Semangat dasar yang dihayati selama masa Adven adalah pengharapan, takwa dalam iman, sikap tobat dan berpaling pada Allah, berjaga-jaga, kemurnian hati, dan penghargaan atas martabat orang lain. Semangat dasar itu ditampilkan antara lain oleh tokoh-tokoh Kitab Suci seperti Yesaya, Yohanes Pembaptis, Maria, dan Yosef.
[postingan number=3 tag= ‘adven’]
Masa Adven jelas berbeda dari masa biasa. Ada beberapa perubahan yang terjadi, antara lain: adanya lingkaran Adven, warna liturgi berubah menjadi ungu, dan madah ‘Kemuliaan’ tidak dikumandangkan. Pernahkah kita bertanya, apa maksud dari semua simbol dan tanda itu?
Mari kita mulai dari lingkarang Adven. Praktik membuat lingkaran Adven berasal dari Jerman yang kemudian berkembang dan dilakukan di dalam Gereja di banyak daerah. Empat lilin melambangkan keempat minggu dalam masa Adven, yaitu masa persiapan menyambut Natal. Tiga lilin berwarna ungu, menyimbolkan pertobatan dan penantian; sedangkan lilin Minggu ketiga Adven berwarna merah muda menyimbolkan sukacita.
Lilin dalam lingkaran Adven ini dinyalakan mulai Minggu Adven pertama. Setiap minggu dinyalakan tambahan satu lilin, sehingga banyaknya lilin yang bernyala menjadi tanda progresif bahwa kelahiran Sang Terang Dunia sudah semakin mendekat. Maka, lingkaran Adven menjadi bagian persiapan rohani kita menyambut kedatangan Sang Mesias.
Di beberapa daerah, ditambahkan lilin kelima berwarna putih yang lebih besar dan diletakkan di tengah lingkaran. Lilin putih ini melambangkan Kristus yang adalah ‘Terang yang telah datang ke dalam dunia’ (Yoh. 3:19-21). Lilin putih ini dinyalakan pada Misa atau Ibadat Malam Natal sebagai lambang bahwa masa penantian telah berakhir karena Sang Juruselamat telah lahir.
Mengapa harus berbentuk lingkaran? Digunakan lingkaran dan bukan bentuk lain karena lingkaran dimaknai sebagai simbol dari Allah yang abadi yang tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran ini dibungkus dengan daun-daunan hijau (pakis, pinus, salam), karena hijau melambangkan hidup. Kristus adalah Sang Hidup itu sendiri. Dia telah wafat, tetapi hidup kembali dan tetap hidup.
Mengapa warna liturgi minggu ketiga Adven berbeda dari minggu-minggu Adven yang lainnya? Minggu ketiga Adven yang disebut juga Minggu ‘Gaudete’ atau minggu ‘bersukacitalah’ berbeda karena memang ditujukan untuk mengajak umat supaya bersukacita sebab kedatangan Sang Penyelamat semakin dekat. Lingkaran Adven mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa menyambut perayaan kelahiran Tuhan.
Selama masa Adven, madah kemuliaan atau Gloria; madah yang berkaitan dengan nyanyian para malaikat saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2, 14) tidak dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Madah ini baru akan dinyanyikan saat Natal. Alasannya sederhana: madah ini berkaitan dengan kelahiran Yesus. Masa Adven adalah masa penantian akan kelahiran Yesus, maka belum saatnya untuk menyanyikan madah Kemuliaan. Nanti, ketika Dia lahir, baru boleh dinyanyikan.
Sumber:
Maria Handoko, Petrus. 2014. Dari Adven sampai Natal. Malang: Dioma, hlm. 21-23
Komisi Liturgi Regio Jawa Plus. 2012. Pedoman Berliturgi Lingkaran Natal dan Paskah. Yogyakarta: Kanisius, hlm. 19.


