mentaati perintah Tuhan dan menjauhi larangannya, mereka akan dibangkitkan untuk kehidupan yang kekal. Jadi, mereka percaya pada kebangkitan orang-orang mati.

Keyakinan itu terungkap lewat pernyataan dari anak yang kedua. Dalam kisah itu, anak yang kedua angkat bicara, katanya: “Memang benar, engkau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hukum-hukum-Nya” (2 Mak. 7:9).

Orang seperti mereka ini orientasinya bukan lagi kesenangan duniawi, tapi kebahagiaan kekal. Mereka rela mengorbankan kesenangan duniawi, demi memperoleh kebahagiaan di dunia akhirat. Mereka memandang segala hal yang ada di dunia ini bukan apa-apa dibandingkan kebahagiaan kekal yang sudah disiapkan oleh Tuhan bagi mereka.

Mereka tahu bahwa surga itu ada dan harus diperjuangkan, tidak cuma-cuma. Hanya orang yang terbukti setia yang pantas menerimanya; sebab surga adalah upah bagi orang yang percaya; dan bagi orang yang mampu mempertahankan imannya selama hidupnya di dunia ini.

Itulah sebabnya, ketika anak ketiga dalam kisah itu diminta menjulurkan lidahnya untuk dipotong, ia bahkan juga menyodorkan tangannya; supaya dipotong sekalian. Dengan berani ia berkata: “Dari surga aku telah menerima anggota-anggota ini! Demi hukum-hukum Tuhan, kupandang semuanya ini bukan apa-apa! Aku berharap akan mendapat kembali semua ini dari-Nya!” (2 Mak. 7:11).

Luar biasa. Justru sang raja sendiri yang tercengang-cengang atas semangat pemuda itu yang memandang kesengsaraannya bukan apa-apa. Mengapa mereka begitu berani? Karena mereka mempunyai iman yang besar terhadap kebangkitan orang mati.

Dalam Gereja Katolik, cukup banyak orang yang berani mati seperti orang-orang yang diceritakan dalam Kitab Makabe itu. Gereja menyebut mereka sebagai ‘martir’. Para martir itu berani mati demi membela imannya. Mereka dipaksa meninggalkan iman Katolik, tetapi mereka tidak goyah. Mereka memilih mati daripada harus meninggalkan Yesus.

Apa yang membuat mereka berani mati? Sama seperti ketujuh bersaudara yang dikisahkan dalam Kitab 2 Makabe itu, para martir percaya bahwa hidup di dunia ini sifatnya sementara saja. Ada hidup lain yang harus mereka perjuangkan, yang sifatnya abadi. Mereka percaya bahwa sekalipun hidup mereka di dunia ini dihapuskan, Tuhan akan membangkitkan mereka untuk menikmati kehidupan yang kekal. Itulah surga yang dirindukan oleh banyak orang.

Ya, semua orang ingin masuk surga, namun tidak semua orang dapat masuk ke dalamnya; sebab pintu surga itu sesak. Yesus sendiri berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk. 13:24).

Perkataan Yesus ini mau mengatakan kepada kita bahwa tidak ada orang yang secara otomatis bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga; sebab masuk Surga itu susah. Tidak enteng. Maka dari itu, semua orang yang ingin masuk surga harus berusaha dan berjuang.

Orang hanya bisa masuk ke dalamnya sejauh ada usaha dan kerja keras. Apa yang perlu kita usahakan untuk menerobos pintu yang sempit itu? Tidak ada yang lain kecuali  menuruti segala perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya; entah dalam situasi apapun, termasuk jika harus mati demi mempertahankan apa yang diimani.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.