Kerahiman Ilahi

0
52
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-NzIO1NaZAS0%2FWna0cpUfKyI%2FAAAAAAAACu8%2F1Ria_PS1rzcMYh8UZT-PUjcpPqnPf6xDQCLcBGAs%2Fs1600%2F315814.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fgemaliturgi.blogspot.com%2F2018%2F02%2Fmengenal-devosi-kerahiman-ilahi.html&tbnid=o2XuB-FSp7YKhM&vet=12ahUKEwiw86L4p_PoAhUhGSsKHfexBlwQMygRegUIARCcAg..i&docid=lbFxk9992QvjVM&w=287&h=380&q=minggu%20kerahiman%20ilahi&safe=strict&ved=2ahUKEwiw86L4p_PoAhUhGSsKHfexBlwQMygRegUIARCcAg

Hari ini adalah Hari Minggu Paskah II. Pada hari ini juga Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Karena itu, hari Minggu Paskah II ini juga disebut hari Minggu Kerahiman Ilahi. Hal ini ditetapkan pertama kali oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 30 April 2000, bertepatan dengan kanonisasi (pemberian gelar kudus) kepada Faustina, seorang perempuan hebat asal Polandia yang kepadanya Tuhan Yesus menampakkan diri dan meminta Gereja untuk melakukan devosi Kerahiman Ilahi yang lazim disebut Koronka.

Pesan-pesan Yesus dalam penampakan kepada santa Faustina mengajak kita untuk semakin mengimani kerahiman dan belas kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya, Sang Wajah Kerahiman Ilahi. Kita mengalami kerahiman Allah itu melalui dan dalam diri Kristus.

Pesta kerahiman Ilahi ini dikehendaki oleh Yesus sendiri yang disampaikan-Nya kepada St. Faustina sebagaimana tercatat dalam Buku Harian Faustina. “Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmat pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku.”

Penetapan Hari Minggu Paskah II sebagai pesta kerahiman Ilahi ini juga sejalan dengan pandangan St. Agustinus, tokoh besar dalam Gereja, yang melihat hari-hari oktaf Paskah sebagai hari-hari kerahiman dan pengampunan Tuhan. Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan kita manusia. Itulah kerahiman-Nya yang tak terhingga.
ABC Kerahiman Ilahi.

Pesan utama Minggu kerahiman Ilahi adalah Allah yang kita imani itu Allah yang Maharahim. Ia sangat mengasihi kita walaupun kita sangat berdosa. Kita harus sungguh-sungguh percaya akan hal ini. Jangan ragu! Ia yang Maharahim itu mengundang kita datang kepada-Nya dan mengalami pengampunan dan belas kasih-Nya yang tak terhingga walau kita telah mengkhianati-Nya (Bdk. Kisah tentang Bapa yang Maharahim dalam Injil Lukas 15:11-32).

Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Allah. Melalui hidup dan pewartaan-Nya, kita dalam iman mengalami bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Setelah kita mengalami kasih Allah yang tak terhingga itu, kita perlu membagikannya kepada sesama. Kita diundang menjadi rasul belas kasih atau rasul kerahiman ilahi.

Agar umat beriman mudah mengingat pesan penting dan utama tentang kerahiman ilahi itu, maka dibuatlah sebuah singkatan terkenal ABC Kerahiman Ilahi. Apakah itu?

• Ask for His Mercy: Mohon belas kasih Allah

Umat beriman diundang untuk selalu datang kepada Allah yang Maharahim, walau telah berdosa atau mengkhianati kehendak-Nya. Umat beriman datang untuk berdoa, bersujud syukur dan memohon berkat untuk hidup selanjutya secara khusus memohon pengampunan dan belas kasih Allah yang Maharahim atas segala dosa yang telah dibuat. Tak hanya itu, umat beriman memohon pengampunan dari Allah yang Maharahim bagi dosa dunia (umat manusia). Tentang memohon belas kasih Allah ini, dalam doa Kerahiman Ilahi berulang kali disampaikan, “Kasihanilah kami dan seluruh dunia” atau “Tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”

Be Mercyful: Berbelas kasih kepada sesama

Setelah mendapatkan belas kasih dan pengampunan dari Allah yang Maharahim, umat beriman diutus menjadi rasul kerahiman ilahi. Menjadi rasul kerahiman ilahi berarti menjadi pribadi yang berbelas kasih kepada sesama. Tentang berbelas kasih kepada sesama ini, kita bisa bandingkan dengan sebuah pernyataan penting dalam doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Menjadi rasul kerahiman ilahi ini tidak selalu mudah karena kita cenderung hanya mau diampuni oleh Allah tapi tidak mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Sesungguhnya, bila belum mampu mengampuni sesama atau belum mampu berbelas kasih kepada sesama, kita belum menjadi rasul kerahiman ilahi.

Completely Trust: Percaya penuh kepada Allah

Allah menghendaki agar kita sungguh-sungguh percaya kepada kerahiman-Nya. Semakin percaya kepada-Nya, semakin banyak rahmat yang kita peroleh dari-Nya. Kalau semakin banyak rahmat yang kita peroleh, maka hidup kita pasti diliputi kegembiraan yang bersumber dari-Nya. Tantangannya adalah kita kadang-kadang ragu dengan kerahiman Allah. Kita tidak sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Tentu ini yang perlu selalu dibarui agar kita semakin percaya penuh kepada Allah dan hanya berkata, “Yesus, Engkau andalanku!”

Sakramen Tobat dan Ekaristi

Dua sakramen penting yang berhubungan langsung dengan Pesta Kerahiman Ilahi adalah sakramen Tobat dan Ekaristi. Sakramen tobat adalah sakramen yang menonjolkan secara mendalam tentang kerahiman Allah. Pada saat orang menerima sakramen tobat (pengakuan dosa), ia mengalami perjumpaan dengan Bapa yang Maharahim yang tak pernah membuang orang berdosa. Perlu disadari bahwa penerimaan sakramen ini mengandaikan kerendahan hati untuk mengakui kerapuhan dan dosa di hadapan Allah dan memohon pengampunan dari-Nya. Orang yang sudah menerima sakramen ini pasti hatinya diliputi kegembiraan sebab ia telah dibebaskan oleh Allah yang Maharahim dari kegelapan dosa. Ia telah menjadi manusia baru. Sebaiknya sebelum mengikuti Pesta Kerahiman Ilahi, umat beriman menerima Sakramen Tobat.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen perjumpaan dengan Yesus Kristus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi. Dalam diri Kristus, kita sungguh-sungguh mengalami kerahiman Allah. Bagi kita, Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup orang beriman (SC 10). Karena itu, kita perlu mencintai Ekaristi sepanjang hidup. Pada saat Pesta Kerahiman Ilahi, umat beriman perlu menerima Sakramen Ekaristi.

Tentang Ekaristi ini, Yesus memberikan pesan berikut ini kepada Santa Faustina. “Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan Diri-Ku dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)”

Apabila  umat beriman menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi pada Pesta Kerahiman Ilahi, maka Tuhan Yesus menganugerahkan pengampunan penuh atas segala dosa dan penghukuman. Janji Yesus ini disampaikan kepada Santa Faustina sebagaimana tercatat tiga kali dalam Buku Hariannya. “Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”

Yesus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi Menampakkan Diri

Dalam Injil Yohanes 20:19-31 yang dibacakan pada Minggu Kerahiman hari ini, kita mendengarkan kisah penampakan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus datang ketika para murid sedang takut. Mereka juga masih sedih, gundah karena Sang Guru mati secara mengenaskan di kayu salib.

“Damai sejahtera bagi kamu!” Ini kalimat penting yang disampaikan Yesus kepada para murid. Bahkan sampai tiga kali ia mengatakan kalimat ini. Yang mau ditegaskan adalah Ia pembawa damai sejahtera. Ia sungguh-sungguh telah bangkit dan kini datang membawa damai kepada yang percaya kepada-Nya; karena itu JANGAN TAKUT! Setelah itu, Ia menghembusi mereka dengan Roh Kudus.

Mereka yang hadir, percaya itu Tuhan, Dia sudah bangkit. Kecuali Thomas, yang kala itu tidak hadir. Ketika teman-teman bersaksi tentang kehadiran Yesus, Ia tak langsung percaya! “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Thomas menuntut bukti! Sampai akhirnya, delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri lagi kepada para murid, termasuk Thomas. Yesus menantang Thomas untuk memasukan jari pada bekas-bekas luka-lukanya. Thomas hanya bisa berkata, “Ya Tuhanku & Allahku!” Pengakuan iman yang luar biasa! “Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya!” Itu pesan Yesus kepada Thomas dan para murid. Kehadiran Yesus di tengah para murid tentu menguatkan, memberi semangat baru kepada para murid. Mereka segera bangkit dari ketakutan dan ketakpercayaan dan siap menjadi saksi kebangkitan.

Ada beberapa hal yang hendak saya garisbawahi tentang Injil hari ini.

Pertama, iman akan kebangkitan. Kita mengimani Kristus yang bangkit. Kita memang tidak melihatnya secara langsung, berhadapan muka. Tapi, dalam iman kita percaya, ia bangkit dan mengalahkan maut. Dengan itu, Ia menyelamatkan kita yang berdosa. Tidak melihat, namun percaya! Ini misteri iman kita. Menurutku, Thomas adalah tokoh penting yang perlu direnungkan. Ia adalah gambaran sikap manusia sepanjang zaman, gambaran diri kita. Kita sering menuntut bukti tentang kerahiman Allah. Kita sering ragu-ragu dalam beriman.

Kita memang tidak berjumpa langsung dengan Kristus. Kita percaya pada kesaksian para rasul yang ditulis dalam Kitab Suci, kesaksian umat beriman sepanjang zaman, ditambah pengalaman pribadi masing-masing. Dalam setiap pengalaman hidup, kita mengalami, Tuhan Yesus yang bangkit itu menjumpai kita, menyapa kita, memberikan damai sejahtera kepada kita, memberikan kekuatan tatkala kita lemah, memberikan kesembuhan ketika kita sakit, memberikan rejeki secukupnya ketika kita berkekurangan. Kita mengalami Allah yang Maharahim melalui pengalaman-pengalaman seperti itu. Sayangnya kita kurang menyadari semuanya ini.

Kedua, perutusan: Yesus mengutus kita untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kerahiman Allah tampak secara sempurna dalam Kristus. Setelah Yesus bangkit, ia mengutus para rasul untuk mewartakan kerahiman Allah dan menjadi penyalur kerahiman Allah bagi dunia. Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para rasul. Roh Kudus itulah yang menerangi hati dan budi mereka dalam mewartakan kebangkitan Kristus dan karya Allah yang mereka terima dan saksikan dalam perjumpaan dengan Kristus. Roh Kudus itu yang menyinari Petrus dan para murid, sehingga tanpa takut mewartakan Kristus dan melakukan banyak mukjizat. Roh Kudus yang sama juga akan menerangi kita saat ini dalam mewartakan Kristus yang bangkit. Kita diutus-Nya menjadi rasul-rasul jaman ini untuk meneruskan tugas Kristus.

Ketiga, isi Perutusan: Damai Sejahtera. Semua orang merindukan damai sejahtera. Itu hanya dapat diperoleh jika orang bersatu dengan Allah. Para rasul diutus untuk menjadi penyalur damai sejahtera; mewartakan damai sejahtera. Yang sakit disembuhkan, yang berkekurangan mendapatkan bantuan, yang disingkirkan dirangkul kembali dalam masyarakat atau Gereja. Tugas ini juga diberikan kepada kita sekalian yang percaya kepada Kristus. Seperti Petrus dan para murid yang lain, kita diutus Yesus menjadi penyalur rahmat-Nya, penyalur damai sejahtera kepada orang di sekitar kita: di keluarga, tempat bekerja, sekolah, masyarakat, dan di mana pun kita berada.

Semoga kebangkitan Kristus, Sang Wajah Kerahiman Ilahi, membuat kita terlahir kembali menjadi pribadi baru yang semakin berkenan kepada-Nya. Semoga kita semakin mengimani kebangkitan-Nya yang menyelamatkan kita dan kita semakin bersedia diutus menjadi pembawa damai sejahtera setiap hari melalui cara hidup kita yang bermutu. Selaras dengan Pesta Kerahiman Ilahi hari ini, semoga kita semakin tekun memohon belas kasih dan kerahiman Allah bagi diri kita dan dunia (Ask for His Mercy); semakin berbelas kasih kepada sesama atau menjadi rasul kerahiman ilahi (Be Mercyful) dan percaya sungguh-sungguh kepada kerahiman Allah (Completely Trust).***

Salam Minggu Kerahiman Ilahi! Tuhan Yesus memberkati kita! Amin!

 

Labuan Bajo, 19 April 2020

RP. Laurensius Gafur, SMM

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.