1.9 C
New York
Monday, January 12, 2026

Antara Rindu dan Tobat – Renungan Adven Minggu Kedua

Antara Rindu dan Tobat: Renungan Adven Minggu Kedua, 04 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 11:1-10; Bacaan II: Rm. 15:4-9; Injil: Mat. 3:1-12

[postingan number=3 tag= ‘adven’]

Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Yesaya. Seperti kita ketahui, Yesaya adalah satu dari sekian nabi dalam Perjanjian Lama yang menyampaikan informasi tentang Dia yang akan datang. Dalam nubuatnya [KBBI: nubuat berarti wahyu yg diturunkan kepada nabi (untuk disampaikan kepada manusia); atau dapat juga berarti ramalan], Yesaya memberi petunjuk bahwa Dia yang akan datang itu akan bertindak sebagai hakim. Sebagai hakim, tugasnya adalah mengadili. Perkataan ini mengingatkan kita pada kalimat dalam doa Aku Percaya: Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa. Dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati.

Dia yang akan datang itu akan bertindak sebagai hakim atas hidup dan mati kita. Namun, Ia tidak seperti hakim dunia. Hakim dunia kadangkala keputusannya sepihak, sepintas, dan tergantung apa kata orang banyak. Dia yang akan datang itu adalah hakim yang adil. Sebagai hakim yang adil, Dia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut apa kata orang. Justru sebaliknya, Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas dengan kejujuran.

Kalau hidup kita dipimpin oleh Dia yang akan datang itu, maka suasana damai pasti kita rasakan dalam kita.

Apakah Dia yang akan datang itu hanya akan bertindak sebagai hakim atas hidup dan mati kita? Jawabannya: tidak. Selain menjadi hakim, Dia juga datang untuk menjadi pemimpin bagi kita. Dan, buah dari kepemimpinannya adalah damai [KBBI: damai adalah keadaan tidak bermusuhan, tidak ada kerusuhan, tidak ada perang, aman, rukun, tenang, dan tenteram]. Seperti apa damai itu? Nabi Yesaya memberi gambarannya.

Bagi Yesaya, suasana damai itu dapat dibayangkan seperti ketika serigala tinggal bersama domba dan macan tutul berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil menggiringnya. Lembu dan beruang sama-sama makan rumput dan anaknya sama-sama berbaring, sedang singa makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

Kalau hidup kita dipimpin oleh Dia yang akan datang itu, maka suasana damai pasti kita rasakan dalam kita. Tapi, kalau hidup kita belum atau tidak dipimpin oleh Dia, maka buahnya adalah kebalikan dari damai. Hubungan kita dengan orang lain, dengan teman, dengan saudara dan dengan anggota keluarga serasa kucing dan tikus: tidak pernah akur.

Sampai di sini kita kita seharusnya sadar bahwa betapa pentingnya Dia yang akan datang itu untuk kita. Itulah sebabnya, banyak orang merindukan Dia. Persis itulah salah satu poin penting dari perayaan minggu kedua Adven ini, yaitu rindu kedatangan-Nya.

Dia yang akan datang itulah yang akan mendekatkan Kerajaan Allah kepada kita, dan kita kepada surga.

Namun demikian, rindu saja tidak cukup. Kerinduan yang tidak disertai dengan persiapan adalah kerinduan yang sia-sia. Selain rindu akan kedatangan-Nya, kita juga harus siap menyambut-Nya. Ibarat kata, Natal itu pasti akan kita rayakan, tapi merayakan Natal tanpa persiapan akan terasa seperti rutinitas tahunan saja. Karena itu, tidak ada cara lain untuk menyambut Dia selain dengan jalan pertobatan. Pertobatan merupakan cara merupakan cara mempersiapkan diri yang paling baik bagi kedatangan-Nya. Makanya, Yohanes Pembaptis, yang notabene adalah pembuka jalan bagi-Nya, berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 3:2). Jadi, pada minggu kedua Masa Adven ini kita diingatkan kembali agar bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa waktu kita sudah tidak banyak lagi sebab Kerajaan Sorga sudah dekat. Dia yang akan datang itulah yang akan mendekatkan Kerajaan Allah kepada kita, dan kita kepada surga. Bagi Yohanes Pembaptis, kedatangan Kerajaan Surga itu seperti hari pengadilan. Saat itu, setiap orang akan diadili. Tapi, seperti kata Yesaya, Dia yang akan datang itu adalah hakim yang adil. Yang terpenting kita bertobat, Dia pasti tidak menghukum kita. Sebab itu, jangan menunggu lama. Jangan bilang nanti saja baru bertobat. Bertobat bukan urusan nanti tapi sekarang. Semoga kerinduan kita akan kedatangan Tuhan dapat kita isi dengan upaya pertobatan, agar ketika Dia datang, Dia mendapati kita dalam keadaan siap dan tak bercela. Amin.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini