Kita dahulu saling memperhatikan dan mencintai satu sama lain. Kita tidak menyia-nyiakan waktu, karena waktu terlalu berharga untuk berlalu begitu saja. Hari terus berganti dan sikapmu pun berubah. Kata-katamu semakin pahit dan sikapmu menjadi kasar.
Tak mudah bagiku untuk menerima semua ini dan menyembuhkan luka yang kamu torehkan. Tak mudah sembuh hanya dengan ucapan maaf di bibir atau dengan setangkai mawar indah atau seperangkat alat canggih. Tapi aku mau setia dan berharap kamu sadar.
Di manakah kebahagiaan kita yang dulu? Sudahkah kamu gadaikan demi prestasi atau jabatan, relasi atau simpanan atas nama kebanggaan dan kenikmatan? Tidakkah kamu sadari bahwa dibalik kesuksesan seorang suami, terdapat kehebatan seorang istri?
Kamu menyebut kesuksesan sebagai usahamu semata. Ya, aku sadar, tidak banyak hal yang kukatakan atau kubuat. Aku hanya bisa berdoa dan melakukan hal terbaikku sebagai seorang istri.
Kamu juga begitu anggun dan menawan kala berbicara dengan perempuan lain. Dan aku harus menahan gejolak untuk menangis di hadapan kalian. Lutut dan tanganku gemetar, antara amarah dan pedih.
Begitulah caramu menawarkan madu untuk menarik simpati orang lain, sedang aku kamu taburi racun. Dan jiwaku merontah, ‘Itu tidak adil’.
Tapi bagaimanapun juga, melewati waktu, aku akan bertahan dalam kesetiaan, karena kesetiaan menuntut tebusan. Tubuh dan batin ini menjadi tebusan. Dan aku menunggu saatnya ketika kamu sadar bahwa aku adalah orang yang setia di sampingmu setiap waktu. Somoga kamu paham, sebelum aku mati!
P. Joseph Pati Mudaj, Msf


