17.2 C
New York
Tuesday, May 24, 2022

Benarkah Hari Minggu Berasal dari Perayaan Kaum Pagan?

Banyak orang beranggapan bahwa perayaan hari Minggu berasal dari penyembahan dewa Matahari atau ritual pagan. Tentu saja anggapan seperti itu perlu dijawab agar tidak ada lagi orang yang gagal paham.

Pertama, perlu kita ketahui bahwa semua nama hari diambil dari nama dewa-dewi: Senin (Diana), Selasa (Mars), Rabu (Merkurius), Kamis (Jupiter), Jum’at (Venus), Sabtu (Saturnus) dan Minggu (Apollo).

Nah, jika kita beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu, apakah itu berarti bahwa kita menyembah salah satu dari dewa-dewi itu? Jawabannya: tentu saja tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya antara ritual keagamaan dengan penyembahan dewa-dewi. Jika kita mengatakan bahwa perayaan hari Minggu merupakan penyembahan terhadap salah satu dewa atau dewi, itu sama saja kita mengatakan bahwa semua agama menyembah dewa-dewi; sebab semua agama beribadah pada salah satu dari ketujuh hari itu.

Kedua, kebangkitan Yesus dari kematian terjadi pada hari pertama setelah hari Sabat (bdk. Mrk. 16:2, 9; Luk. 24:1, Yoh. 20:1). Selain itu, Yesus menampakkan diri kepada dua orang murid yang menuju Emaus dan kepada kesebelas rasul pada hari Minggu (bdk. Luk. 24:13-36, Yoh. 20:19).

Ketiga, bila kita menelusuri kebiasaan para rasul, kita akan menemukan bahwa  mereka berkumpul dan berdoa setiap hari, termasuk hari Minggu. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa, mereka selalu memecah-mecahkan roti sebagaimana pesan Yesus kepada mereka (bdk. 1 Kor. 11:23-29). Dengan demikian, kita menemukan bahwa para rasul tidak pernah memerintahkan supaya beribadah hanya pada hari Sabat.

Perayaan hari Minggu sebagai ‘Hari Tuhan’ juga diteguhkan oleh kesaksian dari Bapa-Bapa Gereja.[1] Berikut kesaksian mereka:

1). Ignatius dari Antiokhia (35-107).
Dalam suratnya kepada jemaat di Magnesia ia mengatakan: “Jika mereka yang hidup di keadaan terdahulu harus datang menuju pengharapan yang baru, dengan tidak lagi menerapkan hari Sabat tetapi melestarikan Hari Tuhan, pada hari hidup kita telah muncul melalui Dia dan kematiannya …., misteri itu, yang darinya kita menerima iman kita, dan di dalamnya kita berteguh agar dapat dinilai sebagai para murid Kristus, pemilik kita satu-satunya. Bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa-Nya, sedangkan faktanya para nabi juga sebagai para murid-Nya di dalam Roh Tuhan, menantikan Dia sebagai Pemilik?” (bdk. St. Ignatius, to the Magnesians, SC 10, 88-89).

2). Yustinus Martir (150-160 ).
Dalam First Apology-nya, ia mengatakan: “… pada hari yang disebut haru Minggu, semua yang hidup di kota maupun di desa berkumpul bersama di satu tempat, dan ajaran-ajaran para rasul atau tulisan-tulisan dari para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan, lalu ketika pembaca telah berhenti, pemimpin ibadah mengucapkan kata-kata pengajaran dan mendorong agar dilakukan hal-hal baik tersebut. Lalu kami semua berdiri dan berdoa, dan seperti dikatakan sebelumnya, ketika doa selesai, roti dan anggur dan air dibawa, dan pemimpin selanjutnya mempersembahkan doa- doa dan ucapan syukur … dan umat menyetujuinya, dengan mengatakan Amin, dan lalu diadakan pembagian kepada masing- masing umat, dan partisipasi atas apa yang tadi telah diberkati, dan kepada mereka yang tidak hadir, bagiannya akan diberikan oleh diakon .…..” (St. Justin, First Apology, ch. 67).

3). Hieronimus (347-420).
“Hari Minggu adalah hari Kebangkitan [Kristus], hari itu adalah hari umat Kristen, itu adalah hari kita” (St. Jerome, In Die Dominica Paschae II, 52: CCL 78, 550.)

4). Agustinus (354-430)
St. Agustinus mengajarkan tentang hari Minggu sebagai Hari Tuhan, sebagai berikut: “Oleh karena itu, Tuhan juga telah menempatkan meterai-Nya pada hari-Nya, yang adalah hari ke-tiga setelah sengsara-Nya. Namun demikian, dalam siklus mingguan, hari itu [Minggu] adalah hari ke-delapan setelah hari ke-tujuh, yaitu hari setelah hari Sabat, dan hari yang pertama dalam minggu” (St. Augustine, Sermon 8 in the Octave of Easter 4: PL 46, 841).

Sejauh ini kiranya jelas bagi umat Kristiani bahwa perayaan hari Minggu sesuai dengan ajaran para rasul dan para bapa gereja. Ajaran tersebut mempunyai dasar dan landasan Alkitabiah yang tak terbantahkan oleh siapapun. Perayaan hari Minggu adalah perayaan Kristiani yang telah memperoleh ‘kemenangan atas maut dan menjadi ciptaan baru seperti sejak semula ketika Allah menciptakan’.

[1] Pendapat Para Bapa Gereja dikutip dari www.katolisitas.org.

avatar
Silvester Detianus Gea
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu-Esiwa, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Sedang menyelesaikan program Pascasarjana (S2) Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Ikut serta menulis dalam Seri Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (Antologi); “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), Ayahku Jagoanku, Anakku Permataku, Guruku Inspirasiku, Hidup Berdamai Dengan Corona Vol. IV, dan Jalan Kenangan Ibuku Vol. IV (2021), Autobiografi Mini Kisah-Kisah Hidupku (2022). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini