Pernikahan adalah suatu pilihan hidup yang mulia. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka sudah tentu mempunyai tujuan yang luhur. Apalagi menikah dalam konteks pemahaman ajaran iman Katolik. Menikah merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan sendiri kepada manusia untuk menjadi partner dalam penciptaan. Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya dan menetapkan mereka berpasang-pasangan. Tuhan sendiri menggambarkan relasi antara suami isteri sebagaimana diriNya sendiri dan Gereja, yang utuh dan tak terpisahkan.
Namun kenyataan yang terjadi dalam keluarga-keluarga saat ini justru sebaliknya. Di tengah kemajuan teknologi dan informasi memberi dampak baik negatif maupun positif. Banyak berita mengenai perselingkuhan yang tersebar melalui media massa yang seharusnya tidak dipertontonkan. Dampaknya banyak orang yang tidak mampu menyaring informasi yang baik, sehingga mengikuti tindakan-tindakan yang akhirnya merusak keharmonisan rumah tangga. Salah satu contohnya adalah sharing seseorang berikut ini:
“Awalnya kami hidup bahagia. Apalagi setelah tau aku hamil dua bulan. Suami saya mengabaikan kerjanya untuk mengurusku. Aku tetap bersyukur setiap minggu aku tetap ke gereja. Namun kebahagiaan itu hanya sampai anak saya berumur 9 bulan 2 minggu. Suami saya mulai selingkuh dengan perempuan lain. Dia tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi nafkah. Teman-temanku datang memberi tahu bahwa suamiku sedang bersama dengan selingkuhannya. Aku pun pasrah pada keadaan. Aku tetap berdoa agar Tuhan mempersatukan kami kembali. 3 bulan lamanya aku menunggu tapi suamiku tidak pernah pulang. Selesai sudah, dia menjalani dengan wanita- wanita pilihannya. Aku menjalani kehidupanku sebagai single parent.”
Perselingkuhan sangat merusak keharmonisan keluarga, apalagi berimbas kepada anak-anak. Anak-anak merasakan ketidaknyamanan dalam keluarga, sehingga kurang mengalami kasih sayang orangtua. Anak-anak juga tidak menemukan teladan yang baik dari orangtua sehingga berpengaruh pada kehidupan mereka di masa yang akan datang. Orangtua merupakan teladan utama dalam keluarga dalam menanamkan tindakan harmonis dan utuh bersatu. Keluarga Katolik di tengah badai dan gejolak apapun tetap bersatu dan utuh untuk menjadi teman sekerja Allah dalam penciptaan.
Dalam janji pernikahan pasangan yang menikah telah mengucapkan ikrar untuk setia baik dalam untung maupun malang, baik dalam situasi sehat maupun sakit. Dengan demikian, pernikahan Katolik mengajak setiap pasangan untuk mempertahankan pernikahan sampai akhir hayat. Oleh sebab itu keluarga Katolik diharapkan melibatkan Tuhan dalam setiap perjalanan keluarga, sehingga keluarga itu tetap kuat meskipun mengalami berbagai masalah.


