Maria, Cermin Kekudusan

0
613
3282700 / Pixabay

Banyak gelar-gelar yang dipakai untuk menghormati Bunda Maria. Tak sedikit umat beriman bertanya tentang makna dari gelar-gelar  itu. Adapun gelar-gelar tersebut tertera secara detail dalam Litani St. Perawan Maria (Puji Syukur 214). Salah satu gelar Bunda Maria adalah Cermin Kekudusan. Bagaimana memahami gelar tersebut?. Berikut adalah penjelasan dari tim JalaPress.

Pertama, gelar Bunda Maria ‘Cermin Kekudusan’ berasal dari kata Iustitia yang artinya ‘keadilan’. Makna iustitia dalam konteks biblis-teologis dapat dilihat pula dalam Mat. 1:19, di mana St. Yosef disebut sebagai seorang yang benar (Just). ‘Benar’ artinya Kudus, suci dan sempurna dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Dengan demikian sejak semula manusia diciptakan dengan ‘keadilan asali’ sehingga berada dalam keharmonisan dengan Allah, diri sendiri dan seluruh ciptaan. Maka dalam konteks tersebut Maria diberi gelar Speculum Justitiae.

Kedua, Gelar Speculum Justitiae diberikan kepada Bunda Maria karena ia memantulkan keutamaan keadilan. Ia mencerminkan kekudusan, kesucian, dan kesempurnaan dalam melaksanakan kehendak Allah. Ia sungguh murni dan rendah hati sehingga memancarkan ‘keadilan Ilahi’. Selain itu, Bunda Maria dalam seluruh kehidupannya sungguh-sungguh menampilkan diri sebagai Citra Allah (bdk. Kej. 1:26).

Ketiga, Bunda Maria dalam Keb. 7:26 diberi gelar sebagai Cermin Kekudusan. “Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dan kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya (Keb. 7:26). Dengan demikian, Allah menganugrahkan keutamaan kepada Bunda Maria sehingga menjadi teladan bagi umat beriman.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289