10.4 C
New York
Monday, April 12, 2021

Yang Perlu Diketahui tentang Perayaan Perjamuan Malam Terakhir Yesus Bersama Murid-Murid-Nya

 Agar umat beriman memiliki pemahaman yang cukup tentang perayaan Perjamuan Malam Terakhir Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya, saya mengutip langsung apa yang tertulis dalam Dokumen Gerejawi no. 71 berjudul “Perayaan Paskah dan Persiapannya” tentang perayaan tersebut. Dokumen ini dikeluarkan pada 16 Januari 1988. Uraian secara singkat tentang Kamis Putih terdapat pada nomor 44-57. 

*** 

44. Dengan Misa petang Kamis Putih “Gereja mengawali Tri Hari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dikhianati, karena cinta akan orang-orangnya yang di dunia, Ia mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga mempersembahkannya sebagai kurban”.

45. Perhatian sepenuhnya harus diberikan kepada misteri-misteri yang peringatannya dirayakan dalam Misa ini: pengadaan ekaristi dan imamat serta perintah kasih persaudaraan; itulah yang juga harus menjadi bahan homili hari ini.

46. Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan petang hari, pada waktu yang paling sesuai untuk partisipasi seluruh jemaat. Semua imam dapat berkonselebrasi dalam Misa petang, juga bila mereka pada hari ini telah berkonselebrasi dalam Misa krisma atau karena alasan pastoral harus merayakan Misa lain.

47. Bila dituntut keadaan pastoral, Ordinaris wilayah dapat memperkenankan Misa petang kedua di gereja-gereja dan kapel-kapel umum. Bagi kaum beriman yang tak dapat mengambil bagian dalam Misa petang, ia dapat, bila perlu, memperkenankan Misa juga pagi hari. Misa demikian itu tak pernah boleh diperkenankan untuk orang perorangan atau kelompok-kelompok kecil atau mempengaruhi partisipasi Misa utama petang hari. Menurut tradisi kuno Gereja pada hari ini semua Misa tanpa jemaat dilarang.

48. Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrasi dalam perayaan kurban ini. Jumlah hosti yang harus dikonsekrasi harus cukup juga untuk komuni pada Jumat Agung.

49. Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus dipersiapkan kapel dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi; dianjurkan suatu kesederhanaan yang sesuai dengan hari-hari ini, sedangkan semua penyelewengan harus dihindari. Bila tabernakel berada dalam kapel tersendiri yang terpisah dari ruang utama gereja, dianjurkan menyediakan tempat penyimpanan dan penyembahan di situ.

50. Sementara “Gloria” dinyanyikan, lonceng-lonceng dibunyikan, bila lazim, dan setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah, kecuali jika ditentukan lain oleh Konferensi Waligereja atau Uskup setempat. Selama waktu itu juga orgel dan alat musik lain hanya boleh dipakai untuk mendukung nyanyian.

51. Pada hari ini sesuai dengan tradisi diadakan pencucian kaki pada pria-pria yang terpilih; maksudnya ialah untuk menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang, “tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Kebiasan ini hendaknya dipertahankan dan maksudnya diterangkan kepada kaum beriman.

52. Untuk persembahan dapat diadakan sumbangan bagi kaum miskin, terutama bila dikumpulkan selama masa Prapaskah sebagai buah matiraga; dalam pada itu orang menyanyi “Ubi caritas est vera”.

53. Amat layaklah pada hari ini para diakon, akolit atau pembantu komuni menyambut komuni langsung dari altar, pada saat komuni, untuk kemudian membawanya kepada orang sakit, agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan.

54. Setelah doa penutup diadakan prosesi. Sakramen Mahakudus dibawa melalui gereja ke tempat penyimpanan; pembawa salib terdepan, diikuti pembawa lilin dan dupa; Madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilaksanakan, bila keesokan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan perayaan Sengsara dan Wafat Kristus.

55. Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup. Pentakhtaan dengan monstrans tak diperkenankan. Tempat penyimpanan tak boleh berbentuk “makam suci”; hendaknya juga dihindari ungkapan “makam suci”; tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni pada Jumat Agung.

56. Kaum beriman hendaknya diajak untuk setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Dalam pada itu dapat dibacakan sebagian dari Injil Yohanes (bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari Sengsara Tuhan sudah mulai.

57. Setelah Misa altar ditutupi. Salib-salib bila mungkin diselubungi dengan kain merah atau ungu, bila tidak, sudah terjadi Sabtu sebelum Minggu Prapaskah ke 5. Di depan gambar para Kudus tak boleh dinyalakan lilin. ***

 

Sumber: Dokumen Gerejawi No. 71, “Perayaan Paskah dan Persiapannya” (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Januari 2005).

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,547FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini