Jangan Ngaku Beriman kalau Tidak Tahu Bersyukur

0
329
dh_creative / Pixabay

Bersyukur adalah ungkapan iman. Tepat jika dikatakan bahwa orang  beriman adalah orang yang bersyukur. Sebaliknya jika tak bersyukur, walaupun menganggap diri bagian dari kaum beriman, orang tersebut sesungguhnya tak beriman. Atau sekurang-kurangnya ia tak mengungkapkan imannya.

Sesungguhnya, ada banyak hal yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Napas kehidupan, kesehatan, pekerjaan, rumah kediaman, relasi persahabatan yang baik dan sebagainya adalah anugerah Tuhan. Tapi, seberapa sering kita bersyukur?

Sepuluh Orang Kusta

Dalam Injil pada Hari Minggu Biasa 28, kita mendengarkan kisah sepuluh orang kusta yang mendatangi Yesus. Mereka menderita penyakit kusta. Penyakit kusta itu sangat berbahaya tak hanya bagi penderitanya, tetapi juga bagi orang di sekitarnya. Ia menular. Yang menderita kusta juga tak hanya menderita secara fisik, tetapi juga sosial dan psikis. Mereka ‘disingkirkan’ dari tengah masyarakat agar penyakitnya tidak menular. Mereka ‘dikarantina’ di tempat tertentu. Mereka sangat menderita. Sepuluh orang kusta yang sangat menderita  seperti inilah yang ingin sekali disembuhkan oleh Yesus.

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Ini permintaan kesepuluh orang kusta itu agar disembuhkan.

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Ini permintaan kesepuluh orang kusta itu agar disembuhkan. Mereka yakin bahwa Yesus bisa menyembuhkan mereka. Permintaan mereka hanya ditanggapi Yesus dengan menyuruh mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam. Dalam perjalanan, mereka semuanya sembuh. Tentu saja mereka sangat senang.

Bagi saya, yang sangat menarik dari kisah tersebut adalah hanya satu orang di antara mereka yang kembali kepada Yesus. Ia kembali untuk berterima kasih dan memuliakan Allah dengan nyaring bahkan tersungkur di depan kaki Yesus (Ay. 15-16). Ini ungkapan terima kasih dan syukur yang mendalam. Di mana dan ke mana sembilan orang yang lain? Mengapa mereka tak pulang berterima kasih dan bersyukur kepada Yesus? Mengapa mereka tak memuliakan Allah dengan nyaring? Entahlah!

Sumber: Google.com

Jarang Bersyukur

Saya merenungkan, kisah Injil ini adalah kisah kita saat ini. Kita yang kadang-kadang atau jarang bersyukur. Kita yang kadang-kadang lupa bersyukur untuk banyak rahmat Tuhan dalam hidup ini. Kita cenderung menganggap apa pun yang kita peroleh adalah hasil jerih payah sendiri dan bukan rahmat Tuhan. Kita begitu sombong.

Kadang-kadang dalam situasi sulit, misalnya saat menderita sakit, kita memohon dengan tekun kepada Tuhan agar sembuh. Setelah sembuh, bisa saja kita lupa bersyukur. Atau ketika mengalami masalah di dalam keluarga atau di tempat kerja, kita mengeluh kepada Tuhan dan memohon agar diberi jalan keluar terbaik. Tetapi setelah jalan keluar terbaik ditemukan, kita juga lupa bersyukur kepada Tuhan. Kita mengganggap bahwa semuanya itu karena kehebatan kita. Ya, seperti sembilan orang kusta yang tak kembali berterima kasih dan bersyukur kepada Yesus. Dan, masih banyak kisah lain tentang jarangnya kita bersyukur.

Belajar pada Bunda Maria

Saat ini, kita sedang berada pada pertengahan bulan Oktober, bulan Rosario. Ini saat yang tepat untuk merenungkan dan menggali keutamaan Bunda Maria dalam beriman, secara khusus dalam bersyukur. Ia adalah bunda kita, bunda umat beriman, bunda yang selalu bersyukur. Ia selalu bersyukur atas rahmat  yang diberikan Tuhan kepada-Nya. Mari kita menyimak sejenak tanggapannya ketika ia mendapat pujian dari Elisabet:

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesunggunya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk. 1:42-45).

Bagaimana tanggapan Maria? Ia menyanyikan kidung pujian! Pujian dan kekaguman Elisabet ditanggapinya dengan memuji dan mengagungkan kebesaran Allah. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juru Selamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya ….” (bdk. Luk. 1:46-55). Bunda Maria menyadari bahwa semua yang dialaminya hanya karena anugerah Tuhan, bukan karena prestasi manusiawinya. Karena itu, yang layak dipuji dan diagungkan itu hanya Allah. Ia bersyukur atas semua anugerah Tuhan itu melalui kidung pujiannya.

Kita perlu belajar pada Bunda Maria agar selalu bersikap rendah hati dan  selalu bersyukur atas apapun yang kita terima dari Tuhan dalam hidup ini. Semua yang kita dapatkan dalam hidup ini hendaknya diyakini sebagai anugerah Tuhan, bukan terutama karena kehebatan manusiawi kita. Menurutku, keterlaluan kalau kita malas atau tidak mau bersyukur. Bersyukur adalah ungkapan iman.***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.