10.4 C
New York
Monday, April 12, 2021

Kang Je (nggak) Perlu Dibela

Musim hujan tiba.
Seperti yang sudah-sudah, musim hujan begini kudu banyak beberes kamar termasuk nge-cat dinding kamar yang terkena dampaknya. Karena lokasi kamarku ini masuk daerah lembab, dinding jadi tak sedap dipandang dan alasan tidak baik juga buat kesehatan.
Maka, setelah jiwa raga sudah seratus persen sadar dari bangun pagi, kusiapkan semua perlengkapan ngecat dinding kali ini. Tidak terlalu banyak karena cuma sebagian tembok. Tapi, tetap saja merepotkan. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

Ditemani lagu dari radio dan cerahnya cuaca, kulakukan pekerjaan yang jarang-jarang ini dengan segera sebelum lebih siang. Sesekali aku beristirahat sejenak, membuang lelah.
“Cape ya ngecet itu? Sini Ku bantu,” suara yang kukenal baik terdengar dari arah samping kanan.

“Heh? Kang Je? Walah…. Kapan datang?” aku sangat terkejut begitu mengetahui siapa yang ada di sebelahku kini. Hampir saja aku melompat kaget.
Orang di sebelahku tersenyum manis. Dia mengambil kuas di tanganku lalu mulai mengecat.
Mulutnya bersiul-siul kecil. Sementara aku malah bengong dan bingung sendiri.
“Semalam bisa tidur? Katanya tadi bangun pagi kepalanya rada pusing?” tanya Kang Je santai.

“Iya, Kang… Semalam kan matengin tivi karena kegiatan yang tadinya damai, malah rame itu lho…,” jawabku malah membantu apa yang dikerjakan Kang Je kini.
“Lalu, kenapa nggak istirahat saja? Kan Sabtu kamu libur?”
“Waaaa… Sudah beberapa Sabtu ini aku nggak bisa beberes kamar. Nanti bisa lebih berantakan kamarku,” jawabku. “Lagian, ini kan juga demi kesehatan. Ditunda-tunda bisa bahaya…”

“Nggak pengen liat sisa kejadian kemarin? Sekalian ngecek teman-temanmu di sana, siapa tahu ada yang harus ditengok?”
Aku menggeleng. “Aku di sini juga harus menyelesaikan urusanku sendiri dulu, Kang… Kalau ini beres, boleh juga ke sana. Tapi, kalau sudah aman sentausa ya…”
Kang Je menyudahi pekerjaannya.
Cepat juga.
Tembok kamarku jadi rapi. Padahal tadi sempat belang belonteng.
Ah… Aku lupa. Dia kan yang bisa segala, termasuk merapikan yang belang belonteng dibuat manusia….

Sebentar dikibas-kibaskan jubah putihNya itu. Kang Je duduk di lantai, melepas lelah.
Kusodorkan air putih sekadar penghela haus yang mungkin muncul karena semangat mengecat barusan. Kang Je langsung meminumnya sampai habis. Tentu saja dengan sigap kuisi penuh lagi.

“Aku senang kamu memilih memberesi yang berhubungan dengan dirimu sendiri dulu, baru mencoba keluar. Seperti yang pernah Kukatakan padamu, kasihanilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
Aku terdiam. Sekain kali aku diingatkan ayat itu.
Ya, semoga aku semakin mengasihi diriku sendiri karena demikianlah aku mengasihi orang lain.

“Apa rasamu melihat peristiwa kemarin?” tiba-tiba raut wajah Kang Je berubah serius.Senyum manisnya itu menghilang dari wajah teduhnya itu.
Aku pun memandangnya tak kalah serius.
“Kenapa nanya gitu, Kang? Kang Je juga terusik?”
Kang Je mengelap wajah dengan tanganNya.

Terlihat keprihatinan terkias di sana. Mungkin ada berjuta rasa melebihi rasa kaget, sebal bahkan marahku begitu semalam melihat peristiwa demo rusuh itu di televisi.
“Aku mengasihi mereka, anak-anakKu. Aku juga mengasihi kamu… Kalau ketika kasih ini Kusebarkan kepada kalian semua, mengapa kamu tidak juga saling mengasihi?”
“Kan masalahnya bukan itu… Masalahnya soal bagian agama yang konon dinistakan,” belaku.
Mendadak Kang Je menghadapku. Pandangan matanya beda dari yang pertama. “Menurutmu, agama itu apa?”

Wah pertanyan serius lagi ini…. Aku berpikir dulu.
“Apa ya…” Aku mengetuk-ngetukkan jari manisku di ujung dagu, “Mungkin seperti naik mobil kali ya, Kang… Bisa jadi kita tujuannya sama, tapi naik mobilnya beda-beda. Tergantung kita nyamannya gimana.”

Senyum yang menggambarkan kedamaian dan keteduhan itu berkembang lagi.
Lebar sekali. Seperti langit yang cerah di atas sana. Burung pun berkicauan dan menari kian kemari. Indah sekali hari ini.

“Tapi, dalam perjalanannya kan, naik mobil juga suka ugal-ugalan Kang. Kadang malah sengaja nabrakin ke orang yang nggak ada hubungannya. Bukan karena ada masalah, tapi sok-sokan aja,” gerutu saya kalo ingat kejadian di jalan raya akhir-akhir ini.
“Maka, ikutilah aturan rambu lalu lintas. Jangan dilanggar. Turuti juga apa yang dibilang atau diingatkan polisi yang mengatur,” jawab Kang Je mantap.

“Kalo polisinya ternyata pungli, Kang?”
“Ya jangan dituruti dong… Laporkan ke Satgas pungli yang sudah dibuat pemerintah.”
“Haha…,” aku tertawa senang. “Kekinian juga dirimu, Kang…”
Kang Je tersenyum bangga sambil mengangkat kepala seolah bangga. “Iya, dong… Emang kamu aja?”

Sebentar kami ngobrol ngalur ngidul termasuk rencana masak hari ini.
Aku memang berencana buat lodeh dengan lauk ikan goreng dan sambal. Kata Kang Je, dia mau nunggu sampai masakanku kelar. Nggak mau pergi karena perutnya lapar setelah ngecat tadi…

“Tapi, Kang… Gantian aku nanyaya…, menurut Kang Je, apa yang dilakukan oleh orang yang didemo itu salah atau benar?” ganti aku yang nanya serius.
“Hmmm…” Kang Je bisa juga diam sebentar untuk mendapat jawaban pasti. “Kejadian ini mengajarkan kita banyak hal. Pelajaran tentang manusia itu tetap punya kekurangan dan kelebihannya. Kita nggak bisa menilai orang dari satu sisi saja. Bahwa itu menyakiti sebagian dari umatKu, Aku bisa mengerti. Namun, hendaknya itu tidak meluas apalagi menjadi alasan lain yang tidak ada hubungannya, Karena hal ini maka Aku sempat bersedih tadi. BagiKu… kalian semua anak-anakKu. Apa pun yang terjadi, kalian tetap anak-anakKu bahkan saat hatiku berulangkali kau susahkan….”

Suasana kembali sendu.
Keceriaan langit mendadak kelabu. Aku jadi ikut mellow dan terbawa suasana begini.
Kutebak dalam beberapa saat, hujan deras akan menerpa bumi. Mendungnya sudah pekat.
“Ngomong-ngomong… Aku penasaran banget..,” aku mencoba menutup sendu suasana dengan obrolan baru. “Apakah diriMu itu merasa perlu dibela, Kang?”
“Aku?” Kang Je menunjuk dirinya sendiri. “Buat apa?”
“Ya… Ya kan sebagai tanda cinta dan perhatian kepada Sang Maha…” Aku bingung sendiri menjawabnya.
“Halah…,” Ia mengibaskan tangan di hadapanku. “Kalau kamu mau bela Aku, mau pakai apa?”
Lagi-lagi aku diajak berpikir. “Pake apa ya…”
“Demo? Petisi?”
“Naaahhh… Petisi keren tuh, Kang…,” gurauku.
“Petisi apa? Petisi onlen itu? Walaaahhh…. Mau berapa ribu yang bersedia paraf dengan judul Membela Kang Je?”

Aku senyum-senyum nggak jelas. “Bisa lebih dari itu, Kang… Lebih buanyuak…,” aku membuat gerakan tangan yang menyatakan sesuatu yang banyak.
“Okelah… Kalau sudah begitu, apa dampaknya? Bakal banyak yang mengikuti Aku? Atau malah menghujat karena cara-caranya umatNya yang aneh begitu?”
“Nah itu…” Aku seperti disadarkan. Bener juga ya…
Kang Je merapatkan dudukNya, “Aku nggak perlu dibela, anakKu. Aku yang justru akan membela kamu. Kalau kamu mau membela Aku, belalah hati dan hidupmu supaya bisa memancarkan suka cita dan kasihKu yang sesungguhnya…”
Duh.

Kang Je ini lho… Jarang-jarang berkunjung, sekali berkunjung bikin aku merasa disentil terus. Dan, herannya, sentilannya itu betul banget. Betapa aku, manusia yang penuh dengan kekurangan ini kadang memang lebih sering menuruti nafsu daripada ketduhan kasihNya yang selalu mengajarkan kebajikan kepada siapa saja.
“Ayo sudah… Jangan banyak ngobrol lagi… Mau hujan pula. Sayur lodeh dan ikan gorengmu nggak jadi dimasak nanti lho… Aku lapar nih…” Kang Je menunjukkan perutnya yang…. Hihi…, ternyata sedikit buncit. Bukan six pack…
Baiklah, Kang…
Terimakasih untuk kedatanganmu hari ini.
Sekarang bantuin aku masak ya….

Anjar Anastasia
Saya senang menulis, menulis apa saja maka lebih senang disebut "penulis" daripada "novelis" berharap tulisan saya tetap boleh dinikmati masyarakat pembaca sepanjang masa karena ... menulis adalah berbagi hidup .... Novel yang pernah saya tulis antara lain: Renjana: Yang Sejati Tersimpan di dalam Rasa (Gramedia), Kirana Cinta (Gramedia), Everything I Do (Gramedia), dan beberapa lagi.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Ikuti Kami

10,547FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Artikel Terkini