Kabar tentang kelahiran Yesus pertama kali diketahui oleh para gembala, yang notabene adalah orang-orang kecil. Penginjil Lukas menuliskan bahwa ketika Yesus lahir, seorang Malaikat mendatangi para gembala itu dan berkata kepada mereka: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11).
Kita mestinya bertanya: Mengapa berita yang begitu penting itu justru diberitahukan kepada para gembala dan bukan kepada para pemuka agama dan tokoh-tokoh elite? Apakah ini suatu kebetulan, karena pada saat itu para gembala itu berada tidak jauh dari Betlehem?
Kita semua mengetahui bahwa para gembala itu merupakan kumpulan orang sederhana. Kesederhanaan itu mencakup segala hal, termasuk dalam cara berpikir dan bertindak. Makanya, ketika mereka mendengar perkataan dari Malaikat tentang kelahiran Yesus, tanpa ada diskusi panjang lebar, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Alhasil, di sana mereka mendapati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring dalam palungan. Mereka melihat Tuhan.
Bayangkan jika berita mengenai kelahiran Yesus itu terlebih dahulu disampaikan kepada kelompok elite, seperti raja Herodes. Bisa jadi ribet. Dia mungkin akan rapat terlebih dahulu dengan petinggi-petingginya, serta diskusi dan timbang-timbang dulu dengan mereka; jika ada pro-kontra, debat dulu untuk mencari kata sepakat, dan sebagainya (bdk. Mat. 2:3-4). Akibatnya, mungkin mereka baru selesai pertemuan, bayi Yesus sudah tidak ada lagi di kandang hewan; karena sudah keburu dibawa pergi oleh kedua orang tuanya.
Para gembala tidak serumit itu. Setelah mereka mendengar kabar mengenai kelahiran Yesus, mereka mengajak satu dengan yang lain, lalu bergegas pergi melihat bayi itu. Begitu sederhana cara berpikirnya, bisa di-bilang polos juga, dan tidak ribet tentunya. Nah, cerita mengenai para gembala itu mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin menemui Tuhan, temuilah Dia segera. Jangan tunda. Jangan bilang besok, sebentar, atau lusa.
Tidak berhenti di situ, kabar penting mengenai kelahiran Yesus juga justru disampaikan kepada orang jauh, yaitu tiga raja dari Timur, dan bukan kepada Herodes. Lagi-lagi, Herodes selaku penguasa wilayah diabaikan. Pertanyaannya: mengapa Herodes dilangkahi?
Kita harus sepakat bahwa kabar penting mengenai kelahiran Yesus hanya boleh disampaikan kepada orang yang layak menerimanya. Layak tidaknya seseorang menerima kabar baik itu tidak dilihat atau diukur dari status sosialnya, melainkan dari kesiapan hatinya untuk menerima kabar itu.
Herodes jelas bukanlah seseorang yang layak; sebab hatinya tidak siap untuk menerima kabar itu. Kita bisa melihat itu dari reaksinya. Ia terkejut (Mat. 2:3), panik dan marah (Mat. 2:16a), serta mulai merancang rencana busuk (Mat. 2:16b). Penginjil Matius mencatat bahwa Herodes menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu (Mat. 2:16).
Bisa dibayangkan jika kabar sukacita kelahiran Yesus disampaikan pertama kali ke telinga Herodes. Bisa jadi, cerita Natal kita tidak akan pernah ada; sebab boleh jadi Herodes membunuh Yesus sejak bayi. Maka, menjadi masuk akal-lah bagi kita sekarang mengapa dalam berita penting ini Herodes dilangkahi. Ia tidak diberitahu sedikit pun soal kelahiran Yesus, kecuali dari mulut orang Majus itu.
Herodes marah. Ia merasa diperdayakan oleh orang Majus. Tapi, sungguhkah ia diperdayakan? Tentu saja tidak. Ia bukannya diperdayakan, tapi memang tidak pantas mendapat kabar baik itu.
Kadang kita seperti Herodes. Kita merasa diabaikan, dilangkahi, dan disepelekan. Ada sekian berita atau informasi penting lolos dari telinga kita. Padahal, mungkin kita merasa bahwa seharusnya kita diberitahukan mengenai informasi-informasi itu. Tapi, sebelum kita menyalahkan orang lain, baiklah terlebih dahulu kita melihat ke dalam diri kita masing-masing, barangkali ada yang keliru dengan sikap kita.
Orang lain menyepelekan kita boleh jadi itu bukan salah mereka; tetapi karena memang dalam kenyataannya kita cenderung memberikan energi negatif daripada energi positif; yang membuat orang lain merasa enggan untuk menyampaikan informasi penting lainnya kepada kita. Jika mau dihargai dan dihormati, bangunlah energi positif kepada lingkungan sekitar; dan jangan suka nyinyir. ***


