Refleksi ini didasarkan pada Kitab Keluaran 23:1-2, 7-8
Akhir-akhir ini, yang namanya kabar bohong atau hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian seolah-olah menjadi hal yang lumrah. Kita bisa melihat kenyataan ini di media sosial; sebab semuanya bertebaran di sana tanpa ada yang menyaring. Padahal, Allah sudah melarang tindakan yang tidak terpuji itu jauh sebelum manusia mengenal yang namanya media sosial.
[postingan number=3 tag= ‘salib’]
Allah melarang kita supaya jangan pernah menjadi penyebar apalagi pencetus hoaks atau kabar bohong. Kita harus berlaku jujur di hadapan Allah dan sesama. Allah berfirman: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (Kel. 23:1a).
Bayangkan, sejak lama Allah sudah melihat bahwa suatu saat kemungkinan seperti ini pasti terjadi; dan ini sudah terbukti pada zaman kita. Sekarang, kasus penyebaran hoaks atau kabar bohong marak terjadi di mana-mana. Pencetus dan penyebarnya berasal dari hampir semua tingkatan umur: mulai dari yang tua, muda, hingga anak-anak. Makanya, saat ini, orang semakin susah membedakan mana kabar bohong dan mana kabar yang sebenar-benarnya.
Allah juga menginginkan supaya kita tidak menciptakan fitnah atas siapapun juga. Jika ya katakan ya, atau jika tidak katakan tidak. Allah berfirman: “Janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta” (Kel. 23:1b, 7a).
Rasa-rasanya, saat ini, dengan gampangnya orang memberikan kesaksian palsu. Fakta diputarbalikkan seenak jidat. Kejujuran hampir merosot. Uang bisa memanipulasi kejujuran sehingga yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar. Sumpah tidak lagi menjamin kejujuran. Fitnah tumbuh subur.
Allah berfirman: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (Kel. 23:1a).
Ketika ada orang melakukan kesalahan di media sosial, hampir tidak ada satu pun orang yang mengatakan itu salah. Yang ada hanya ‘LIKE’ dan ‘EMOTICON’. Makanya, tidak heran jika ada orang berpendapat bahwa sebenarnya media sosial membuka ruang bagi terciptanya ‘kejahatan berjamaah’.
Semua orang ikut ditarik untuk melakukan kejahatan yang sama. Seolah-olah itu normal-normal saja. Entah suara hatinya tumpul atau bagaimana. Itu yang terjadi saat ini. Kejahatan dilakukan secara beramai-ramai. Kejahatan yang tidak kurang dahsyatnya di media sosial adalah munculnya ujaran kebencian. Padahal, Allah sudah bersabda: “Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan” (Kel. 23:2a).
Kita berharap agar pencetus dan penyebar hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian ditindak tegas. Namun, sayangnya, hukum sekarang juga seolah mudah dibelokkan. Tergantung siapa yang suaranya paling keras. Meski sebenarnya salah, tetapi kalau mayoritas mengatakan tidak, maka orang bersangkutan tidak akan dihukum.
Suara mayoritas seringkali berada di atas fakta hukum. Maka, kata Allah: “Dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum. Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar” (Kel. 23:2b, 8).
Apa hendak dikata, setiap hari kita disuguhkan sejuta berita. Ada yang baik, ada juga yang isinya hanya hoaks, fitnah dan ujaran kebencian. Sekarang, berita yang seharusnya berisi realita, justru kebanyakan berisi ‘fiksi’ yang tentu saja sudah pasti fiktif. Maka dari itu, Kitab Suci, yang berisi wahyu Allah, dan bukan fiksi atau kayalan, meminta kita supaya berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, terutama dalam menggunakan media sosial yang kita punyai saat ini. Amin.


