10 C
New York
Sunday, November 27, 2022

Doa Rosario: Doa yang Berpusat pada Kristus

Saat ini umat beriman katolik sedang berada dalam Oktober, yang oleh Gereja Katolik ditetapkan sebagai Bulan Rosario. Ini kesempatan istimewa untuk Berdoa Rosario. Ini juga bulan istimewa untuk bergabung dengan keluarga, lingkungan atau Kelompok Basis Gerejawi (KBG) dalam doa Rosario bersama, tentu jika situasi memungkinkan. Ini kesempatan untuk mempererat tali persekutuan dan persaudaraan sebagai umat beriman.

Tentang Doa Rosario, saya teringat pada Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II yang dikeluarkan tanggal 16 Oktober 2002 yang berjudul, “Rosario Santa Perawan Maria/Rosarium Virginis Mariae (RVM).” Dalam Surat Apostolik itu, Paus Yohanes Paulus II berkata, “Memang jelas, doa rosario berciri khas Maria. Tetapi pada intinya rosario adalah doa yang kristosentris. Dalam unsur-unsurnya yang sederhana, doa rosario menampilkan saripati amanat Injil secara utuh; dengan demikian doa rosario dapat dikatakan sebagai ringkasan seluruh Injil. Dengan doa rosario orang kristiani berguru di sekolah Maria: mereka dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Berkat doa rosario kaum beriman menerima rahmat berlimpah lewat tangan Bunda Penebus sendiri” (RVM 1).

Melalui kutipan ini, Paus Yohanes Paulus II menyadarkan kita bahwa doa rosario itu berpusat pada Kristus (kristosentris). Dialah satu-satunya penyelamat kita. Doa rosario, walau berciri khas Maria, tetapi tidak berpusat pada Maria (mariasentris), sebab dia bukan Tuhan, dia bukan penyelamat kita. Tapi dia adalah Bunda Yesus Kristus, Penyelamat kita. Dia akan membawa kita pada Yesus, Putranya. Dia telah diserahkan kepada kita oleh Yesus Putranya dan kita juga telah diserahkan kepadanya oleh Putranya (bdk Yoh. 19:25-27). Karena itu, Maria tak hanya Bunda Yesus, penyelamat kita, dia juga bunda kita para pengikut Yesus; dia bunda Gereja. Bagi kita orang Katolik, dekat dengan Maria dan menghormatinya secara pantas adalah amanat Yesus sendiri.

Berguru pada Sekolah Maria

Ketika berdoa rosario, kata Paus Yohanes Paulus II, kita berguru pada sekolah Maria: kita dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Ketika menatap wajah Kristus dengan penuh iman, kita akan menjadi serupa dengan-Nya. Inilah tujuan akhir ziarah iman kita: menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus berarti kita semakin mengimani-Nya dan semakin mampu menghayati ajaran dan kehendak-Nya setiap hari. Kita memancarkan wajah Kristus kepada orang-orang di sekitar. Bahkan mereka bisa semakin mengimani dan mencintai Kristus berkat kesaksian hidup kita.

Ringkasan Injil

Paus juga menegaskan bahwa doa rosario itu ringkasan seluruh Injil. Mari kita perhatikan peristiwa-peristiwa yang kita renungkan dalam doa rosario. Peristiwa Gembira, Sedih, Cahaya dan Mulia yang kita renungkan, semuanya menggemakan amanat Injil. Kita merenungkan misteri hidup Kristus dan Bunda-Nya yang terdapat dalam Injil maupun yang terinspirasi dari Injil. Harapannya setelah merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut, kita semakin memahami Injil dan semakin dekat dengan Yesus dan Maria Bunda-Nya. Jika sudah merasa dekat, itu berarti bahwa iman kita sudah semakin bertumbuh. Semakin bertumbuh artinya kita semakin mengandalkan Yesus dan semakin percaya pada peran Bunda Maria sebagai ibu yang menuntun kita dalam ziarah menuju persatuan dengan Yesus Kristus, Putranya. Harapannya, kita mendapatkan rahmat-rahmat yang kita butuhkan dalam hidup ini melalui tangan Maria berkat ketekunan kita dalam berdoa rosario.

Kepada Yesus melalui Maria

Doa rosario memang sarana yang mengarahkan kita pada persatuan dengan Kristus. Kita tentu sudah terbiasa dengan ungkapan ini: Per Mariam ad Jesum (Kepada Yesus melalui Maria). Tujuan akhir ziarah iman kita adalah persatuan dengan Yesus. Agar bisa berziarah dengan baik dan sampai pada tujuan akhir tersebut, kita berziarah bersama Maria ibu-Nya sekaligus ibu kita. Inilah juga yang seharusnya kita sadari saat doa rosario. Kita sedang berziarah menuju Yesus melalui Maria. Siapapun yang berziarah bersama Maria menuju Yesus dengan sungguh-sungguh, ia tak akan dikecewakan.

Latar Belakang Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario

Kita boleh bertanya, mengapa Gereja Katolik menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario? Saya akan menguraikan secara singkat latar belakang atau alasan mengapa bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan Rosario.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, pasukan Katolik di bawah pimpinan Don Juan dari Austria menang atas pasukan dari Kerajaan Ottoman-Turki (Islam – Turki) di Lepanto-Italia. Waktu itu, pasukan Turki hendak menguasai Eropa dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan mereka. Pasukan Katolik kalah dalam hal jumlah pasukan dan juga perlengkapan perang. Menyadari situasi genting tersebut, Paus Pius V yang memimpin Gereja pada waktu itu, meminta seluruh umat Katolik agar berdoa Rosario: bahkan pada tanggal 7 Oktober tersebut Bapa Suci bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario sejak subuh sampai petang, di Roma. Ujudnya adalah memohon kepada Bunda Maria untuk membantu dan melindungi tentara Katolik yang sedang bertempur di Lepanto. Singkat cerita, pasukan Katolik menang. Oleh Gereja Katolik, kemenangan ini diyakini sebagai campur tangan Bunda Maria, Ratu Rosario. Setelah kalah dalam pertempuran itu, tentara Turki tidak lagi melanjutkan perjuangan mereka menguasai Eropa.

Sebagai ungkapan syukur atas peristiwa penting itu, Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Kemenangan. Kemudian dalam perjalanan waktu, peringatan ini diganti dengan nama Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Penetapan bulan Oktober sebagai bulan rosario baru dilaksanakan pada 1 September 1883 oleh Paus Leo XIII. Ia meminta agar selama bulan Oktober umat beriman di seluruh dunia berdoa Rosario agar Bunda Maria membantu Gereja dalam mengatasi ancaman yang sedang dihadapi pada masa itu. Melalui ensikliknya, Octobre mense, yang dikeluarkan pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menyatakan bahwa bulan Oktober dibaktikan dan dikuduskan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Salah satu bentuk devosi kepada Maria yang dilakukan pada bulan ini adalah berdoa rosario.

Selamat melanjutkan doa rosario baik secara pribadi maupun secara bersama dalam keluarga, lingkungan/KBG, atau kelompok/komunitas lainnya. Teruslah berziarah menuju Yesus melalui dan bersama Maria. Per Mariam ad Jesum! Ave Maria!***

RP Lorens Gafur, SMM
Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM). Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini