Sejarah Kelahiran Yesus Kristus: Mengapa Natal Tanggal 25 Desember?

0
4374
VinnyCiro / Pixabay

Gereja perdana mengimani bahwa peristiwa Paskah berkaitan dengan misteri Inkarnasi. Oleh sebab itu,  teks bacaan liturgi Natal pada perayaan Misa siang, mengutip Prolog Injil Yohanes (1: 1-18):

“Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah … Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya … terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia … Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita”.

Perikop itu menceritakan tentang Firman Allah yang menjadi manusia. Nabi Yesaya menubuatkan ‘kedatangan pembawa berita yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat’ (Yes. 52:7-10) dan (Ibr. 1:1-6).

Pada Misa malam Natal, kita dapat melihat dengan sangat jelas hubungan antara misteri Paskah dengan liturgi Natal; terutama dalam teks ini: “Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi keselamat manusia (Tim. 2:14).”

Gereja mengungkapkan iman lewat liturgi perayaan Natal dan mencapai puncaknya pada perayaan Paskah. St. Augustinus berkata: “Saudara-saudari, marilah kita bersukacita. Hari ini Kudus, bukan karena matahari yang kelihatan, melainkan karena Kelahiran Dia, yang adalah Pencipta tak kelihatan dari matahari” .

Bila ditelusuri, perayaan Natal di dalam Kekristenan sebetulnya tidak dirayakan secara serentak. Gereja Barat, misalnya, merayakan pada tanggal 25 Desember, sedangkan sebagian Gereja Timur merayakan Natal pada tanggal 6 Januari. Hal itu terjadi karena perbedaan Kalender yang dipakai.

Gereja yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember memakai kalender Gregorian (Masehi), sementara yang merayakan Natal pada tanggal 6 Januari memakai Kalender Julian. Meskipun terdapat perbedaan karena pemakaian kalender, namun tetap mempunyai makna yang sama.

Injil Lukas mencatat bahwa Zakharia dari rombongan Abia terpilih menjadi imam yang membakar ukupan di dalam Bait Suci. Keturunan Harun dibagi ke dalam dua puluh empat rombongan (bdk. 1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan itu bertugas untuk menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Nah, kalau kita telusuri kapan rombongan Abia itu terpilih untuk setiap tahunnya, kita akan menemukan bahwa rotasi mereka terpilih bersamaan dengan kandungan Elisabet telah memasuki usia enam bulan, yaitu ketika Malaikat Gabriel mengunjungi Maria (bdk. Luk. 1:26).

Selain itu, menurut Talmud, penghancuran Bait Allah oleh raja Nebukadnezar terjadi tahun 587 SM. Kala itu, rombongan Yoyarib mendapat tugas sebagai imam. Apabila rombongan Yoyarib bertugas pada tanggal 9 bulan Ab (sejajar dengan 18 Juli), dicocokkan dengan urutan rombongan anak-anak Harun (1 Taw. 24), maka kita akan menemukan bahwa rombongan Yoyarib itu berada pada urutan pertama; dan rombongan Abia berada pada urutan ke delapan. Oleh sebab itu, Zakharia mendapat penampakan malaikat yang mewartakan kelahiran Yohanes Pembaptis terjadi pada pada tanggal 29 September – 5 Oktober.

Menurut St. Yohanes Krisostomus, peristiwa Kabar Sukacita (Malaikat Gabriel mengunjungi Maria) terjadi pada bulan purnama, yakni pada tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret; sehingga Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret. Ia juga, dalam ‘In Diem Natalem‘ menjelaskan tentang peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi pada 25 Desember.

Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa tidak benarlah perayaan Natal itu diadaptasi dari ritus ‘kafir’ atau pagan. Juga bukan perayaan atau pemujaan terhadap Dewa Matahari, Dewa Zeus, dan dewa-dewa sejenisnya, sebagaimana didengungkan oleh banyak orang selama ini.

Sumber:
Joseph F. Kelly, The Origins of Christmas, Collegeville, MN: the Liturgical Press, 2004, hlm. 56-57.
Adolf Adam, The Liturgical Year: Its History and Its Meaning after the Reform of the Liturgy, Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1990, hlm.15.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289