Pengorbanan “Ine Pare”

0
242

Dalam menyongsong pesta paskah, Panitia Paskah 2019 Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret menyelenggarakan pementasan aktus paskah dengan tema “Ine Pare” (Selasa, 16/04/2019). Pementasan aktus paskah ini dimulai tepat pada pukul 20.15, hingga berakhir pada pukul 21.30, dan bertempat di Aula St. Petrus Ritapiret.

Yang turut hadir menyaksikan pementasan aktus Paskah ini adalah semua warga Komunitas Ritapiret, biarawan-biarawati yang berdomisili di sekitar kompleks Ritapiret, dan juga umat di sekitar lingkungan Ritapiret.

Fr. Yansen Paji yang menjadi sutradara dalam pementasan aktus ini mengisahkan bahwa narasi dalam aktus Paskah tahun 2019 ini merupakan ceritra mitologis dari wilayah Ende-Lio tentang awal mula keberadaan bibit padi (pare). Pengorbanan Mbu yang diperankan oleh Saudari Erin (seorang mahasiswi STFK Ledalero) di tanah Kelikoja untuk menyelamatkan masyarakat Kelisamba dari bencana kelaparan, disandingkan dengan pengorbanan Yesus yang berani menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Mbu berani menyerahkan dirinya secara total dan mengorbankan dirinya untuk dipersembahkan kepada masyarakat Kelisamba yang menderita kelaparan. Diceritrakan bahwa bibit padi hanya bisa bertumbuh dan berkembang, sehingga bisa menyelamatkan masyarakat Kelisamba dari kelaparan, jika Mbu dibunuh sebagai persembahan. Pengorbanan Mbu yang dengan gagah berani mempersembahkan dirinya untuk menyelamatkan masyarakat dari kelaparan, mengingatkan para penonton aktus yang hadir akan kisah pengorbanan Yesus yang tersalib di bukit Golgota. Yesus mempersembahkan diri-Nya untuk mengangkat kembali derajat manusia yang telah berdosa.

Fr. Kristo Selamat yang turut hadir menyaksikan aktus ini memberikan apresiasi kepada panitia Paskah yang telah berhasil mementaskan aktus paskah 2019. “Saya secara pribadi memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Panitia Paskah 2019 yang telah menyukseskan pementasan aktus paskah 2019 ini. Menurut saya, adegan yang paling apik dan elegan dalam pementasan aktus Ine Pare malam hari ini adalah pertama, pertengkaran kakak beradik tentang niat pengorbanan saudari Mbu yang diperankan oleh Erin. Kedua, aksi pembunuhan yang dilakukan oleh sang kakak terhadap saudarinya yang darahnya dipersembahkan kepada masyarakat Kelisamba. Ketiga, si kakak membagi padi sambil tertunduk dan menangis. Ia menyembunyikan rasa sesalnya yang mendalam dan kengerian cara kerja roh, ungkap Fr. Kristo Selamat yang akan ditahbiskan menjadi Diakon pada 9 Juni nanti.

Aktus yang ditampilkan secara sederhana, klasik, dan khidmat ini berhasil menghipnotis dan mengantar para penonton yang hadir ke dalam refleksi kisah sengsara Yesus yang mati tersalib. Para aktor utama Fr. Handri Hambur, dkk. berhasil menguasai panggung dan memainkan adegan-adegan kunci secara sempurna yang membuat penonton semakin memahami alur cerita dengan pasti.

Aktus yang berdurasi satu jam lima belas menit ini berakhir tepat pukul 21.30 dan ditutup dengan doa dan berkat penutup dari RD. Polce Lewar selaku moderator panitia paskah 2019 (Anchik Sabar).

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng