Kita Bekerja, Kita Sukses: Mengapa Kita Harus Bersyukur?

1
136

Kita Bekerja, Kita Sukses: Mengapa Kita Harus Bersyukur?: Renungan Harian, 11 November 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Tit. 3:1-7; Injil: Luk. 17:11-19

Bait Pengantar Injil pada bacaan liturgi hari ini diambil dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika yang bunyinya demikian: “Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian” (1 Tes. 5:18).

Dari kutipan bait pengantar Injil ini menjadi jelas bagi kita mengenai apa yang diinginkan oleh Tuhan dari kita. Tuhan mau kita menjadi orang yang tahu bersyukur. Pertanyaannya adalah: mengapa kita harus bersyukur? Bukankah semua yang kita peroleh selama ini merupakan hasil jerih lelah kita? Atau memang sudah seharusnya terjadi demikian?

Itulah persoalan kita. Kita cenderung menerima segala sesuatu secara taken for granted, seolah memang seharusnya terjadi demikian. Atau juga, kita terlampau merasa berjasa. Kita merasa bahwa kesuksesan kita merupakan hasil usaha pribadi. Padahal, ketika gagal, kita dengan gampang menyalahkan Tuhan. Kita bilang bahwa Tuhan melupakan kita dan tidak menjawab doa kita.

Boleh jadi kita memang pekerja keras, tapi hasil kerja kita itu bergantung pada Tuhan. Jika Tuhan tidak memberi hasil atas kerja kita, sekeras apapun usaha kita tetap saja tidak ada hasilnya. Maka dari itu, surat yang ditulis oleh Paulus kepada Titus seperti yang kita baca hari ini menjadi catatan penting bagi kita. Paulus menulis begini: “Tuhan  telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya” (lih. Tit. 3:5).

Tuhan sudah begitu baik kepada kita. Ia memberi segala sesuatu yang kita butuhkan. Tapi, berapa banyak dari kita yang kembali sambil memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada-Nya? Ada tapi tidak banyak. Padahal, Tuhan hanya mau satu hal dari kita, yaitu agar kita senantiasa mengucap syukur.

Tentang bersyukur ini, kita harus belajar dari orang kusta, seorang Samaria, yang diceritakan dalam Injil hari ini. Ketika melihat bahwa dirinya sembuh, ia kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur. Pertanyaan Yesus kepada orang kusta yang kembali itu menjadi pelajaran penting bagi kita. Yesus berkata kepadanya: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:17-18). Dengan bertanya seperti ini Yesus sebenarnya ingin mengatakan bahwa Ia mau agar mereka semuanya kembali untuk mengucap syukur.

Ketika meminta, kita meminta dengan kyusuk bahkan sampai meneteskan air mata. Kita seperti sepuluh orang kusta yang datang memelas dan meminta pertolongan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tapi, ketika kita mendapat apa yang kita minta, kita diam-diam saja bahkan merasa sebagai hasil jerih lelah sendiri? Kita lupa bahwa Tuhan menjawab doa kita melalui beragam cara dan bentuk. Barangkali Tuhan menjawabnya seperti orang kusta yang tiba-tiba menjadi tahir ketika sedang dalam perjalanan.

Seringkali, kita seperti sembilan orang kusta yang tidak kembali. Kita tidak tahu diuntung. Karena itu, kedua bacaan hari ini kiranya menjadi teguran sekaligus ajakan bagi kita untuk selalu bersyukur. Ingatlah pesan pemazmur: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.