Mendoakan Orang Mati menurut Kitab Suci: Sangat Baik dan Tepat

0
4950
RobVanDerMeijden / Pixabay

Setiap tanggal 2 November umat Katolik mengadakan peringatan mulia arwah semua orang beriman. Dalam rangka itu, biasanya diadakan Misa dan kunjungan ke makam keluarga masing-masing.

Tradisi mendoakan orang mati, dalam Gereja Katolik, berakar pada teks–teks Kitab Suci. Namun, secara pribadi, sebelum saya bergabung dengan Gereja Katolik, saya berkeyakinan bahwa kegiatan mendoakan orang mati merupakan suatu kesia-siaan. Keyakinan itu muncul di dalam diri saya berdasarkan kutipan ayat Kitab Pengkhotbah yang mengatakan bahwa ‘segala sesuatu sia-sia’; sebab orang mati tidak tahu apa-apa tentang dirinya (bdk. Pengkh. 9:5).

Saat itu, saya begitu yakin bahwa tradisi mendoakan orang mati sangat tidak Alkitabiah; dan tentu sulit bagi saya untuk menerimanya. Namun, setelah saya menelusuri lebih jauh, saya akhirnya paham bahwa isi Kitab Pengkhotbah ini ternyata ada konteksnya. Pada waktu kitab ini ditulis, kesalehan atau keimanan selalu dikaitkan dengan kekayaan, umur panjang, dan keturunan. Jadi, pada masa itu belum ada keyakinan tentang kebangkitan; yang ada hanya kepercayaan bahwa seseorang akan masuk ke dalam dunia orang mati.

Apa yang dituliskan di dalam Kitab Pengkhotbah berbeda jauh dari apa yang dituliskan di dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa ‘Yesuslah kebangkitan dan hidup;  barangsiapa percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati‘ (bdk. Yoh. 11:25). Maka, bagi kita yang percaya kepada Yesus, mendoakan orang mati merupakan bentuk harapan dan kepercayaan kita terhadap adanya kebangkitan orang-orang mati.

Salah satu kitab yang menceritakan tentang praktek mendoakan orang mati adalah Kitab 2 Makabe. Diceritakan bahwa Yudas Makabe mengumpulkan persembahan dan mendoakan prajuritnya yang meninggal di medan pertempuran. “Karena itu (Yudas Makabe) mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka bebas dari dosa-dosanya” (lih. 2 Mak. 12:43-46).[2] Doa yang diucapkan oleh Yudas Makabe dan pasukannya ini dilandasi harapan akan adanya kebangkitan.

Selain kitab Makabe, ada juga kitab lain yang menyiratkan tentang purgatorium.[1] “Maksud semua itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1 Petrus 1: 7 ); ( 1 Kor. 3 – 15, KGK 131 ).

Gereja Katolik meyakini bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Kehidupan kita ini hanya akan diubah ke bentuk kehidupan yang baru, bukannya dilenyapkan. “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”  ( bdk. 2 Kor. 5 : 1. 6 – 10).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) menerangkan bahwa setiap orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan mendapat keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang diperlukan, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan Surga (KGK 1030).

Lantas, mengapa Gereja non-Katolik tidak mendoakan orang mati? Jawabannya sederhana: yakni karena Martin Luther sudah menghapus Kitab 2 Makabe dari daftar Kitab Suci mereka. Padahal, dalam Kitab 2 Makabe itulah diceritakan tentang tradisi mendoakan orang mati.

Bukan hanya mengapus Kitab 2 Makabe, beberapa buku dan artikel juga menceritakan bagaimana Martin Luther menghilangkan beberapa bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang tidak mendukung konsep tri-sola yang ia buat. Jadi, wajarlah kalau para pengikutnya tidak mengenal tradisi mendoakan orang mati.

Keterangan:
[1] Purgatorium adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami pemurnian, sehingga mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki kerajaan Surga.
[2] Korban penghapus dosa yang lazim kita temukan dalam Kitab Imamat.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289