Ketika kita membaca Kitab Suci, kita menemukan bahwa Yesus memanggil ibu-Nya ‘wanita’. Namun terjemahan tersebut disesuaikan menjadi ‘ibu”. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa perkataan Yesus itu menunjukkan bahwa Maria, ibu-Nya, hanyalah ‘alat’ yang dipakai oleh Allah; sehingga tidak penting untuk menghormatinya.
[postingan number=3 tag=”saudara-yesus”]
Tentu saja pandangan seperti itu bertentangan dengan iman Katolik. Iman Katolik mengajarkan bahwa Maria adalah bunda semua pengikut Yesus (lih. Yoh. 19:25-27). Maka, setiap pengikut Yesus patut menghormati Maria, sebagaimana kita juga menghormati orangtua kita masing-masing. Ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan dari sapaan Yesus itu:
Pertama, memanggil seorang perempuan dengan sebutan ‘wanita” merupakan hal yang wajar pada zaman Yesus (lih. Yoh. 4:21, 8:1). Oleh sebab itu, Maria tidak pernah tersinggung dengan panggilan tersebut. Malah tidak ada sama sekali reaksi marah terhadap Yesus yang memanggilnya ‘wanita”.
Kedua, setidaknya ada dua kali Yesus memanggil Maria sebagai ‘wanita’ (lih. Yoh. 2:4, 19:26). Hal itu hendak menunjukkan bahwa Maria selalu hadir di awal dan di akhir karya Yesus. Sebutan ‘wanita’ pada kedua ayat tersebut berasal dari kata Gune.
Ketiga, gaya penulisan Injil Yohanes mirip dengan gaya penulisan awal Kitab Kejadian memakai kata “pada mulanya”. Penulis kedua kitab hendak mengatakan bahwa kehadiran Yesus dalam Injil sejajar dengan kisah penciptaan. Selain itu, kesejajaran yang sama dapat kita temukan pula pada inklusi penyebutan Maria sebagai ‘wanita’ dengan peran Hawa (lih. Kej. 3:15). Dengan demikian, semakin jelas inklusi Maria sebagai ‘wanita’ (Yun: gune). Sebagaimana Hawa dan Adam hadir sebagai mitra kerja yang ‘menghasilkan dosa’, demikian pula Maria (Hawa baru) hadir sebagai mitra kerja Kristus untuk menyelamatkan manusia.
Keempat, Yesus sendiri telah menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, sementara itu kepada Yohanes (dan untuk kita), “Ibu, inilah, anakmu!”. Oleh sebab itu, penyebutan Maria sebagai ‘wanita’ menunjukkan kapasitasnya sebagai ‘Hawa baru’, ibu dari pengikut Yesus. Keibuan Maria bukan semata-mata karena status melainkan karena perannya sebagai ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendampingi Yesus dari awal hingga akhir karya-Nya.





Menurut saya, penjelasan istiah “wanita” atau “perempuan” dalam tulisan ini tidak mengena. Referensi apa yang dipakai?