0.6 C
New York
Monday, January 12, 2026

Laku Puasa Katolik

Pertama, pernyataan puasa Katolik itu bukan soal makan dan minum harus diartikan bahwa dalam berpuasa, yang terpenting bukan soal jasmaniah, karena hal ini hanyalah sarana mencapai suatu tujuan. Maka, soal tidak makan dan tidak minum, tidak boleh dijadikan lebih penting daripada tujuan dari puasa itu sendiri. Puasa haruslah merupakan ungkapan pertobatan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama.

Dengan mengorbankan kenikmatan makanan dan minuman, kita membuat diri kita “lapar” akan Tuhan dan kehendak-Nya. Puasa membuat kita lebih terbuka dan peka terhadap kuasa Allah yang membebaskan dari keterlekatan kepada dosa, memperkuat sikap tegas kita melawan nafsu dosa, dan menyembuhkan luka-luka dosa. Tujuan batiniah inilah yang harus lebih diperhatikan dan ditekankan dalam menjalankan puasa.

Kedua, tujuan batiniah untuk mendekatkan diri kepada Allah tetap perlu diungkapkan secara lahiriah- jasmaniah, karena kita adalah makhluk berjiwa badan. Tirakat dan keprihatinan dengan tidak makan dan tidak minum mewujudkan dan mengkonkretkan niatan batiniah dan keseriusan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, tetap dibutuhkan peraturan Gereja sebagai acuan berkaitan dengan makan dan minum, meskipun hal ini bukan tujuan akhir berpuasa. Tirakat dan keprihatinan ini mengingatkan kita agar selama masa Prapaskah ini, makanan yang disediakan juga cukup sederhana, tak berlebihan, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Peraturan puasa dalam Gereja Katolik adalah peraturan yang berlaku bagi semua tingkatan usia, mulai dari yang termuda sampai tertua. Maka, peraturan ini sifatnya minimal. Puasa dalam Gereja Katolik wajib dilakukan dua kali selama masa Prapaskah, yaitu Rabu Abu dan Jumat Suci.

Puasa berarti boleh makan kenyang satu kali dalam sehari, sedangkan pada kesempatan lain boleh makan sedikit, tidak sampai kenyang. Persyaratan yang minimalis ini tentu bisa ditingkatkan melalui prakarsa pribadi, misal makan dan minum hanya dilakukan satu kali saja, bukan dua kali, dan di luar itu sama sekali tidak makan. Puasa juga bisa dilakukan bukan hanya dua kali, tapi sepanjang masa Prapaskah, selama 40 hari. Praktik puasa yang hanya makan satu kali dan selebihnya tidak makan dan minum itu sangat mirip dengan puasa Islam, tetapi tanpa sahur.

Ketiga, menurut ajaran Gereja Katolik, pertobatan kita “hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perseorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial-kemasyarakatan.” (SC 110). Ungkapan lahiriah tak makan dan tak minum saja belum cukup, jika tidak diungkapkan secara sosial-kemasyarakatan, seperti yang diungkapkan Nabi Yesaya, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah- mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-9). Tindakan-tindakan konkret diungkapkan bersama dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Keempat, puasa 40 hari masa Prapaskah kita ini didasarkan puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan- Nya (KGK 538-540; 2043). “Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” (KGK 540). Ada 40 hari biasa dari Rabu Abu sampai Sabtu Paskah. Hari Minggu tidak dihitung, karena itu Hari Tuhan

Penulis: P. Petrus Maria Handoko CM [Yang pernah dimuat dalam Majalah Hidup]

avatar
Silvester Detianus Gea
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu-Esiwa, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan Strata 1 (S1) Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Menyelesaikan Strata 2 (2023). Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut serta menulis dalam Seri Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (Antologi); “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), Ayahku Jagoanku, Anakku Permataku, Guruku Inspirasiku, Hidup Berdamai Dengan Corona Vol. IV, dan Jalan Kenangan Ibuku Vol. IV (2021), Autobiografi Mini Kisah-Kisah Hidupku (2022), Kuntum-Kuntum Kasih Sayang Vol. 3, Keluargaku Bahagiaku Vol. 2, Ibu Matahari Hidupku Vol. 1 (2023), Ibu Matahari Hidupku (2024), Menulis Itu Sehat & Hidup Itu Anugrah (2025), Ikut menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama penerbit Ethos Logos Pathos (2024-sekarang), Menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama PT. Mitra Laksana Pelita (2025-sekarang). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com dan floresnews.net(2018-sekarang), Author jalapress.com/, dan mengajar di Sekolah Tarsisius Vireta (Website:https://www.tarsisiusvireta.sch.id/) (2019-2024), menjadi Wakil Kepala Sekolah SD Tarsisius 1 (Juli 2024-sekarang), Wakabid. Marketing, Humas & Pengembangan Usaha, Yayasan Bunda Hati Kudus (2025) Penulis dapat dihubungi melalui: Email: detianus.634@gmail.com Facebook: Silvester Detianus Gea. Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465. Akun tiktok https://www.tiktok.com/@orang_muda.katolik1. Akun Youtube: https://www.youtube.com/@Degeasofficial. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/de-gea-000825389/.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini