Istilah-istilah Katolik Yang Paling Sering Disalahgunakan

0
4499
Clker-Free-Vector-Images / Pixabay

Oleh Pat Archbold untuk National Catholic Register

Kita seringkali mendengar umat Katolik yang menggunakan istilah-istilah Katolik yang terkesan resmi dalam argumen mereka atau untuk membantah orang lain, akan tetapi apakah kita benar-benar mengerti apa arti dari istilah-istilah tersebut?

Saya akan mencoba menjelaskan, secara memungkinkan dalam istilah-istilah paling mendasar, artian dari penggunaan masa kini akan istilah-istilah tersebut dan bagaimana saya rasa mereka digunakan secara tepat ataupun tidak tepat sasaran.

SEDEVACANTIST

Kita sering mendengar istilah ini. Definisi riilnya sederhana. Para sedevacantist mempertahankan bahwa, oleh karena Paus modern (masa kini) telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang nampaknya berkontradisi dengan Tradisi dari Gereja, dan oleh karena para Paus, yang melalui kebajikan infalibilitas mereka haruslah sempurna dalam hal-hal tersebut, maka dari itu para Paus ini bukanlah Paus sejati. Alhasil, para sedevacantist meyakini bahwa takhta Petrus sedang kosong atau “sede vacante”. Sebagai sebuah kelompok, para sedevacantist adalah subset paling kecil dari subset terkecil. Engkau mungkin tidak pernah bertemu seorang sedevacantist dan engkau harus gembira oleh karena fakta tersebut.

Penyalahgunaan: Jadi bila orang-orang yang tersesat ini mewakili jumlah riil yang amat kecil, mengapa kita sering mendengar istilah tersebut? Secara sederhana, banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan secara mengejek para Tradisionalis di dalam Gereja yang secara umum berpegang kepada bagian pertama dari formula yang saya kemukakan di atas. Bila seseorang memegang pandangan bahwa Sri Paus telah mengatakan atau melakukan hal yang nampaknya berkontradisi kepada Tradisi Gereja, maka mereka haruslah seorang sedevacantist. Mereka ingin engkau mempercayai bahwa orang-orang seperti itu adalah kelompok pinggiran dari pinggiran dan harus diabaikan. Akan tetapi mereka luput akan bagian kritis lainnya dari istilah tersebut, bahwa para sedevacantist haruslah meyakini bahwa Sri Paus haruslah sempurna atau dia bukanlah seorang Paus.

Sebagian besar dari mereka yang dicap rendah sebagai sedevacantist [justru] menolak anggapan bahwa Paus haruslah sempurna. Jadi diskusi ini secara alamiah menuju kepada istilah lainnya…

ULTRAMONTANIST

Biasanya istilah ini berarti seseorang yang mengatributkan prerogatif dan kuasa yang luas akan jabatan dan pribadi Paus. Istilah ini mempunyai sejarah yang panjang sebagai hinaan, sekalipun istilahnya telah bermetamorfosis jauh sepanjang beberapa abad. Ia secara umum digunakan sebagai hinaan kepada umat Katolik oleh sekte-sekte Protestant.

Istilah ini lebih rumit karena definisinya tidak benar-benar baku, akan tetapi dalam bahasa modern, ia digunakan untuk menjabarkan seorang Katolik yang mempunyai pandangan bahwa kesemuanya yang dibutuhkan untuk menjadi Katolik adalah setuju dengan Paus. Seseorang cukup mengikuti Paus karena Paus adalah perwujudan infalibilitas sempurna akan apa yang dimaksud menjadi seorang Katolik di masa kini, sebuah kultus akan Kepausan. Sekali lagi, kemungkinan hanya sebuah subset kecil dari sebuah subset yang sejatinya memegang posisi ini.

Penyalahgunaan: Istilah ini digunakan untuk mencemooh mereka yang menolak kritikan akan Paus. Ejekan ini biasanya dibingkaikan untuk membuatmu mempercayai bahwa siapapun yang memberikan manfaat dari keraguan akan sang Paus maka orang tersebut akal budinya sudah dikuasai oleh kultus Kepausan. Secara lebih umum istilah itu diaplikasikan kepada mereka yang meminimalisir atau menyangkal pematahan dengan Tradisi yang dipandang oleh banyak umat Katolik secara jelas, dan atau mengambil pandangan bahwa semua umat Katolik haruslah memberi penerimaan umum dan menghormati pernyataan-pernyataan kepausan atau tindakan-tindakannya dan bahwa kritikan akan hal-hal tersebut haruslah dihindari. Ini adalah sebuah penggunaan istilah terlalu luas yang digunakan untuk mengelompokkan mereka yang tidak menyukai kritikan akan Paus dengan mereka yang meyakini kritikan tersebut tidak-Katolik.

Secara realita, sedevacantisme dan utlramontanisme adalah dua sisi berbeda dari sebuah koin yang sama. Keduanya meyakini bahwa Paus haruslah sempurna. Para sedevacantist mencela ketidaksempurnaan dengan menyangkal bahwa takhta tersebut terisi sedangkan para ultramontanist memeluk sang manusianya dan mencela siapapun yang menunjukkan ketidaksempurnaannya. Dalam kedua hal tersebut, mereka gagal untuk menjadi seorang Katolik yang menyeluruh.

SENSUS FIDELIUM

Mungkin tiada istilah yang lebih sering disalahgunakan dan disalahartikan dibanding istilah satu ini. Sensus Fidelium, Katekismus mengajarkan kepada kita, ialah “…sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati [sensus fidei] segenap umat, bila ‘dari para Uskup hingga para awam beriman yang terkecil’ mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan”[1]. Secara singkat, ia adalah apresiasi dan persetujuan oleh umat beriman kepada apa yang sudah sedari dulunya benar.

Penyalahgunaan: Di masa kini, banyak orang yang mengambil pandangan bahwa Sensus Fidelium adalah semacam Dewan Perwakilan Rakyat Katolik yang diisi oleh umat beriman. Semacam legislatif Katolik agung yang tidak terkekang oleh tatanan perwahyuan yang ketat, bebas untuk mengesampingkan semua pengajaran Katolik sampai kepada dan termasuk kata-kata Yesus sendiri. Bahwa entah bagaimana, bila ada cukup banyak orang yang berkumpul dalam nama dusta, kita secara kolektif mempunyai kuasa untuk mengubah benak Allah seolah-olah Dia adalah seorang tiran yang kecil atau seorang birokrat yang harus mengesahkan kehendak rakyat karena takut akan mereka.

Kontrasepsi adalah contoh sempurna. Beberapa mengacu kepada penggunaan kontrasepsi yang meluas dan menjadi umum oleh ‘umat Katolik’ sebagai sebuah ‘sensus fidelium’ dan menolak pengajaran Gereja. Penolakan akan kebenaran oleh mayoritas mempunyai kuasa untuk memaksa Gereja (dan Allah) untuk mengubah kebenaran, untuk mendeklarasikan kebenaran baru.

Secara realita ‘sensus fidelium’ tidak mempunyai kuasa untuk mendeklarasikan apapun, perannya adalah untuk mengangguk dan berlutut dalam penerimaan kebenaraan secara penuh kegembiraan.

Ada banyak lagi kata-kata yang secara umum disalahartikan dan disalahgunakan, akan tetapi mereka adalah untuk postingan berikut.

CATATAN KAKI
[1] Katekismus Gereja Katolik #92 http://www.ekaristi.org/kat/index.php?q=92

SUMBER ASAL http://m.ncregister.com/…/p…/the-most-misused-catholic-words

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289