Berbeda Itu Indah, Maka Jangan Dipersoalkan!

0
469
rawpixel / Pixabay

Sebuah foto dibagikan beribu-ribu kali di media sosial. Hanya dalam hitungan jam dan hari, foto tersebut menyebar luas di jagat dunia maya. Sepintas, foto ini biasa saja; hanya foto jabat tangan. Tapi, menjadi tidak biasa karena yang berjabat tangan dalam foto tersebut adalah seorang wanita berhijab asal Indonesia, yang belakangan diketahui bernama Dewi Praswida, dengan pemimpin tertinggi Gereja Katolik se-dunia, Paus Fransiskus.

Tanggapan warganet terhadap foto viral tersebut rupanya beragam: ada yang senang melihatnya, ada yang merasa biasa saja, tapi tidak ketinggalan, ada juga yang menghujatnya. Biasalah, bukan orang Indonesia namanya kalau tidak menghujat. Iya kan?

Secara pribadi, saya sangat senang melihat foto tersebut. Saya berpikir bahwa di tengah banyaknya ujian terhadap kerukunan antar-umat beragama yang marak terjadi belakangan ini, kita butuh sesuatu yang bikin adem di hati. Tak harus melalui sesuatu yang besar dan heboh; hanya dengan melihat foto seperti ini saja rasa-rasanya sudah cukup.

Dengan tersebarluasnya foto tersebut, saya dan Anda menjadi sadar bahwa ternyata keberagaman itu indah. Bahwasanya, Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Tidak ada orang yang Tuhan ciptakan sama persis, bahkan anak kembar sekalipun. Mereka mungkin saja mirip, tetap tidak sama. Perbedaan adalah Mahakarya dari Tuhan.

Negara kita mengakui betapa besar karya Tuhan itu lewat semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ – Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dengan adanya semboyan tersebut, membuat bangsa ini semakin kuat; karena arti bhineka tunggal ika merujuk pada persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pendiri bangsa ini sudah sejak awal menyadari bahwa perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan, artinya tidak bisa tidak, harus ada. Justru kalau kita memaksakan diri untuk membuat semuanya sama, itu sama saja kita menghina karya Tuhan.  Maka, sebagai bagian dari bangsa, sudah sepatutnya kita harus mengamalkan semboyan tersebut pada kehidupan sehari-hari.

Kalau kita mau jujur, perbedaan itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jangan dikira bahwa di rumah tidak ada perbedaan. Antara ayah, ibu, dan anak-anak, misalnya, tentu saja mempunyai banyak perbedaan dalam hal selera makan, pilihan warna, hobi, film kesukaan, dan sebagainya.

Nah, jika di rumah sendiri saja demikian adanya, apa lagi di luar rumah. Maka, jangan heran jika pada saat kita membuka pintu rumah kita, sudah terbentang di depan mata kita beraneka ragam perbedaan. Lalu, apakah kita perlu menolak perbedaan-perbedaan itu? Tentu saja jawabannya: tidak. Menolak perbedaan bukan sikap yang pantas.

Kita tidak perlu menolak adanya perbedaan. Lagipula, sekalipun kita menolaknya, perbedaan itu tetap ada. Maka, sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan adalah dengan mensyukurinya. Kita bersyukur karena kita berbeda; sebab karena adanya perbedaan itu, makanya hidup kita menjadi berwarna; dan sesuatu yang berwarna itu sudah pasti indah. Bukankah begitu?

Lagipula, justru karena kita bhinneka, makanya sila ketiga Pancasila, yaitu ‘Persatuan Indonesia’ menjadi benar-benar bisa terwujud. Kita bersatu karena kita berbeda. Jika saja kita tidak berbeda, dalam artian sama semuanya, buat apa kita disatukan? Tidak ada yang perlu disatukan jika semuanya sama saja. Laki-laki dan perempuan bersatu karena mereka berbeda; dan persatuan mereka itu melahirkan sesuatu yang indah, yaitu kelahiran anak.

Jika saja dunia ini hanya terdiri atas laki-laki semuanya atau perempuan semuanya, maka saya sulit membayangkan apa yang akan terjadi. Mungkin yang akan terjadi hanyalah ‘jeruk makan jeruk’; dan sudah pasti kita semua tidak menginginkan hal itu terjadi. Karenanya, sekali lagi, perbedaan itu jangan pernah ditolak, tetapi sebaliknya, disyukuri.

Apalagi, kita ini adalah orang-orang beriman. Sebagai orang beriman, kita harus saling mengasihi meski kita berbeda. Jangan mengaku beriman jika kita tidak mau mengasihi. Justru sebaliknya, semakin kita beriman kepada Tuhan, seharusnya kita semakin mengasihi sesama; sebab Tuhan adalah kasih. Dia yang Mahakasih itu mengasihi semua orang tanpa tebang pilih. Ia menurunkan hujan baik kepada orang benar, maupun kepada orang jahat.

Jika ada orang mengaku beriman, tapi dalam kehidupan sehari-harinya ternyata membenci sesamanya manusia, itu berarti bahwa orang bersangkutan sebenarnya tidak sungguh-sungguh beriman –alias beriman secara setengah-setengah, atau mungkin saja mengaku beriman tapi ternyata tidak beriman sama sekali.

Karena itu, mari kita hentikan segala macam caci maki, hujatan, dan fitnah. Jangan sampai ada lagi permusuhan di antara kita, hanya karena kita berbeda suku, agama, dan ras. Ingat, bumi ini diperuntukkan bagi semua, siapa saja tanpa terkecuali. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Jika Tuhan tidak menghendaki adanya perbedaan di antara kita, tentulah Ia tidak pernah menciptakan kita secara berbeda-beda.

Nah, kalau kita masih saja terus mempersoalkan perbedaan, itu tandanya kita perlu untuk merenungkan secara serius apakah selama ini kita benar-benar mengimani Tuhan atau tidak. Sekiranya kita sungguh mengimani Tuhan, kita tidak akan pernah melawan kehendak-Nya.

Ingat, kebhinnekaan adalah kehendak Tuhan sendiri. Dialah yang menginginkan dunia ini bhinneka. Maka, anti terhadap kebhinnekaan berarti menyangkal kehendak Tuhan. Siapa kita untuk menyangkal kehendak Tuhan?

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.