1.9 C
New York
Monday, January 12, 2026

Allah Berbicara, Manusia Menanggapinya

Allah tidak henti-hentinya menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Itulah yang kita sebut dengan istilah ‘WAHYU’. Wahyu adalah pernyataan diri Allah kepada manusia.

Bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya? Pertama-tama melalui para Nabi. Dalam Perjanjian Lama kita banyak kali mendengar bagaimana para Nabi berbicara dengan Allah. Sayangnya, mereka tidak melihat wajah Allah itu. Seperti TV rusak, ada suara tapi tidak ada gambar. Mereka mendengar suara Allah dan berbicara dengan-Nya; tapi tidak melihat wajah-Nya. Kemudian, Allah yang semula tidak kelihatan itu mewahyukan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus. Dia adalah pemenuhan seluruh wahyu yang pernah disampaikan sebelumnya.

Melalui Yesus, Allah yang tadinya hanya didengar suara-Nya, akhirnya bisa dilihat juga wajah-Nya. Bukan hanya itu. Ia juga bisa menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya, bergaul dengan mereka, dan mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Lantas, bagaimana kita menanggapi wahyu Allah itu? Tidak ada cara lain, kecuali dengan menunjukkan ‘ketaatan iman’. Iman adalah tanggapan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Dengan iman, kita menerima kebenaran wahyu.

Iman ini harus diteruskan. Tidak boleh berhenti di tangan kita. Allah telah menetapkan bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada semua keturunan-Nya. Para rasul mewartakan Sabda Tuhan dengan dua cara, yaitu secara lisan dan tertulis, dan yang lisan ini disebut Tradisi Suci. Dengan demikian, wahyu Allah itu bukan hanya disampaikan melalui Kitab Suci, tetapi juga melalui Tradisi Suci.

Mengapa mesti ada Tradisi Suci? Penginjil Yohanes, pada bagian akhir Injilnya menuliskan: “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).

Makanya, jika kita perhatikan, ada banyak hal yang menjadi praktik umum di dalam Gereja Katolik tidak ditemukan referensinya dalam Kitab Suci. Tetapi semua itu sudah berkembang secara turun-temurun sejak zaman para rasul. Praktik-prakti itu sampai kepada kita melalui Tradisi Suci. Jadi, Tradisi Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah Tradisi Apostolik, yaitu Tradisi yang diperoleh dari para rasul, yang diperintahkan oleh Kristus untuk mewartakan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20).

Contoh Tradisi Suci adalah: 1) Doktrin- doktrin yang diajarkan Gereja Katolik melalui Konsili- konsili; 2) Doktrin/ajaran yang diajarkan oleh Bapa Paus, selaku penerus Rasul Petrus, dan yang juga diajarkan oleh para uskup dalam kesatuan dengan Bapa Paus; 3) Tulisan pengajaran dari para Bapa Gereja dan para orang kudus (Santo/Santa) yang sesuai dengan pengajaran Magisterium; 4) Katekismus Gereja Katolik; 5) Liturgi dan sakramen-sakramen.

Siapa yang berwenang menafsirkan Sabda Allah? Ini pertanyaan yang sering ditanyakan oleh umat. Banyak di kalangan umat beriman mengira bahwa umat tidak boleh menafsirkan Sabda Allah. Bahkan, ada juga yang mengatakan umat tidak boleh membaca Kitab Suci.

Perlu kita ketahui bahwa tidak ada larangan menafsirkan Sabda Allah, apalagi larangan membaca Kitab Suci. Justru sebaliknya, kita didorong terus-menerus supaya rajin membaca Kitab Suci.

Yang dimaksudkan dengan ‘berwenang’ di sini adalah otoritas yang memberikan penafsiran resmi Gereja. Bahwasanya, masing-masing kita boleh menafsirkan Sabda Allah, tetapi Gereja memegang otoritas tunggal untuk memberikan penafsiran resmi. Itulah yang disebut dengan wewenang mengajar Gereja atau Magisterium.

Bayangkan saja jika tidak ada otoritas semacam itu. Semua orang menafsirkan sendiri-sendiri dan beranggapan bahwa tafsirannya yang paling benar. Jika itu yang terjadi, hancurlah Gereja ini. Gereja tidak mau seperti itu. Kita boleh saja menafsirkan sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya tafsiran kita itu tidak boleh bertentangan dengan penafsiran resmi Gereja.

Bukti bahwa kita boleh menafsirkan Sabda Allah, misalnya dalam sharing Kitab Suci. Dalam sharing itu, masing-masing kita memberikan penafsiran sendiri-sendiri. Tidak ada yang melarang kita di sana. Tetapi, tafsiran kita itu tidak pernah dijadikan acuan untuk yang lain. Begitu maksudnya.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini