Katolik Menjawab: Dosa terhadap Roh Kudus tidak akan Diampuni

0
4231
Gambar ilustrasi oleh suju / Pixabay

Jika kita diminta untuk menguraikan kalimat “Dosa terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni,” apa kira-kira yang bisa kita katakan? Saya menangkap kesan bahwa kebanyakan dari kita umat Katolik cenderung akan memberikan jawaban klasik dan cari aman seperti ini: TIDAK TAHU.

Apakah dengan mengatakan “Saya tidak tahu” sudah cukup untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu? Tentu saja tidak, kan? Sebaliknya, jawaban seperti itu justru akan membuat orang lain mempertanyakan kedalaman iman kita. Mereka akan berkata, “Jangan-jangan imanmu dangkal-dangkal saja.” Kita tidak bisa mempersalahkan mereka apabila mereka berkata demikian. Maka dari itu, seharusnya perkataan cari aman seperti itu tidak boleh keluar dari mulut kita. Tapi hal itu baru dapat terjadi hanya jika kita benar-benar pernah meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat Kitab Suci. Mengapa? Karena kalimat di atas tidak lepas dari konteks bacaan Kitab Suci.

[postingan number=3 tag= “iman-katolik”]

Kalimat yang berbunyi “Dosa menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni,” muncul di dalam Injil Sinoptik: Mat. 12:22-37, Mrk. 3:20-30, atau Luk. 11:14-23. Dari perikop tersebut, diceritakan bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat. Ia mengusir setan dan menyembuhkan banyak orang buta dan bisu. Semua itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh Yesus tanpa kuasa Allah. Justru karena Ia sendiri adalah Allah makanya Ia bisa memberikan banyak mukjizat.

Nah, ketika orang-orang Farisi menyaksikan apa yang dilakukan oleh Yesus itu, bukannya percaya atau minimal mempelajari hal itu, mereka malah dengan serta merta berkata “Dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan” [Mat. 12:24].

Padahal, sebagai orang Farisi, mereka seharusnya tahu akan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara” [Yes. 35:5-6]. Jika nubuat itu mereka tahu, maka tidak pantaslah mereka melontarkan kata-kata yang tidak santun seperti itu terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus.

Sayangnya, sekalipun mereka tahu akan nubuat Nabi Yesaya itu, mereka toh tetap mengatakan bahwa Yesus kerasukan Roh jahat. Maka, dalam konteks itulah Yesus mengatakan bahwa “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni” [Mat. 12:31].

Frasa ‘tidak dapat diampuni’ rupanya berhasil membuat telinga banyak orang memerah. Mereka tidak setuju jika dikatakan bahwa ada dosa yang tidak dapat diampuni. Alasan yang mereka berikan juga cukup masuk akal: Allah yang kita imani adalah Allah yang Maharahim dan Mahakasih. Makanya mereka bertanya, “Bagaimana mungkin ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah yang Maharahim dan Mahakasih itu”?

Jawaban yang perlu kita berikan cukup singkat saja. Bahwasanya memang kerahiman dan kasih Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman dan kasih Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan atas dosa-dosanya dan pada saat yang sama ia juga menolak keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian sehingga dapat menyebabkan kemusnahan abadi.

Kita juga dapat mengatakan bahwa secara prinsip dosa adalah suatu kesalahan yang membuat manusia membelok dari tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan. Semakin parah suatu dosa, maka pembelokannya terhadap tujuan akhir akan semakin besar; dan dosa menghujat Roh Kudus adalah suatu pembelokan yang benar-benar bertentangan dengan tujuan akhir.

Apalagi, tentang Roh Kudus yang dijanjikan, Yesus berkata “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” [Yoh. 16:8]. Jadi, tugas utama dari Roh Kudus adalah ‘menginsafkan’ manusia dari dosanya. Jika manusia tidak mau insaf, maka ia berdosa melawan Roh Kudus.

Dengan kata lain, pada saat mereka menghujat karya Allah, Roh Kristus yang sebenarnya terbentang di hadapan mereka – seperti pengajaran dan banyak mukjizat – kemudian mengatakan bahwa semua itu berasal dari Setan, mereka telah mengeraskan hati mereka dan secara jelas menolak Allah, yang telah berbicara kepada bangsa Yahudi lewat para nabi.

Maka, benarlah jika dikatakan bahwa kalau seseorang menolak Roh Kudus berarti ia menolak kebenaran dan menolak kasih Allah, serta menolak pengampunan dari Allah. Orang seperti itu tidak mungkin dapat diampuni baik pada kehidupan sekarang maupun pada kehidupan yang akan datang.

Diolah dan dikembangkan dari: www.katolisitas.org

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments