-8.6 C
New York
Wednesday, January 28, 2026

Benarkah Salib Terbalik Simbol Satanisme atau Anti Kristus?

Pada masa kini, banyak aliran atau sekte tertentu yang menuduh Gereja Katolik sebagai antikristus karena salib terbalik pada kursi Paus. Hal itu umumnya mereka lihat dari foto Beato Paus Yohanes Paulus II yang sedang duduk di kursi dengan lambang salib terbalik. Benarkah tuduhan semacam itu?. Pada kesempatan ini tim jalapress.com akan menyampaikan bantahan atau klarifikasi secara sederhana. Kita perlu tahu, bahwa tuduhan semacam itu merupakan tuduhan yang tidak tepat dan konyol. Salib terbalik memiliki makna yang dalam dan sangat Katolik.

Dalam tradisi Katolik, salib terbalik merupakan Salib Santo Petrus. Menurut kesaksian para Bapa Gereja, Rasul Petrus dihukum mati dengan cara disalib, namun ia memilih disalib terbalik karena merasa tidak layak disalib seperti Kristus. St. Jerome (342-420) berdasarkan penelitiannya terhadap dokumen- dokumen sejarah di Roma mengatakan, ““Simon Petrus,… saudara Andreas Rasul, dan ia sendiri adalah pemimpin para rasul, setelah menjadi uskup di Antiokhia dan pemberitaan kepada kaum Yahudi yang tersebar… di Pontus, Galatia, Kapadosia, Asia dan Bitinia, di tahun kedua pemerintahan Kaisar Claudius, pergi ke Roma untuk mengusir Simon Magus, dan mendirikan di sana tahta suci selama dua puluh lima tahun sampai tahun terakhir Nero, yaitu ke-empat belas. Oleh Nero ia dipaku di kayu salib dan dimahkotai dengan kemartiran, kepalanya di bawah terarah pada tanah, sedangkan kakinya terangkat tinggi, sebab ia berkeras bahwa ia tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhan-nya….Ia dikuburkan di Roma di Vatikan, dekat Via Triumphalis, dan dirayakan dengan penghormatan seluruh dunia.”

Dengan demikian kita tidak bimbang dengan tuduhan yang tidak berdasar dari orang-orang non-Katolik. Kita sendiri mengetahui bahwa Gereja Katolik menggunakan simbol salib terbalik pada kursi Paus untuk mengingat bahwa Paus adalah penerus Rasul Petrus, pemimpin Gereja perdana  (bdk. Yoh. 21:15-19). Selain itu, penggunaan salib terbalik merupakan simbol bahwa kepemimpinan Paus harus mengikuti teladan Rasul Petrus, yang rela menyerahkan nyawa untuk Tuhan dan Gereja-Nya.

Mengapa ada salib terbalik yang dipakai oleh kelompok Satanis?. Pendiri “gereja setan atau satanic Church” adalah seorang pendeta dari Amerika bernama La Vey. Salib terbalik yang dipakai oleh kelompok “gereja setan atau satanic Church” tidak sama dengan Salib yang ada pada kursi Paus. Dengan kata lain salib yang dipakai “serupa tetapi tak sama” terutama makna historis dan makna spiritual. Salib terbalik digunakan oleh kelompok Gereja Setan sekitar abad ke 18. Sementara pemakaian salib terbalik Rasul Petrus telah ada sejak abad pertama. Penggunaan salib terbalik oleh “gereja setan atau satanic Church” sebenarnya untuk mengecoh umat Kristiani terutama umat Katolik. Gereja Katolik justru semakin kokoh dan kuat sebab Yesus telah berjanji bahwa Gereja-Nya akan dijaga sampai akhir jaman dan alam maut tidak akan menguasainya. Dengan demikian mencocok-cocokkan Salib yang dipakai Paus dengan kelompok ‘gereja setan atau satanic Church” merupakan tindakan sia-sia dan konyol.

Penulis: Silvester Detianus Gea

avatar
Silvester Detianus Gea
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu-Esiwa, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan Strata 1 (S1) Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Menyelesaikan Strata 2 (2023). Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut serta menulis dalam Seri Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (Antologi); “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), Ayahku Jagoanku, Anakku Permataku, Guruku Inspirasiku, Hidup Berdamai Dengan Corona Vol. IV, dan Jalan Kenangan Ibuku Vol. IV (2021), Autobiografi Mini Kisah-Kisah Hidupku (2022), Kuntum-Kuntum Kasih Sayang Vol. 3, Keluargaku Bahagiaku Vol. 2, Ibu Matahari Hidupku Vol. 1 (2023), Ibu Matahari Hidupku (2024), Menulis Itu Sehat & Hidup Itu Anugrah (2025), Ikut menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama penerbit Ethos Logos Pathos (2024-sekarang), Menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama PT. Mitra Laksana Pelita (2025-sekarang). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com dan floresnews.net(2018-sekarang), Author jalapress.com/, dan mengajar di Sekolah Tarsisius Vireta (Website:https://www.tarsisiusvireta.sch.id/) (2019-2024), menjadi Wakil Kepala Sekolah SD Tarsisius 1 (Juli 2024-sekarang), Wakabid. Marketing, Humas & Pengembangan Usaha, Yayasan Bunda Hati Kudus (2025) Penulis dapat dihubungi melalui: Email: detianus.634@gmail.com Facebook: Silvester Detianus Gea. Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465. Akun tiktok https://www.tiktok.com/@orang_muda.katolik1. Akun Youtube: https://www.youtube.com/@Degeasofficial. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/de-gea-000825389/.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini