Pengantar
Sebagai makhluk yang diciptakan untuk sesuatu yang tidak terbatas, manusia tidak pernah dapat puas dengan dunia yang serba terbatas ini. Segala harta dunia ini, segala silau teknologinya yang canggih, segala kepuasan yang ditawarkannya, pada hakikatnya tidak pernah dapat memuaskan hati manusia yang selalu merindukan sesuatu yang mengatasi dunia ini.
Ada banyak interpretasi tentang realitas yang tidak terbatas itu, semuanya bertujuan agar manusia sampai kepada pemahaman yang akurat tentang Yang Absolut itu. Bagi orang Arab, realitas yang tidak terbatas itu adalah Allah, sedangkan orang Yahudi menyebutnya Yahwe.
Di antara kedua kata tersebut, kata ’Allah’ merupakan kata yang paling populer dan digunakan bersama-sama oleh penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Akan tetapi, belakangan ini penggunaan kata Allah di kalangan Kristen menuai kritik yang tajam dari umat Islam.
Menurut umat Islam, kata Allah merupakan trade mark umat Islam saja. Muncul pertanyaan: apakah kata ’Allah’ milik ekslusif orang Islam? Ataukah ada kata lain yang lebih orisinil untuk mengetahui identitas sang causa prima non causata itu?
Entah mengapa beberapa agama Kristen non-Katolik akhirnya memilih untuk menyebut sesembahan mereka sebagai Yahwe, dan mulai mempopulerkan kata itu di kalangan mereka. Muncul pertanyaan: apakah orang-orang Katolik sengaja tidak mempopulerkan kata ’Yahwe’ di kalangan orang Katolik? Mengapa?
Untuk menjawab kedua pertanyaan itu, akan dibicarakan dulu asal-usul kata ‘Allah’ dan kata ‘Yahwe’.
Asal-usul Kata ’Allah’
Secara etimologis, kata ’Allah’ merupakan perpaduan dua kata Arab: al– dan ilah, artinya Yang Mahakuasa. Kata Semit ilah sama arti dan akarnya dengan kata Ibrani el yang berarti yang kuat, yang berkuasa, dan menjadi sebutan untuk Tuhan. Karena dikira ada banyak el atau ilah (politeisme), maka satu ilah disebut sebagai El-Elyon, Allah Tertinggi, yang diakui sebagai Pencipta langit dan bumi.
Kata ’Allah’ sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam untuk menunjuk Pencipta alam semesta, yang terlalu jauh atau terlalu tinggi untuk disembah atau dimintai perhatian. Sudah di masa sebelum Islam, al-ilah disambung menjadi Allah. Dengan demikian, kata Allah bukan ciptaan orang Islam, melainkan ia merupakan kata biasa dalam bahasa Arab lepas dari ikatan dengan salah satu agama tertentu.[1]
Tradisi Teologis Perubahan Nama
Bangsa Israel lahir dan berkembang di dalam suasana keagamaan yang serba ragam dengan nama sesembahan mereka masing-masing. Sejumlah Kitab Perjanjian Lama menyebutkan bahwa nama pribadi sesembahan bangsa Israel adalah Yahwe. Nama ini membedakan sesembahan bangsa Israel dengan ilah-ilah bangsa lain (Ul 7:25). Nama Yahwe amat sering digunakan dalam Alkitab Ibrani. Dengan nama Yahwe, Allah telah menyatakan diri dalam sejarah bangsa Israel.
Bangsa Israel sudah mengenal Yahwe, sebab Yahwe sendiri telah menyatakan diri-Nya kepada mereka: ”Aku ini Yahwe, itulah nama-Ku” (Yes 42:8). Nama Yahwe diartikan sebagai ”Dia ada,” dalam arti ”ada untuk umat-Nya,” hadir dan bertindak bagi mereka, menyertai mereka dalam perjalanan keluar dari perbudakan.
Namun demikian, bangsa Israel masih mencari Dia, memanggil Dia dengan nama-nama ilahi yang berasal dari dunia keagamaan bangsa-bangsa di daerah pengembaraan mereka sebab Yahwe sendiri berkenan memperkenalkan diri-Nya di bawah nama-nama itu.
Muncul pertanyaan: apakah sama antara Yahwe dengan sembahan bangsa-bangsa pengembara itu? Jauh dari menyamakan diri dengan sembahan-sembahan itu, Yahwe seakan-akan merebut, menyita, dan mengambil alih nama-nama mereka.[2] Latar belakang kafir dari nama-nama itu tidak dapat menghalangi penggunaannya sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel. Yahwe berkenan mempergunakan ciri-ciri keagamaan sekedar untuk menyatakan diri-Nya yang sebenarnya.
Meskipun bangsa Israel mengenal Yahwe, tetapi nama yang kudus ini tidak boleh disebut dengan sia-sia mengingat arti penting sebuah nama dalam Perjanjian Lama. Nama mewakili pribadi dan mengetahui nama seseorang kadang-kadang menguasai orang itu (bdk. Kej 32:29).[3] Oleh karenanya, orang-orang Israel zaman dulu mengganti nama Yahwe dengan istilah Adonai.
Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata ’Adonai’ diikuti oleh Yesus dan para rasul-Nya. Atas dasar itulah, orang-orang Katolik juga tidak menggunakan kata ‘Yahwe’ untuk menyebut sesembahan mereka.
Orang Katolik menyadari bahwa akar dari Kekristenan adalah ajaran-ajaran yang diwariskan secara turun-temurun dari bangsa Israel. Maka – sama seperti orang Israel tidak mau menyebut kata ‘Yahwe’ karena kata itu terlalu suci untuk disebut sembarangan – demikianlah juga orang Katolik tidak mau menyebut kata itu.
Lembaga Alkitab Indonesia kiranya juga mengikuti kebiasaan ini dalam menerjemahkan Yahwe dengan kata ’Allah.’ Terjemahan ini tepat mengingat sebutan ’Allah’ itu memiliki jangkauan luas dan universal, melampaui batas bangsa. Oleh karenanya, kita sebagai umat Kristen jelas tidak rela disuruh untuk melepaskan sebutan ’Allah’ itu.
Penggunaan Kata ”Allah” dalam Tradisi Arab Kristen
Secara historis, terdapat pandangan di kalangan orang banyak, baik yang Muslim maupun yang bukan Muslim, tentang adanya kesejajaran antara ’ke-Islam-an’ dan ke-Arab-an.’ Pandangan seperti itu jelas tidak didasarkan pada kenyataan tetapi hanya didasarkan pada kesan semata. Akibatnya, banyak orang mengira bahwa hanya orang Islam yang percaya kepada Allah, atau bahwa kata ’Allah’ itu sendiri adalah milik ekslusif orang Islam. Padahal dalam kenyataannya, bahasa Arab bukanlah bahasa khusus orang-orang Muslim dan agama Islam, melainkan juga bahasa kaum non-Muslim dan agama bukan Islam sebab di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok bukan Islam, seperti Yahudi dan Kristen.[4] Sebagai orang yang berkebangsaan Arab, mereka juga menggunakan kata ’Allah’ dan percaya kepada Allah.
Dalam terjemahan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Siryani yang digunakan di Siria sebelum kedatangan agama Islam, kata yang digunakan untuk menyebut Allah adalah kata yang biasa digunakan dalam bahasa-bahasa Semit (Ibrani, Arami, Arab, dan lain-lain), yakni kata yang memiliki akar kata ’l’. Kata tersebut dalam bahasa Siryani diucapkan alaha, ”dewa itu” yang sama artinya dengan ha-eloah dalam bahasa Ibrani, atau Allah dalam bahasa Arab. Dengan demikian, sangat masuk akal kalau orang-orang Islam menggunakan kata ’Allah’ untuk menunjuk kepada sesembahan mereka, dan orang-orang Yahudi dan Kristen Arab memakai kata ’Allah’ yang sama itu pula untuk menyebut sesembahan mereka.
Ketika orang-orang Muslim Arab melakukan ekspansi militer dan politik keluar dari Jazirah Arabia, mereka membawa agama Islam kepada masyarakat bukan Arab. Dengan demikian, masyarakat bukan Arab tersebut menggunakan bahasa Arab setelah wilayah mereka dikuasai oleh orang-orang Arab sehingga mereka pun memakai kata ’Allah.’ Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu. Ingat, kata itu sudah digunakan oleh orang Arab pada zaman sebelum Islam. Kata ’Allah’ ini kemudian dipegang bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam, semuanya berdasarkan latar belakang etimologis kata itu sendiri dan tradisi teologis agama-agama mereka yang berakar dalam Perjanjian Lama.
Tanggapan Kritis
Agama Kristen mengakui bahwa Allah memperlihatkan diri-Nya lewat suatu kebudayaan yang konkret dan definitif. Hal ini tampak jelas dalam diri Yesus Kristus yang lahir pada suatu waktu tertentu, di suatu tempat tertentu, dan berintegrasi dalam suatu kebudayaan tertentu yaitu kebudayaan Yahudi Palestina. Warta universal dari Allah yang dimaklumkan dalam diri Yesus Kristus dialamatkan kepada manusia dari suatu kebudayaan tertentu pula.
Pewartaan tersebut bisa ditanggapi lewat unsur budaya setempat, yaitu bahasa mereka sendiri. Pengakuan inilah yang merupakan salah satu pendorong bagi umat Kristiani untuk menghormati bahasa setempat dalam usaha mencapai pemahaman yang akurat tentang Yang Absolut itu.[5] Dengan kata lain, latar belakang permasalahan perbedaan penggunaan kata untuk menyebut realitas yang tidak terbatas itu bagi umat Kristiani tidak terlalu dipersoalkan. Inti yang mau diambil oleh umat Kristiani adalah bahwa dengan penggunaan kata tertentu misalnya kata ’Allah’ untuk menyebut Yang Absolut itu, kehadiran Dia yang disebutkan itu dapat ditangkap, dipahami, dan diterima oleh orang-orang yang dalam kenyataannya terikat dalam konteks bahasa tertentu.
Penggunaan kata ’Allah’ di kalangan orang Kristen merupakan wujud khusus yang menandakan bahwa Allah hadir dan berbicara dengan bahasa orang setempat, yaitu masyarakat yang menjadi pendengar-Nya. Allah menggunakan medium bahasa setempat untuk mengungkapkan siapa diri-Nya, namun kehadiran-Nya lepas dari semua bahasa yang digunakan oleh manusia manapun. Jadi, kehadiran Allah melampaui setiap kata yang kita pakai untuk menyebut-Nya.
Kata ’Allah’ dipakai untuk merumuskan penghayatan atau penangkapan kita tentang realitas tertinggi, bukan realitas in se-Nya. Dengan demikian, yang lebih penting bagi kita ialah menyadari arti pernyataan diri Allah ini. Ia berkenan menggunakan bahasa tertentu untuk memperkenalkan diri-Nya kepada semua orang. Pendekatan yang mengadakan hubungan langsung dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengar-Nya membuka kemungkinan untuk diterima oleh setiap orang di mana Allah menyatakan diri-Nya sehingga mereka menemukan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perubahan nama untuk menyebut realitas tertinggi sudah dimulai sejak zaman bangsa Israel Kuno. Mula-mula bangsa Israel mengenal sesembahan mereka sebagai Yahwe, namun selanjutnya mereka merasa bahwa nama itu sungguh kudus sehingga tidak pantas untuk diucapkan sembarangan. Untuk menggantikan sebutan Yahwe, mereka memilih sebuah kata baru yaitu Adonai.
Dalam perkembangan selanjutnya, orang Israel tidak hanya menyebut Yahwe dengan kata Adonai, tetapi juga memanggil Dia dengan nama-nama ilahi yang berasal dari dunia keagamaan bangsa-bangsa di daerah pengembaraan mereka. Hal tersebut dilakukan karena mereka yakin bahwa Yahwe sendiri berkenan memperkenalkan diri-Nya di bawah nama-nama itu. Latar belakang kafir dari nama-nama itu diberi arti secara baru dan diyakini sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel.
Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata yang lain diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, setiap bangsa mempunyai kata sendiri untuk menyebut sesembahan mereka, namun tetap mengungkapkan realitas tertinggi itu. Bagi orang-orang yang berlatar belakang Arab, kata yang mereka pakai adalah kata ’Allah.’ Kata ini merupakan kata universal yang dipakai bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam. Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu.
Latar belakang kafir dari nama-nama itu diberi arti secara baru dan diyakini sebagai alat pernyataan diri Yahwe kepada para bapa leluhur Israel. Kebiasaan bangsa Israel untuk menggantikan kata ’Yahwe’ dengan kata yang lain diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, setiap bangsa mempunyai kata sendiri untuk menyebut sesembahan mereka, namun tetap mengungkapkan realitas tertinggi itu. Bagi orang-orang yang berlatar belakang Arab, kata yang mereka pakai adalah kata ’Allah.’ Kata ini merupakan kata universal yang dipakai bersama-sama oleh orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan bahasa Arab, demikian pula oleh orang Islam. Jadi, kata ’Allah’ bukan kepunyaan orang Islam saja melainkan kepunyaan semua orang yang menggunakan bahasa Arab itu.
Daftar Pustaka
Barth, Ch. 1970. Theologia Perjanjian Lama I. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ensiklopedi Islam. 1994. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Madjid, Nurcholish. 1992. Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Murphy, Roland E. 2004. 101 Tanya Jawab tentang Taurat. Jakarta: Obor.
Schumann, Olaf. 1996. ”Mengenai Kata Allah,” dalam Keluar dari Benteng Pertahanan. Jakarta: Gramedia.
[1] Olaf Schumann, ”Mengenai Kata Allah,” dalam Keluar dari Benteng Pertahanan (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 172.
[2] Lih. Dr. Ch. Barth, Theologia Perjanjian Lama I (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1970), hlm. 91.
[3] Roland E. Murphy, 101 Tanya Jawab tentang Taurat ((Jakarta: Obor, 2004), hlm. 52.
[4] Lih. Artikel Nurcholish Madjid, ”Universalisme Islam dan Kedudukan Bahasa Arab,” dalam Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 358.
[5] Menurut hemat saya, inilah salah satu alasan yang mendasar mengapa orang-orang Kristen terutama Katolik tidak terlalu berkeberatan ketika Yahwe yang mereka imani diganti dengan berbagai nama sesuai dengan kebiasaan dan bahasa setempat. Misalnya, orang Arab menyebut-Nya Allah, Latin (Deus), Yunani (Theos), atau Inggris (God).



