Menemukan-Mu Sukacitaku, Tuhan: Renungan Hari Biasa Pekan II Adven, 06 Desember 2022 — JalaPress.com; Bacaan I: Yes. 40:1-11; Injil: Mat. 18:12-14
Wajah dunia modern ini didandan dengan sekian rupa perkembangan dan kemajuan yang menarik perhatian kita. Kita disodorkan begitu banyak tawaran dan pilihan. Ada begitu banyak hal yang menyita perhatian kita bahkan menyesatkan kita.
[postingan number=3 tag= ‘adven’]
Dalam perziarahan kita di dunia ini kita pasti membutuhkan Kompas penuntun, seorang penunjuk arah, ataupun teman seperjalanan. Jika kita kurang fokus dan kehilangan arah, maka tujuan hidup kita bisa tersesat di dalam pekerjaan, tersesat di dalam hobi, tersesat dalam gadget bahkan tersesat di kamar tidur kita. Kita bisa tersesat dalam kegelapan dosa kelalaian dan kesenangan pribadi kita. Ada begitu banyak tempat yang tak terjangkau google map, kita butuh seseorang yang bisa menjangkau kita di tempat-tempat terisolasi, tempat terpencil, dalam keadaan kita yang lemah dan tak berdaya.
Penggembalaan merupakan tugas yang sulit dan sangat berisiko. Padang penggembalaan tak selalu menumbuhkan rumput hijau dan menampung air segar. Selain itu ada banyak binatang liar yang tidak hanya membahayakan ternak tetapi juga mengancam keselamatan sang gembala. Ternak gembalaan kadang keluar dari kawanan mencari tempat favoritnya sendiri, terpisah jauh menuju jalan-jalan kecil, lereng-lereng bukit bahkan menuju lembah yang curam. Nabi Yesaya menggambarkan Tuhan Allah Israel sebagai seorang gembala: Ia menggembalakan ternak-Nya dan menghimpunkan-Nya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba di pangkunya dan induknya dituntun dengan hati-hati.
Begitu besar sukacita Tuhan jika mendapatkan kembali kita, domba yang tersesat ini, dalam pangkuan-Nya.
Dalam konteks bacaan hari ini masa adven dapat dilihat sebagai saat berhenti sejenak (pause) untuk menyadari keterpisahan kita dari kawanan domba. Masa adven menjadi moment untuk menyadari situasi tersesat di mana Tuhan di sisi lain sedang mengarahkan pandangan dan langkah-Nya pada kita. Pemazmur bahkan meneguhkan kita yang hilang ini, “lihat, Tuhan datang dengan kekuatan: untuk menghibur umat-nya sembari berkata “Tenangkanlah hatimu” (Yes 40:2). Penginjil Matius menyimpulkan perumpamaan domba yang hilang dan sukacita sang gembala dengan pernyataan yang sangat bagus, “Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Begitu besar sukacita Tuhan jika mendapatkan kembali kita, domba yang tersesat ini, dalam pangkuan-Nya. Melalui bacaan Injil hari ini penginjil Matius ingin memperkenalkan identitas Allah kepada umat-Nya. Ia adalah Allah yang panjang sabar dan penuh kasih setia. Allah kita merupakan Bapa yang Maharahim dan selalu siap mengampuni. Ia adalah Allah yang menerima kembali orang berdosa yang dengan rendah hati dan sungguh-sungguh menyesali dosa, bertobat dan mohon pengampunan pada-Nya.
Tuhan memberikan kita kesempatan untuk melakukan peziarahan pribadi. Dalam segala situasi dan keadaan kita saat ini ingatlah beberapa pesan bacaan hari ini. Tuhan memperhatikan kebutuhan kita: Ia menjaga dan menemani kita dalam peziarahan kita. Kedekatan dan persahabatan dengan Tuhan hanya dapat terjadi jika kita tetap terkoneksi dengan-Nya melalui saluran doa dan tobat. Kita adalah seekor anak domba dari satu kawanan gembalaan Tuhan, bukan yang terbuang. “Menemukan kita adalah sukacita besar bagi-Nya.”


