Bersahaja dan Rendah Hati, Sosok Yohanes Maria Vianney

Bersahaja dan Rendah Hati, Sosok Yohanes Maria Vianney: Renungan Hari Selasa, 04 Agustus 2026 — JalaPress.comBacaan I: Yer. 30:1-2,12-15,18-22; Injil: Mat. 15:1-2,10-14

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat begitu menekankan aturan dan tradisi lahiriah. Mereka memperhatikan hal-hal yang tampak dari luar, tetapi sering kali melupakan hal yang jauh lebih penting, yaitu keadaan hati.

Lantas, apa kata Yesus? Bagi Yesus, kehidupan yang berkenan kepada Allah tidak pertama-tama diukur dari apa yang tampak di hadapan orang lain, melainkan dari apa yang ada dan tumbuh di dalam hati. Ia berkata:

“Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Perkataan ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita katakan, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita bertindak dalam kehidupan sehari-hari merupakan cerminan dari isi hati kita.

Hati yang dipenuhi kasih akan melahirkan kata-kata yang meneguhkan, tindakan yang penuh belas kasih, dan sikap yang mau mengampuni. Sebaliknya, hati yang dikuasai iri hati, kesombongan, kebencian, dan kepentingan diri sendiri perlahan-lahan dapat menjauhkan kita dari Allah dan sesama. Karena itu, kita perlu selalu menjaga hati.

Santo Yohanes Maria Vianney, yang kita peringati pada hari ini, merupakan satu di antara banyak tokoh yang menjadi teladan dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Hidupnya dipenuhi dengan kesetiaan dalam tugas-tugas sederhana: merayakan Ekaristi, melayani umat, berdoa, mendengarkan pengakuan dosa, dan menuntun banyak orang kembali kepada kasih Allah.

Kesederhanaan dan kerendahan hatinya mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak mencari orang yang hebat menurut ukuran dunia, melainkan hati yang terbuka dan mau dipakai oleh-Nya. Kadang kita berpikir bahwa untuk menghadirkan Kerajaan Allah kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Namun, teladan Santo Yohanes Maria Vianney menunjukkan bahwa senyum yang tulus, kesediaan mendengarkan, pengampunan yang diberikan, dan pelayanan kecil yang dilakukan dengan kasih dapat menjadi jalan hadirnya Tuhan di tengah dunia. Semoga kita tidak hanya memperhatikan penampilan luar kehidupan iman kita, tetapi sungguh menjaga kebersihan hati agar melalui perkataan dan perbuatan kita, orang lain dapat merasakan kasih Tuhan. Amin.

Jufri Kano, CICM
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Ikuti Kami

121,000FansLike
2,601FollowersFollow
781FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini