1.9 C
New York
Monday, January 12, 2026

Ketika Frater Berpuisi dari Pengalaman Nyata

Puisi adalah inkarnasi dari pertemuan antara pribadi dengan rahmat (inspirasi). Seorang penyair yakin bahwa inspirasi merupakan roh yang selalu berinkarnasi untuk jadikan mata melihat lebih jauh dan hati untuk lebih yakin.

Pertemuan antara literasi dan pribadi merupakan awal perjalanan mengatualisasikan diri pada kehidupan antara pangalaman indah dan pergulatan, cita-cita dan harapan yang menemukan perlidungan dalam tulisan. Puisi hanya salah satu bentuk untuk pertemukan pribadi, pengalaman, ideologi, budaya, kepercayaan, gaya hidup, bahkan sebuah pertemuan dengan alam dan misteri yang transandans. Kualitas pertemuan sangat mungkin akan mempengaruhi puisi yang dihasilkan.

Peradaban menunjukkan bagaimana literasi mengubah dunia oleh kalimat-kalimat yang menyentuh seorang secara pribadi. Ia memberi wajah baru pada dunia dengan dandanan-dandanan kata yang performatif. Literasi begitu dekat dengan kaum religius, pertapa, sufi dan dari mereka lahir tulisan-tulisan yang menginspirasi. Alkitab menyajikan kisah-kisah dengan gaya bahasa yang indah juga kata-kata puitis akan sangat mempengaruhi seorang penyair yang dekat dengan Kitab Suci. Kitab Suci sendiri memuat kumpulan kitab yang bergaya bahasa puisi seperti kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotabah, Kidung Agung, Kebijaksanaan dan Sirakh. Dalam sejarah gereja kita mengenal beberapa figur opologetik yang mempertahankan iman dengan literasi. Gereja yang dibangun dari iman dan akal budi itu tak akan pernah asing dari literasi untuk mengajar dan menginspirasi.

Ada banyak sosok penyair Katolik khususnya dari kaum religius, di sini saya ingin menyebut empat figur pertama Santo Yohanes Paulus II (1920-2005), paus dan penyair. Ia menulis kumpulan puisi buah meditasinya tentang penciptaan dunia dan keindahannya. Sosok kedua, Santa Teresia dari kanak-kanak Yesus (1873-1897), seorang biarawati Karmel. Ia menulis banyak puisi. Pada tahun 2013 dirilis sebuah album lagu yang diambil dari puisi-puisi St. Teresia dari kanak-kanak Yesus oleh Natasha St Prier dan diberi judul Thérèse, vivre d’amour sebuah lagu cinta yang dinyanyikan bersama penyanyi Indonesia Anggun Cipta Sasmi. Dua penyair lain adalah Santo Yohanes dari salib dan Santo Epfrem, seorang teolog penyair. Dari kalangan awan Katolik pun ada penyair yang menjadikan puisi sebagai ekspresi perjalanan iman seperti Victor Hugo.

Puisi pada dasarnya sebuah petuangan spiritual baik dalam keberuntungan dan keterpurukan, dalam kekurangan maupun kelimpahan, dalam sepi dan sendiri maupun dalam keramaian dan hiruk-pikuk, puisi menampakkan hubungan dengan jiwa. Kita semua terlahir sebagai penyair dalam kepekaan dan rasa ingin tahu sebagai bocah yang mengkontemplasikan semua hal.

“Frater berpuisi?” merupakan sebuah pertanyaan kecil. Tulisan pun ini hanya suatu ulasan sederhana berdasarkan pengalaman pribadi sebagai frater yang mengekspresikan diri lewat puisi. Penyair pertama-tama adalah orang yang percaya pada kata-kata dan mengunakannya secara bijak karena ia sadar bahwa ia hanyalah media yang dipercayakan roh untuk berinkarnasi. Jika agama Kristen lahir dari inkarnasi “sabda menjadi manusia dan tinggal di antara kita” maka berinkarnasi adalah essensi menjadi kristen dalam kata dan perbuatan. Pengalaman hidup terutama kisah-kisah perjalanan, pertemuan, perpisahan, alam masih jadi tema ketika saya berpuisi.

“Jadi Puisi”// Imaginasi yang tersesat dalam kegelisahan jadi puisi//
Ujud pribadi yang tak sempat didaraskan dalam doa bersama jadi puisi//
Ketakutan-ketakutan yang tumbuh dari jarak jadi puisi//
Pertentangan-pertentangan yang diam jadi puisi//
Pertanyaan-pertanyaan yang kubungkan jadi puisi//
Sabda yang kurang kupahami jadi puisi//
Cinta, persahabatan, keluarga, dan agama jadi puisi//
KAU ikutan jadi puisi//
… aku harus membacamu dari tempat tersembunyi//
mengajakmu ke mimbar khotba//

Setiap orang dipanggil untuk memberikan telinganya pada kata, hatinya pada hening yang kadang lebih gaduh. Puisi meyentuh sebagian besar perasaan dan pikiran yang kadang membuka jalan menuju iman dan menemukan yang trasenden, Tuhan. Yeah, frater berpuisi! Frater berpuisi dengan berbagai tujuan. Dalam puisi, saya mencari sosok yang abadi, kisah yang lebih bermakna, pengalaman negatif, juga Tuhan yang kadang hilang dalam kata-kata. Berpuisi adalah jalan pulang pada tradisi dimana simbol, kata, dan gambar memberi pelajaran iman dan perjalanan rohani, sebuah pembebasan.

Previous article
Next article
avatar
RP. Eimen Bhajo, CICM
Penulis adalah Imam Misionaris CICM. Saat ini berkarya di Paroki Santo Matius Halong, Keuskupan Banjarmasin.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini