Apakah Yesus Mempunyai Saudara Kandung?

0
1481
Gambar ilustrasi oleh Didgeman / Pixabay

Tidak sedikit orang berpendapat bahwa Yesus mempunyai saudara kandung. Alasannya: Kitab Suci menyebutkan demikian. Memang, jika kita lihat sepintas, pendapat ini tidak terbantahkan. Benarlah, dalam Kitab Suci beberapa kali disebutkan soal ‘saudara’ Yesus ini.

Dalam Injil Markus, disebutkan bahwa sekali peristiwa orang banyak bertanya-tanya  tentang Yesus: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” (Mrk. 6:3).

Dalam Injil Lukas, ketika Yesus sedang mengajar, orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk. 8:20).

Dan, dalam Injil Yohanes diceritakan bahwa setelah menunjukkan mukjizat pada pesta pernikahan di Kana, ‘Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja’ (Yoh. 2:12).

Sampai di situ, kita bisa katakan bahwa ternyata Yesus mempunyai saudara dan saudari. Tetapi, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: apakah mereka itu merupakan saudara kandung, saudara tiri, ataukah saudara sepupu dari Yesus? Sepanjang sejarah, para ahli Kitab Suci berdebat soal pertanyaan ini.

Perdebatan pertama terjadi antara St. Hieronimus dengan seorang teolog lain pada abad keempat, yaitu Helvidius, yang telah menuliskan bahwa setelah melahirkan Yesus, Maria mempunyai anak yang lain dari suaminya, Yoseph.

Pendapat Helvidius ini mengambil dasar pada Injil Mat. 1:24-25 yang berbunyi: ‘Yoseph mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus’.

Dari ayat ini ditafsirkan bahwa wajarlah jika Yoseph tidak ‘mendekati’ Maria saat Maria sementara mengandung. Tetapi, setelahnya, tentulah ia dapat ‘mendekati’ Maria; sehingga mereka mempunyai anak yang lain selain Yesus.

Helvidius memperkuat pendapatnya dengan mengutip Injil Luk. 2:6-7, “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”.

Dari ayat ini digarisbawahi frasa ‘anaknya yang sulung’. Ia berpendapat bahwa jika Yesus adalah anak mereka yang sulung, tentu itu berarti bahwa Yesus mempunyai adik-adik yang menjadi saudara dan saudari seibu-sebapa-Nya.

St. Hieronimus, seperti halnya juga dengan berbagai komunitas Gereja pada abad keempat, tidak sependapat dengan Helvidius. Ia percaya bahwa Bunda Maria tetap tinggal sebagai perawan seumur hidupnya. Saudara-saudari yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu, demikian Hieronimus, berasal dari keturunan Maria Kleopas, saudari dari Bunda Maria (Yoh. 19:25); sehingga mereka adalah sepupu dari Yesus. Dia mempertegas pendapatnya dengan mengatakan bahwa kata Yunani ‘adelphios’ dapat juga merujuk pada sepupu, jadi bukan hanya untuk menyebut saudara-saudari biologis.

Apalagi, jika diperhatikan, dalam etika keluarga, sangat tidak sopan dan tidak diperbolehkan bagi seorang adik untuk mencampuri urusan kakaknya, seperti yang dilakukan oleh ‘saudara-saudari’ Yesus terhadap Yesus. Pendapat ini mengambil contoh Injil Mrk. 3:31 yang berbunyi: “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.” Juga dari Injil Yoh. 7:3-4, “Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”

Tampaknya sangatlah tidak etis jika sikap dan kata-kata ini datang dari seorang adik untuk kakaknya, apalagi sang kakak merupakan seorang public figure. Maka, sangat masuk akal jika sikap dan omongan seperti ini keluar dari mulut sepupu, bukan dari adik kandung.

Pandangan ini juga dipertegas oleh adanya kenyataan bahwa “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh. 19:26-27).

Jika saja Yesus mempunyai saudara dan saudari kandung, tentulah Ia tidak menitipkan ibu-Nya kepada orang lain, sekalipun itu merupakan murid yang dikasihi-Nya.

Epifianus, uskup Salamis, memberikan kemungkinan yang lain di antara pendapat St. Hieronimus dan Helvidius. Menurutnya, saudara-saudari yang disebutkan di dalam Injil itu bukanlah sepupu maupun saudara-saudari kandung dari Yesus, melainkan anak-anak Yoseph dari perkawinan sebelumnya; sehingga mereka adalah saudara-saudari tiri dari Yesus.

Tiga argumentasi ini terus diperdebatkan sampai hari ini. Ditambah lagi, para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru sama sekali tidak meninggalkan catatan yang jelas mengenai bagaimana jemaat perdana berpendapat soal keperawanan Maria setelah melahirkan Yesus.

Kalau demikian, bagaimana posisi Gereja Katolik? Gereja Katolik tetap pada keyakinan bahwa Bunda Maria hanya memiliki satu anak, yaitu Yesus, yang bukan merupakan anak biologis dari Yoseph (Mat. 1:18-25 dan Luk. 1:34-35). Juga, sama sekali tidak ada bukti dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa sebelum menikahi Maria, Yoseph merupakan single parent. Jadi, bagi Gereja Katolik, satu-satunya yang masuk akal adalah bahwa ‘saudara-saudari’ Yesus yang disebutkan di dalam Kitab Suci itu merupakan sepupu dari Yesus, yaitu anak dari saudari ibu-Nya, Maria.

Ingatlah perkataan Yesus ini: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mrk. 3:33-35).

Referensi
https://www.uscatholic.org/articles/201312/did-jesus-have-brothers-and-sisters-28224
https://www.bibleinfo.com/en/questions/did-jesus-have-any-brothers-andor-sisters
https://www.franciscanmedia.org/ask-a-franciscan-did-jesus-have-siblings/
http://www.katolisitas.org/apakah-yesus-mempunyai-saudara-saudari-kandung/

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.