Ingat Natal, Ingat Maria: Natal Tak Bisa Lepas dari Peran Maria: Renungan Masa Adven, 20 Desember 2020 — JalaPress.com; Injil: Luk. 1:26-38
[postingan number=3 tag= ‘adven’]
Injil hari ini mengisahkan tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria. Kunjungan ini terjadi atas perintah Allah. Allah menyuruh Malaikat Gabriel untuk menyampaikan pesan penting kepada Maria bahwa ia akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu harus dinamai Dia Yesus.
Apakah Maria langsung menangkap pesan dari Allah melalui malaikat itu? Injil Lukas bilang ‘tidak’. Justru sebaliknya, Maria terkejut mendengar perkataan itu (lih. Luk. 1:29). Bukan hanya terkejut, ia bahkan juga kemungkinan besar takut; sebab hamil di luar perkawinan hanya akan membuat seseorang dekat dengan maut. Masyarakat pada masa itu tidak segan-segan menghukum mati perempuan yang kedapatan hamil di luar perkawinan (baca: berzina).
Ketakutan Maria dibaca oleh Malaikat Gabriel. Maka ia pun berkata kepada Maria: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah …” (Luk. 1:30). Apakah Maria langsung mengerti maksud malaikat itu? Lagi-lagi tidak. Maria belum paham apa maksud dari semua yang didengarnya dari malaikat itu. Maka, kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34). Malaikat Gabriel mempertegas keterangan yang disampaikannya dengan berkata: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).
Tanya jawab antara Malaikat Gabriel dan Maria ini menunjukkan kepada kita bahwa Maria dipilih khusus oleh Allah dari antara semua perempuan yang hidup pada masanya. Hal ini, mulanya, bukan sesuatu yang mudah bagi Maria. Ia justru terkejut, takut, dan tidak mengerti. Tapi, untunglah, Malaikat Gabriel berhasil meyakinkan Maria sehingga cerita ini berakhir dengan jawaban ‘YA’ dari Maria.
Ribuan tahun berlalu, peristiwa ‘Allah menjadi manusia’ ini tetap menyisakan tanda tanya besar bagi banyak orang, terutama mereka yang tidak termasuk dalam barisan kelompok pengikut Yesus. Mereka bertanya-tanya, ‘Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?’
Apapun penjelasan kita untuk menjawab pertanyaan itu tak akan pernah memadai. Hanya ada satu jawaban yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dan jawaban itu sudah ditulis oleh Lukas di dalam Injilnya. Lukas menulis: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37). Apa yang bagi kita tidak mungkin, sangat mungkin bagi Allah. Ia Mahakuasa, dan karena kemahakuasaan-Nya itulah maka Ia bisa menjadi apa saja yang Dia inginkan.
Sampai di sini kita menyadari bahwa jawaban ‘YA’ dari Bunda Maria sangatlah penting. Bunda Maria mempunyai peran besar dalam peristiwa Natal. Jikalau saja saat itu Maria menjawab ‘TIDAK’ terhadap tawaran dari Allah melalui Malaikat Gabriel itu maka bukan tidak mungkin cerita Natal kita tidak pernah sama.
Sayangnya banyak orang, entah dengan sengaja atau tanpa sengaja, mengabaikan peran Bunda Maria itu. Ketika Natal tiba, orang-orang lebih sering menyebut Santa Klaus ketimbang Bunda Maria. Apakah karena Bunda Maria tidak membawa kado seperti Santa Klaus? Bisa jadi. Tapi, jangan lupa kado terbesar dari Bunda Maria adalah rahimnya yang ia persembahkan untuk Tuhan bisa masuk ke dunia manusia. Tidak ada kado yang lebih berharga daripada rahim seorang Maria.
Merayakan Natal tapi melupakan Bunda Maria merupakan sesuatu yang ganjil. Kita harus tahu bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia bukan dengan cara melayang-layang dari angkasa; melainkan melewati rahim seorang perempuan. Lukas mempertegas siapa nama perempuan itu. Ia menuliskan: “Nama perawan itu Maria” (Luk. 1:26). Apakah Lukas memberikan keterangan ini hanya sekedar sebagai pelengkap tulisannya? Saya kira tidak. Lukas tahu bahwa Maria adalah tokoh penting dalam peristiwa kelahiran Yesus.
Karena itu, sudah sepantasnyalah kita menghormati Maria. Jangan sampai kita mengingat Santa Klaus, kado, dan pernak-pernik Natal tapi lupa dia yang oleh Elisabet disebut sebagai ‘ibu Tuhan’ itu (lih. Luk. 1:43). Natal tak bisa lepas dari jawaban ‘YA’ dari Bunda Maria. Ingat Natal, ingat Maria. Ave Maria. — JK-IND —


