22.9 C
New York
Tuesday, September 27, 2022

Percaya dan Taat kepada Allah meski Tak Seorang Pun Pernah Melihat-Nya

Percaya dan Taat kepada Allah meski Tak Seorang Pun Pernah Melihat-Nya: Renungan Harian, 28 April 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Kis. 5:27-33; Injil: Yoh. 3:31-36

Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Begitu salah satu definisi dari kata ‘percaya’ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Umumnya, orang akan percaya terhadap sesuatu atau terhadap suatu berita hanya kalau dia sendiri sudah melihat bukti dari sesuatu itu atau sudah mengalami secara langsung peristiwa atau kejadian yang diberitakan tersebut. Pertanyaannya: apakah percaya harus melihat dulu? Jawabannya: tidak harus. Banyak hal atau kejadian di dunia ini tidak kita lihat dan atau alami sendiri, tapi kita percaya bahwa itu memang benar atau nyata ada dan terjadi karena ada orang lain yang memberikan kesaksian kepada kita tentangnya.

Sebagai contoh, kebangkitan Yesus. Kita sendiri tidak melihat dan atau mengalami peristiwa itu, tapi toh kita percaya bahwa itu memang benar ada atau nyata terjadi karena ada  orang-orang yang menjadi saksi mata dari peristiwa itu. “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis. 5:32). Jadi, kita menjadi percaya terhadap kebangkitan Yesus karena kesaksian Para Rasul sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci yang diwartakan kepada kita hingga saat ini.

Nah bagaimana jika kita sendiri tidak melihat dan atau mengalami, juga tidak ada saksi, apakah kita masih bisa tetap percaya? Jawabannya: tentu saja ya dan harus. Ingat kata-kata Yesus kepada Tomas: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Itulah iman. Sebab, ‘iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat’ (Ibr. 11:1). Tuhan Yesus mengajak Tomas dan kita juga untuk beriman melampaui hal yang dapat dicerna oleh akal budi dan indera kita. Dengan demikian, iman terbesar yang bisa kita miliki adalah kemampuan untuk percaya tanpa harus melihat dulu.

Dalam Surat Pertama Yohanes dikatakan ‘tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita’ (1 Yoh. 4:12). Maksudnya, pada dasarnya kita, manusia, cenderung egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Allahlah yang menggerakkan hati kita untuk saling mengasihi. Selama kasih itu masih mengalir di hati kita, kita harus percaya bahwa Allah ada dan diam di dalam kita.

Kalau sudah percaya, lebih lagi, jika sudah beriman, hal berikutnya yang harus kita lakukan adalah taat kepada-Nya. Sebab, percaya saja atau beriman saja, tidaklah cukup kalau tidak diikuti oleh sikap taat. Percaya atau beriman kepada Allah, dan taat melaksanakan kehendak-Nya – itulah bentuk sikap yang seharusnya lahir dari masing-masing kita. Ingat, ‘barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya’ (Yoh. 3:36). JK-IND

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini