1.8 C
New York
Tuesday, January 18, 2022

Bunda Maria Diangkat Ke Surga, Alkitabiahkah?

Dalam kunjungannya ke Gereja Gethsemani, St. Birgitta mengalami penampakan Bunda Maria. Ia bersaksi bahwa Bunda Maria menampakkan diri, menyatakan kebangkitan dan pengangkatannya ke surga pada hari ke-3.

Adapun Gereja Makam Maria di Yerusalem tersembunyi di bawah tanah. Makam itu terletak  di lembah Kidron dekat Gereja Segala Bangsa dan Taman Gethsemani. Sebuah Gereja bundar yang dibangun di atas makam Bunda Maria ditemukan sekitar tahun 455.

Pada awalnya, Gereja itu dibangun kembali oleh Mauritius Tiberius (582 – 602) namun dihancurkan orang-orang Persia pada tahun 614. Namun, Gereja tersebut dibangun kembali oleh seorang peziarah Armenia Arculf pada tahun 680.

Adapun bangunan Gereja yang dibangun kembali terdiri dari dua tingkat. Pada tingkat atas ada 4 altar dan pada bagian bawah mempunyai altar pada ujung timur. Sementara itu, makam Bunda Maria terletak di sebelah kanan. Prajurit Perang salib di kemudian hari hanya menemukan reruntuhan. Kemudian, mereka membangun kembali pada tahun 1130 ditambah dengan biara Benediktin.

Ketika prajurit perang salib kalah tahun 1187, Sultan Saladin menghancurkan seluruh bangunan Gereja bagian atas. Namun demikian, Biarawan Fransiskan memelihara dan merestorasi hingga diambil alih oleh Ortodox Yunani pada tahun 1757.

Kini, yang tersisa dari Gereja atas hanya lapangan dengan portal dan gerbang lengkung ditunjang 8 kolom marmer, yang diperkirakan berasal dari tahun 1130. Apabila turun 7 tangga ke dalam terdapat 48 anak tangga lebar di mana terdapat makam Ratu Melisande.

Pada anak tangga ke-20 menuju Gereja bawah sebagian besar gua dalam batu dan terlihat arsitektur Byzantin abad ke-5. Selain itu, terdapat  salib dengan palang yang tidak sama. Pada pusat palang sebelah timur memiliki panjang 52 kaki dengan lebar 50 kaki. Di sinilah terdapat makam Bunda Maria yang kosong sejak abad pertama.

Pada sisi yang menghadap ke pintu barat ada 3 lubang dibuat pada batu makam.[1] Paus Pius XII (1 November 1950) melalui dogma Munificentissimus Deus mengatakan: “Setelah menyelesaikan tugasnya di dunia, Perawan Maria diangkat jiwa dan raganya dalam kemuliaan suraga.”

Kiranya semakin jelas bagi kita bahwa baik pandangan bahwa Bunda Maria pernah dimakamkan atau langsung diangkat ke surga dapat diterima. Yesus sendiri berkata: “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempat_Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (bdk. Yoh. 14:3).

Wahyu 12:1-6 merupakan gambaran keberadaan Bunda Maria di surga. Isi perikop itu menggambarkan masa lampau yang dialami oleh Bunda Maria, St. Yusuf dan Yesus. Lebih dari itu kita bisa melihat ayat 5 yang menggambarkan Bunda Maria yang melahirkan gembala segala bangsa. Tidak ada gembala segala bangsa selain Yesus dan tidak ada perempuan lain yang melahirkan gembala segala bangsa selain Bunda Maria. Selain itu, Wahyu 12 merupakan gambaran masa depan kebangkitan yang dialami oleh murid-murid Yesus yang setia.

Dokumen Liber Requiei Mariae (Buku perihal beristirahatnya Bunda Maria) menegaskan kepercayaan pengangkatan Bunda Maria ke surga telah ada sejak abad ke-3 dan ke-4. Tradisi menjelaskan bahwa semua rasul hadir ketika Bunda Maria wafat. Sementara Rasul Thomas hadir 3 hari kemudian karena ia berada di India.

Ketika Bunda Maria dimakamkan, seorang Yahudi menghalangi. Ia menghalangi dengan memegang keranda tempat Bunda Maria. Maka terjadilah mukjizat, kedua tangan orang itu lepas dari tubuhnya. Tangan orang tersebut melekat kembali berkat doa para rasul dan pertobatannya.

Dokumen “The Passing of Mary” (Kepergian Maria) yang dianggap berasal dari Yusuf dari Arimathe memberi informasi bahwa Rasul Thomas saksi pengangkatan Bunda Maria. Rasul Thomas menyaksikan Bunda Maria menjatuhkan tali ikat pinggangnya dari langit sebagai bukti. Akhirnya, atas permintaan Thomas, makam Bunda Maria dibuka dan ternyata makam ini kosong.

avatar
Silvester Detianus Geahttps://www.ziarahnews.com/
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut menulis dalam buku bunga rampai "Ibuku Surgaku" (2020), buku bunga rampai "Ayahku Jagoanku" (2021). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
avatar
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini