Katolik Maronit
Kepatriarkhan Anthiokhia adalah Gereja yang berdasarkan tradisi dan didirikan oleh Santo Petrus dan Paulus sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul XI.
Didalam pasal tersebut juga tertulis bahwa “Di Antiokhialah murid-murid itu disebut Kristen”. Santo Evodius adalah Uskup Antiokhia yang memegang suksesi Apostolik sampai tahun 66 Masehi, kemudian dilanjutkan oleh Santo Ignatius dari Antiokhia.
Kepatriarkhan Antiokhia yang berlandaskan tradisi Santo Petrus dan Paulus dimiliki oleh sejumlah Gereja Katolik Timur: diantaranya, Patriarkhat Melkit, Patriarkhat Syria dan Patriarkhat Maronit.
Pengikut Jejak Santo Maron
Pada abad ke-empat, hiduplah seorang petapa bernama Maron. Dia hidup saleh dan meninggal pada tahun 410 Masehi. Santo Maron adalah teman dari Santo Yohanes yang disebut Krisostom atau Mulut Emas, Sang Patriarkh Konstantinopel dan Bapa Gereja yang masyhur. Santo Maron terkenal sebagai pribadi yang berkarisma.
Beberapa tahun sepeninggal Santo Maron, bahkan 800 biarawan mengambil jalan hidup menurut tauladan Santo Maron. Mereka ini dikenal sebagai Maronit. Para Maronit membangun biara diantara Aleppo dan Antiokhia dan mengabarkan Injil disana. Pada abad ke-lima, para Maronit menerima dengan sepenuhnya doktrin Kristologis dari Konsili di Kalsedon.
Oleh sebab invasi Muslim pada abad ke-tujuh sampai ke-sepuluh, berbagai macam konflik yang terjadi didalam Kekaisaran Byzantium, memaksa para Maronit untuk hijrah dari tanah Syria, gereja dan Biara mereka ke tempat perlindungan alami, yaitu ke pegunungan Libanon. Disana mereka pertama-tama hidup di grotto-grotto dan gua-gua. Kemudian hari mereka membangun gereja-gereja kecil dan biara-biara.
Pada abad ke-delapan, Maronit berkembang dengan sangat pesat meskipun di lingkungan yang sangat terasing di pegunungan Libanon. Oleh karena perkembangan ini, maka para Maronit ini berkembang menjadi suatu Gereja yang mandiri dan memiliki Uskup, yang kemudian mengambil gelar Patriarkh Antiokhia dan Segenap Timur.
Tetap Satu Komuni Dengan Paus Roma
Maronit membuka komunikasi dengan Gereja Latin pada abad ke-duabelas. Pada tahun 1182, segenap Maronit mengonfirmasi persatuan mereka dengan Takhta Suci Santo Petrus di Roma. Para Maronit memegang kepercayaan bahwa Gereja Maronit tidak pernah memutuskan hubungan dengan Takhta Suci Roma.
Patriarkh Jeremias II Al-Amshitti adalah Patriarkh Maronit pertama yang mengunjungi Roma, ketika dia menghadiri Konsili Lateran ke-empat pada tahun 1215. Peristiwa ini menandai awal hubungan erat dengan Takhta Suci Roma, tetapi juga permulaan Latinisasi yang berkelanjutan.
Kehidupan Gereja Maronit
Sinode Reformasi Utama mengambil tempat di Bukit Libanon pada tahun 1736. Disana terurai serangkaian Hukum Kanonik Gereja Maronit yang lengkap, membentuk struktur Keuskupan untuk kali pertama, dan menetapkan garis-garis besar kehidupan Gerejani Maronit yang dijalankan sampai saat ini.
Pada abad ke-sembilan belas, kekuasaan kerajaan-kerajaan barat, teristimewa Perancis, mulai menawarkan perlindungan kepada Gereja Maronit, ditengah-tengah kekuasan Kekaisaran Utsman. Pembantaian ribuan Maronit pada tahun 1860 memicu Perancis untuk mengintervensi dengan angkatan bersenjatanya. Usai Perang Dunia I, baik Libanon maupun Syria berada dibawah kendali Perancis.
Tatkala Perancis menganugerahi kemerdekaan penuh kepada Libanon pada tahun 1943, dibebankan juga peraturan yang menjamin keamanan untuk komunitas Maronit tetap menjadi mayoritas, dan agar Presidennya selalu seorang Maronit. Tetapi hal ini tidak bertahan lama, setelah perang sipil yang berlangsung di Libanon pada tahun 1975. Kristen tidak lagi menjadi agama mayoritas, lagipula banyak Maronit meninggalkan Libanon untuk menjalani hidup yang baru di Barat. Keutamaan Libanon sendiri akhirnya dipandang kurang penting.
Pada 7 September 1989, Santo Paus Yohanes Paulus II mengangkat isu dalam Surat Gembalanya mengenai situasi di Libanon kepada segenap Uskup Gereja Katolik. Sang Santo menulis : “Tanpa ragu, hilangnya Libanon akan menjadi dukacita dunia yang besar” dan mengatakan bahwa Libanon adalah “salah satu dari tugas-tugas penting dan dermawan yang harus diperhatikan oleh dunia sekarang ini.” Perang sipil kemudian berakhir pada tahun 1990, tetapi banyak kerugian yang dialami negara itu. Santo Paus Yohanes Paulus II kemudian menghimpunkan Sinode Para Uskup demi kepentingan Libanon, dan Sang Santo sendiri mengunjungi Libanon pada bulan Mei 1997.
Dengan situasi yang baru di Libanon, dibukalah Dialog Kepatriarkhan Maronit selama tiga tahun, dimulai dari Juni 2003. Tujuannya adalah untuk menemukan kembali warisan dan tradisi Gereja Maronit, menemukan jati diri Maronit, mempromosikan pembaruan cara hidup gerejani, serta mengukuhkan kembali keutuhan Gereja Maronit.
Takhta Kepatriarkhan dan Tradisi Maronit
Sejak 1790 Takhta Kepatriarkhan Maronit bertempat di Bkerke, 25 mil jauhnya dari Beirut. Pada saat ini ada sepuluh Keuskupan di Libanon dengan delapan ratus paroki, dan tujuh yuridiksi di Timur Tengah.
Liturgi Maronit mengambil asal dari tradisi Syria Barat, tetapi juga memiliki pengaruh dari Syria Timur, dan seperti yang ditulis diatas, memiliki pengaruh dari Latin. Tata Liturgi Ekaristi dirayakan dengan bentuk Liturgi yang ditulis oleh Santo Yakobus, Rasul.
Liturgi Ekaristi sering disebut dengan nama yang berbeda-beda. Dalam bahasa Syria disebut: “Qurbono”, dalam bahasa Arab disebut: “Quddas”, terkadang juga disebut: “Kurban Misa”, “Liturgi Ilahi”, ataupun “Pelayanan Misteri Kudus”.
Konsekrasi Dengan Bahasa Aram
Bahasa yang digunakan dalam Liturgi umumnya adalah bahasa Syria, dan bahkan konon kata-kata konsekrasi yang diucapkan oleh Imam adalah kalimat yang persis diucapkan kata per-kata oleh Tuhan Yesus Kristus kepada para Rasul dalam bahasa Aram yang tidak diterjemahkan.
Berikut, kata-katanya:
“Sab akhoul meneh koul-khoun: hono dein itow faghro dil. DaHlofaikoun waHlof sagiye met(e)qse (ou)metiheb lHousoyo dHowbe walHaye dal ‘olam ‘olmin.”
(Ambil dan makanlah kamu semua: ini tubuh-Ku yang terpecahkan dan diserahkan bagi kamu dan banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa dan untuk hidup yang kekal)
“Sab eshtow meneh koul-khoun: hono dein itow dmo dil ddiyatiqi Hdato. daHlofaikoun waHlof sagiye meteshed (ou)metiheb lHousoyo dHowbe walHaye dal ‘olam ‘olmin.”
(Ambil dan minumlah dari sini kamu semua: ini darah-Ku, darah suatu Perjanjian yang baru yang tertumpah bagi kamu dan banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa dan untuk hidup yang kekal).
Berbeda dengan interpretasi oleh Gereja lain, Gereja Maronit tidak menerjemahkan “banyak orang” dalam kata-kata diatas yang merujuk kepada “semua orang”.
Arti dari hidup yang kekal adalah sama dengan kata ” saecula saeculorum” dalam Latin, atau dari abad ke abad.
Dalam Liturgi juga secara tradisional diyakini bahwa yang digunakan untuk Air-Anggur adalah piala (chalice) dan bukan sekadar cawan (cup).
Oleh sebab invasi Arab, kemudian hari sebagian besar ucapan dalam Liturgi (selain kalimat dalam Anafora) dituturkan dengan bahasa Arab.
Ikonografi
Ikonografi dalam Gereja Maronit mengambil akar yang sama dengan Gereja-gereja lainnya, yaitu memiliki dasar dari Ikon yang tidak dibuat oleh tangan dari Edessa, dan Ikon yang dilukiskan oleh Santo Lukas, Penginjil.
Ikonografi Gereja Maronit selain mengalami penyederhanaan, juga mengalami inkulturasi yang besar dan penyesuaian dengan gaya Syria yaitu ras yang dimiliki oleh mayoritas para Maronit.
Sumber: “Lembaga Penelitian Santo Dimitry – Rumah Byzantin”


