Mengapa Natal Dirayakan Bulan Desember?

0
1274
cocoparisienne / Pixabay

Dewasa ini ada orang-orang Kristen yang menolak merayakan Natal di bulan Desember karena menurutnya tidak mungkin Yesus lahir pada saat musim dingin. Lebih dari itu mereka mengaitkan dengan perayaan pemujaan dewa matahari pada masa kekaisaran Romawi, sehingga dikatakan bahwa merayakan Natal di bulan Desember sama dengan pemujaan terhadap dewa Matahari – penyembahan berhala! Sesat! Menjelang bulan Desember mereka biasanya aktif menyebarkan pendapat ini secara masif melalui email, WA, FB, twitter dan berbagai media sosial – supaya orang Kristen tidak merayakan Natal di bulan Desember.

Di akhir bulan November, saya berkesempatan untuk melakukan perjanalan ke Holy Land dan salah satu tempat yang dikunjungi adalah Gereja Padang Gembala di Bet Sahur, Betlehemen. Di tempat ini, malaikat Tuhan menyampaikan kabar sukacita kelahiran Juru Selamat kepada para gembala. Sekalipun sudah mau masuk musim dingin, cuaca di padang gembala Betlehem tetap cerah dan temperatur sejuk sekitar 17 derajat celcius.

Ada penjelasan dari pemandu wisata lokal (Israel) yang benar-benar membuka wawasan dalam menghadapi simpang-siur pendapat mengenai kelahiran Kristus di bulan Desember.

Pemandu wisata kita adalah orang Arab Israel yang beragama Kristen, dan dia belajar di universitas untuk menjadi pemandu wisata rohani berbahasa Indonesia, sehingga yang dipelajari bukan hanya bidang arkeologis, sejarah, buadaya, bahasa, tetapi juga ayat-ayat Alkitab! Dia bisa menyebutkan setiap ayat Alkitab dengan tepat yang berkaitan dengan situs-situs arkeologis di Israel, beserta dengan semua latar belakang sejarah dan budayanya. Ini yang membedakan dengan orang-orang Kristen di Indonesia yang aktif menolak kelahiran Tuhan Yesus di bulan Desember dengan hanya membaca berbagai tulisan dari rumahnya di Indonesia, tetapi tidak di tempatnya langsung di Betlehem.

Ketika sampai di Gereja Padang Gembala, dia melemparkan satu pertanyaan yang menarik, *“Kapan Tuhan Yesus lahir?”*

Dia selalu menyebut Yesus dengan kata *TUHAN YESUS*, suatu penghormatan yang sangat tinggi dibandingkan dengan orang Kristen di Indonesia yang umumnya hanya menyebut YESUS … tanpa disebut sebagai TUHAN … Di Indonesia, tidak ada orang yang menyebut nama orang tua yang dihormati dengan memanggil namanya saja, tetapi terhadap TUHAN dan Juru Selamat mereka dengan ringan dan santai hanya memanggil : “Yesus!”.

Terhadap pertanyaan pemandu wisata itu, dengan rasa percaya tinggi ada yang menjawab, sekitar bulan Oktober – karena Desember musim dingin. Tidak mungkin menggembalakan kambing domba di padang pada saat musim dingin.

Si pemandu wisata kita kemudian menyebutkan satu ayat dari Lukas 1: 26,27 bahwa pada *BULAN KEENAM* Tuhan menyuruh malaikat Gabriel pergi ke Nazaret menemui perawan Maria untuk menyampaikan kabar sukacita bahwa dia akan mengandung oleh Roh Kudus.

*(Lukas 1: 26,27) – “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.”*

Setelah itu dia bertanya kepada pengunjung, peristiwa di bulan keenam itu bulan apa? Ada seseorang yang langsung menjawab , “Bulan Juni!”. Pemandu itu menjawab tidak benar bahwa bulan keenam dalam Alkitab itu bulan Juni.

Injil Lukas mencatat bahwa Zakharia dari rombongan Abia terpilih menjadi imam yang membakar ukupan di dalam Bait Suci. Keturunan Harun dibagi dalam dua puluh empat rombongan (bdk. 1 Taw. 24). Dua puluh empat rombongan bertugas menyelenggarakan ibadah dalam suatu rotasi sepanjang tahun. Apabila telusuri kapan rombongan Abia terpilih untuk setiap tahunnya, maka dapat ditemukan  bahwa kandungan Elisabet telah memasuki usia enam bulan, ketika Malaikat Gabriel mengunjungi Maria (bdk. Luk. 1:26).

Menurut St. Yohanes Krisostomus, peristiwa Kabar Sukacita (Malaikat Gabriel mengunjungi Maria) terjadi pada bulan purnama yakni pada tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret. Oleh sebab itu, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret. Sehingga Gereja Katolik merayakan *HARI RAYA KABAR SUKACITA* (Feast of the Annunciation) pada tanggal 25 Maret. Bahkan di negara Libanon, tanggal 25 Maret ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk merayakan Hari Raya Kabar Sukacita.

Setelah perawan Maria menerima kabar sukacita pada bulan Maret, maka Sembilan bulan kemudian Tuhan Yesus dilahirkan, dan itu di bulan DESEMBER! Di bulan yang diributkan oleh orang-orang Kristen di Indonesia sebagai bulan musim dingin.

*(Lukas 2:8-12)*
*8. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.*
*9. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.*
*10. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:*
*11. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.*
*12. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”*

Pemandu wisata kemudian menjelaskan dengan mendetail apa yang tidak kita ketahui sebagai orang Indonesia, dan bukan penduduk asli orang Israel. Dia menjelaskan bahwa pada waktu itu, dua ribu tahun yang lalu belum ada teknologi pertanian dan peternakan seperti jaman modern sekarang ini.

Pada masa itu ada yang dinamakan musim kawin domba-domba dan musim beranak, yang terjadi hanya *setahun satu kali*. Adapun di jaman modern sekarang ini dengan teknologi peternakan modern, domba-domba bisa direkayasa untuk beranak dua kali setahun.

Di masa itu musim beranak domba-domba adalah bulan November! Ketika domba baru dilahirkan, maka para gembala tetap harus memelihara dan merawat karena merupakan masa-masa kristis di awal kehidupan ternak peliharaan mereka.

Pada masa itu, domba-domba tidak boleh dimasukkan ke dalam kota dan tetap dirawat di padang gembala. Dan Betlehem adalah padang penggembalaan untuk kota Yerusalem. Lebih dari itu ternyata mereka bukan sekedar gembala domba biasa, tetapi para gembala orang-orang Lewi yang bertugas menyediakan domba-domba untuk korban di Bait Allah. Domba-domba korban Bait Allah dijaga oleh gembala-gembala khusus yang diikat oleh peraturan rabi-rabi Yahudi.

Pada masa itu, Bait Allah masih berdiri dan setiap hari harus dipersembahkan domba untuk korban bakaran pagi dan petang. Jadi para gembala harus merawat dan memberi makan domba-domba itu di semua musim termasuk di musim dingin sekalipun. Apalagi ketika bayi domba baru lahir, para gembala akan memberikan perhatian khusus.

*(Bilangan 28:1-4)*
*1. TUHAN berfirman kepada Musa:*
*2. “Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.*
*3. Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap;*
*4. domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kau olah pada waktu senja.*

Adapun musim dingin di Betlehem berbeda dengan musim dingin di Eropa yang penuh salju tebal sehingga tidak mungkin merawat dan menjaga domba-domba di padang. Ketika saya tiba di Gereja Padang Gembala bulan November minggu-minggu akhir, cuacanya masih ‘sejuk’ dengan temperatur 17 derajat. Pada bulan Desember temperatur sekitar 11 derajat di siang hari dan 1 derajat di malam hari. Pemandu wisata menjelaskan bahwa hujan di Betlehem tidak seperti musim hujan di Indonesia. Di sini hujan di bulan Desember hanya hari-hari tertentu, dan kontur Betlehem yang berbentuk ngarai perbukitan tetap menjaga para gembala bisa merawat domba mereka di sana sepanjang tahun! Itu karena Tuhan sendiri yang membuat padang gembalaan domba-domba yang khusus bagi persembahan Bait Allah di Yerusalem di sepanjang tahun!

Pada saat bayi Juru Selamat dilahirkan di Betlehem, di kandang domba, di tengah malam yang sunyi sepi, ternyata di surga terjadi sukacita yang besar, sejumlah besar bala tentara sorga merayakannya dan memuji Allah : *”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:13,14)*. Kelahiran bayi Tuhan Yesus dirayakan dengan penuh sukacita dan gegap gempita di surga — tetapi tidak di dunia.

 

Editor: Silvester Detianus Gea

Editor telah mengedit tulisan asli karena mengandung kesalahan terutama pada kalimat ‘Ternyata bulan keenam menurut Alkitab adalah menurut kalender orang Israel yang dimulai dari bulan September, bukan bulan Januari – sehingga bulan KEENAM di dalam Injil Lukas 1:26 adalah bulan MARET!’ Isi kalimat itu kurang lengkap. Yang benar adalah bulan September yang dimaksud adalah ketika Elisabeth mulai mengandung dan setelah enam bulan (pada bulan keenam) kandungan Elizabeth, malaikat Gabriel datang mengunjungi Maria.

Sumber: http://www.pesta.org/natal_bulan_di_bulan_desember?fbclid=IwAR1KKC_wfr9Y17B-6fbnyJ7RWFb3bTHc_tDuww8TPJmvGRWs3ySUzq6kpDI

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289