Para Bapa Uskup Bertatap Muka dengan Para Frater Ritapiret

0
1212

Para bapa Uskup Se-Provinsi Gerejawi Ende bertatap muka dengan para frater Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret Maumere, bertempat di aula Seminari Ritapiret (Rabu, 20/3/2019). Tatap muka ini bukanlah sebuah perbincangan ilmiah, tetapi lebih pada sapaan hangat dari hati ke hati dari seorang bapak kepada anaknya. Perbincangan yang menyentuh hati dan menggugah rasa ini bukanlah sebuah kebetulan, tetapi sudah menjadi program tahunan para bapak Uskup se-Provinsi Gerejawi Ende untuk mengadakan rapat tahunan dengan para formatores Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, para romo Praeses Seminari menengah, para pimpinan biara dan juga dengan para dosen STFK Ledalero.

Mgr. Frans Kopong Kung (uskup Larantuka) yang dipercayakan menjadi moderator dalam sapaan awalnya mengharapkan agar perjumpaan yang penuh hangat ini bisa membangkitkan semangat baru dalam diri para frater untuk tetap setia menjaga dan merawat panggilan Tuhan yang sudah, sedang dan akan terus dijalani. Mgr. Frans dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya membina hidup rohani selama proses formasi. Aspek kerohanian merupakan fundasi dalam proses formasi seorang calon imam. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa kita mengabaikan aspek lain dalam proses formasi seperti intelektual, kepribadian, kesehatan dan relasi sosial, tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Mgr. Vinsensius Sensi Potokota (uskup Agung Ende). Dalam pertemuan dengan para formatores, kami mendengar kesan bahwa para frater kurang terlalu serius menghayati kehidupan rohani dalam proses formasi di tempat ini. Kami para uskup mengharapkan agar perlu menjaga dan menghayati secara serius aspek kerohanian. Formasi spiritualitas ini sangat penting bagi kita yang dipanggil secara khusus. Selain itu, perlu membiasakan diri untuk menghayati keheningan dalam hidup sebagai bagian dari cara membina hidup rohani, tegas Mgr. Sensi. Lebih lanjut, Mgr. Sensi mengatakan bahwa keheningan itu tidak hanya soal keheningan badaniah/lahiriah, tetapi juga menyangkut keheningan batiniah. Keheningan ini semestinya sudah dibangun dan dibentuk sejak seminari kecil (menengah).

Mgr. Ewaldus Martinus Sedu (Uskup Maumere) dalam tatap muka dengan para frater ini lebih mengsharingkan pengalamannya ketika berjumpa dengan emak-emak kelompok legio Maria. Dalam perjumpaan dengan kelompok legio Maria ini, Mgr. Ewald mendapat kesan bahwa emak-emak sangat mencintai para imam karena para imam menurut mereka adalah wakil Kristus. Namun emak-emak kelompok legio ini juga sangat perihatin dengan perilaku imam-imam tertentu yang tidak menunjukan dirinya sebagai wakil Kristus. Karena itu, Mgr. Ewald mengharapkan agar para frater perlu membiasakan diri menunjukan perilaku yang baik. Perilaku yang baik tidak baru terjadi setelah ditahbiskan menjadi imam, tetapi terbentuk melalui proses formasi baik sejak seminari menengah hingga seminari tinggi, tegas Mgr. Ewald.

Sedangkan Mgr. Silvester San (Uskup Denpasar dan sekaligus Administrator apostolik keuskupan Ruteng) mengajak para frater untuk belajar dari pribadi Yesus dalam Kitab Suci. Yesus yang kita imani, sesibuk apapun Dia, Dia selalu punya waktu untuk berdoa kepada Bapa-Nya di Surga dan menyepi dalam keheningan, ungkap Mgr. San. Mgr. San mendapat kesan bahwa kebiasaan doa dan keheningan yang sudah lama dibentuk sejak seminari menengah belum terlalu serius dihayati ketika masuk di seminari tinggi. Karena itu, menurut Mgr. San doa pribadi dan keheningan adalah cara terbaik untuk bisa mengenal kedalaman diri dan juga identitas diri.

Di akhir tatap muka ini, para bapa Uskup memberikan kesempatan kepada para frater untuk sedikit berbagi cerita berkaitan dengan suka-duka selama berada di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret dan sekaligus ditutup dengan kata-kata peneguhan dari Mgr. Vinsensius Sensi Potokota. (Fr. Gusti Hadun, Ketua Sie Publikasi Seminari Ritapiret).

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments