3 C
New York
Monday, January 12, 2026

Berdoa tanpa Batas — Renungan Harian

Berdoa tanpa Batas: Renungan Harian Katolik, Sabtu 17 November 2018 — JalaPress.com; Bacaan I: 3 Yoh. 1:5-8; Injil: Luk. 18:1-8

Kita ini adalah pengikut Kristus; orang-orang yang beriman kepada Kristus. Tandanya kita sebagai pengikut Kristus, yaitu bahwa kita mengikuti ajaran Kristus. Apa ajaran Kristus? Tidak lain adalah ajaran kasih.

Yesus memperkenalkan kepada kita HUKUM KASIH. Ia berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-39). Ia menambahkan bahwa ‘pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi’ (Mat. 22:40).

Apa buktinya bahwa kita mengasihi Tuhan? Yaitu kita terus membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Relasi yang baik itu tercermin dari komunikasi yang kita bangun dengan Tuhan. Itulah doa. Yesus menegaskan bahwa ‘Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya’ (Bdk. Luk. 18:7).

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada para murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Jangan mengaku sebagai pencinta Tuhan tapi dalam kehidupan sehari-hari justru malas berdoa.

Ketika seseorang mencintai, dia tidak mungkin tinggal diam. Paling tidak dia akan terus mencari perhatian atau memberi perhatian, misalnya dengan berkomunikasi terus-menerus. Jika kita mengaku sebagai pencinta Tuhan, mestinya kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam dan melalui doa.

Jangan pernah menghitung doa. Pernahkah kita menghitung berapa kali kita berkomunikasi dengan orang yang kita cintai? Cukup tiga kali sehari, sehingga seperti minum obat? Tentu tidak. Tuhan mau supaya kita selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.

Doa yang rutin dan diulang-ulang mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Bahkan, dari bacaan hari ini dikatakan, diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan memperhitungkan doa dari hamba-hamba-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya. Makanya dipercaya bahwa doa novena mempunyai daya kekuatan yang luar biasa dan kemungkinan untuk dikabulkan sangat besar.

Kadang kita mau doanya satu kali tapi berharap Tuhan langsung mengabulkan doa kita. Tuhan juga pasti akan melihat keseriusan kita. Jika mau berdoa, jangan dihitung. Doa itu komunikasi. Seperti halnya kita berkomunikasi tidak dihitung, demikian juga doa jangan dihitung.

Orang yang mampu mengasihi Tuhan, seharusnya juga mampu mengasihi sesama. Dua hal ini sudah satu paket. Dengan kata lain, orang yang hidup doanya baik, mestinya hidup keseharian dengan sesamanya juga baik. Jangan mengaku sebagai pencinta Tuhan, jika dalam kehidupan sehari-hari kita cenderung tampil sebagai pembenci seama. Yohanes menasihatkan, katanya: “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing” (3 Yoh. 1:5).

Apa yang dikatakan oleh Yohanes ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Yesus berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39). Orang beriman tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Kita memperlakukan sesama, sekalipun orang asing, seperti kita memperlakukan diri kita sendiri.

Yohanes menuliskan: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allahdan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh. 4:20).

Di situlah letak hebatnya ajaran Yesus. Kita tidak hanya diminta untuk mengasihi orang-orang yang dekat dengan hidup kita, tetapi juga orang-orang asing, atau bahkan musuh sekalipun.

Yesus berkata: “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian” (Mat. 5:46-47).

Mengasihi orang yang dekat dengan hidup kita, itu biasa. Mengasihi orang yang kita cintai, itu lebih biasa lagi. Yang luar biasa adalah kalau kita mampu mengasihi orang asing dan mengasihi musuh. Yesus bersabda: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).

Tentu tidak gampang untuk menerapkan ini di dalam kehidupan sehari-sehari karena kita masih dililit oleh ego kita masing-masing. Tetapi, tidak berarti bahwa kita tidak bisa melakukannya. Kita tentu saja bisa melakukannya, asalkan ada niat dan usaha.

Semoga kita semua mau membangun relasi yang baik dengan Tuhan melalui hidup doa yang baik; serta mau membangun relasi yang baik dengan sesama, siapapun mereka, entah teman dekat, orang asing, bahkan musuh sekalipun. Yakinlah, Tuhan akan memperhitungkan semua perbuatan baik kita. Amin.

avatar
Jufri Kano, CICM
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini