Zakheus Pemungut Cukai Bertobat setelah Bertemu Yesus

0
294

Zakheus Pemungut Cukai Bertobat setelah Bertemu Yesus: Renungan Harian Katolik, Selasa 19 November 2019JalaPress.com; Injil: Luk. 19:1-10

Tuhan mengashi kita, entah seperti apapun kita bentuknya, sifatnya, juga perbuatannya. Lalu pertanyaannya: bagaimana kalau manusia itu jatuh ke dalam dosa, apakah Tuhan tetapi mengasihi-Nya? Mazmur bilang: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya” (Mzm. 145:8).

Tapi, ingat, mengasihi tidak sama dengan membiarkan. Mengasihi itu juga berarti mendidik, misalnya dengan cara menasehati atau menegur. Kitab Suci bilang, “Dari sebab itu, orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit. Mereka Kautegur dengan mengingatkan dalam hal mana mereka sudah berdosa” (Keb. 12:2).

Ketika kita menyimpang dari jalan-Nya, Ia tidak menghakimi dan tidak menghukum kita. Tapi, sebaliknya, Ia tetap mengasihi dan mengampuni. Ia memberi kita kesempatan kedua untuk bertobat. Dengan harapan agar kesempatan kedua yang diberikan-Nya itu sungguh-sungguh dipakai untuk memperbaiki cara hidup lama yang salah. Hanya kadang-kadang, kita manusia, biar pun diberi kesempatan berkali-kali tetap saja jatuh, bahkan jatuh di lobang yang sama terus.

Injil hari ini menawarkan kepada kita contoh orang yang menggunakan kesempatan kedua dari Tuhan dengan baik. Orang itu adalah Zakheus. Dia seorang pemungut cukai, bahkan kepala pemungut cukai. Zaman dulu, pemungut cukai dicap sebagai pendosa; karena merampas duit orang. Dan, Zakheus pekerjaannya itu. Bahkan ia kepalanya. Kepala dari semua pendosa.

Seorang pendosa seperti Zakheus tidak pernah membayangkan bahwa Yesus mau mampir ke rumahnya. Ia mendengar kabar bahwa Yesus melintas di kota Yerikho, daerah tempat ia tinggal. Ia antusias untuk melihat orang seperti apakah Yesus itu. Besar kemungkinan ia sudah mendengar banyak cerita tentang Yesus, tetapi secara pribadi belum pernah melihat langsung. Uniknya, ia sampai harus naik ke atas pohon karena secara fisik memang pendek.

Ia tidak berharap bertemu; melihat dari jauh saja sudah cukup, pikirnya. Tapi apa yang terjadi? Yesus melihat usahanya dan bilang: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk. 19:5). Hati siapa yang tidak luluh ketika mendapat pengalaman seperti ini?

Tuhan selalu memberi lebih dari apa yang kita harapkan. Zakheus hanya berharap melihat dari jauh, tapi Tuhan Yesus ternyata mau datang ke rumahnya. Kita melihat perubahan apa yang terjadi?

Zakheus yang dikenal sebagai kepalanya pendosa itu berubah seratus delapan puluh derajat. Ia berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk. 19:8).

Kita harus mencontoh sikap Zakheus. Yesus sudah datang ke tengah-tengah kita untuk menyelamatkan kita. Kita memang berdosa; bahkan sangat berdosa. Tidak apa-apa. “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Tapi, satu hal diminta dari kita: yaitu ketika Tuhan mengasihi dengan memberi kita kesempatan kedua, Ia mau kita bertobat. Tuhan mau ada perubahan besar terjadi di dalam hidup kita.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.