Jika Yesus Itu Tuhan, Mengapa di Kayu Salib Ia Berseru Minta Tolong kepada Allah?

5
5760
fietzfotos / Pixabay

Dalam Injil Sinoptik disebutkan bahwa ketika disalibkan, Yesus berseru dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46; Mrk. 15:34; Luk. 23:46).

Seruan Yesus ini, bagi banyak orang (non-Kristen), dianggap sebagai indikasi bahwa Yesus bukan Tuhan. Menurut mereka, Yesus berseru meminta tolong kepada Allah karena Dia sendiri hanyalah manusia biasa.

Bagaimana tanggapan kita? Perlu kita garisbawahi bahwa iman Kristiani bersumber pada Allah Tritunggal. Sekian lama Allah itu berbicara kepada manusia, ciptaan-Nya, meski Ia sendiri tidak memperlihatkan wajah-Nya ke hadapan mereka. Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa para Nabi merasakan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, tetapi mereka sendiri tidak pernah melihat seperti apa sosok Allah itu.

Tidak hanya sekedar merasakan kehadiran Allah, Perjanjian Lama bahkan mencatat bahwa para Nabi pun bisa mendengar suara-Nya. Musa, misalnya, bisa mendengar suara Allah, meski ia sendiri tidak bisa melihat-Nya. Dikatakan dalam Kitab Keluaran bahwa ‘Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri’ (Kel. 3:2). Tetapi, Musa tidak melihat sosok Allah itu. Bahkan ia menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah (Kel. 3:6).

Allah berbicara kepada para Nabi; sehingga meski mereka tidak melihat wajah Allah itu, toh mereka masih  bisa mendengar suara-Nya. Dalam Perjanjian Lama, kita banyak membaca tentang bagaimana Allah berbicara. Bahkan, Kitab Kejadian mencatat bahwa bagi Allah, berfirman atau berbicara sama artinya dengan menciptakan. Makanya, di sana kita mendengar kalimat: “Allah berfirman … maka jadilah”. Sebagai contoh, “berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3). “Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air”. Dan jadilah demikian” (Kej. 1:6).

Jika demikian, siapakah Allah itu? Kita sulit mendefenisikannya, sebab kita tidak melihat-Nya. Yohanes membahasakan bahwa Allah yang tidak kelihatan tapi suara-Nya dapat didengar itu adalah Firman; sebab memang, Allah itu seringkali berfirman. Bahkan, hanya dengan berfirman saja, segala sesuatunya terjadi.

Yohanes katakan bahwa “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Apakah Firman itu ciptaan atau Pencipta? Jika dia adalah ciptaan, tentu dia bukan Allah. Tetapi, jika Dia adalah Pencipta, maka tidak bisa tidak, Dia adalah Allah. Tidak ada selain Allah yang bisa menciptakan segala sesuatu. Maka Yohanes menambahkan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3).

Yohanes membahasakan bahwa Allah yang tidak kelihatan tapi suara-Nya dapat didengar itu adalah Firman.

Sampai di sini menjadi jelas bagi kita bahwa Firman itu adalah Allah. Dia menciptakan segala sesuatu. Lalu, Yohanes melanjutkan: ‘Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita’ (Yoh. 1:4). Bagaimana Firman itu dapat menjadi manusia? Kisahnya bisa kita lihat dari kunjungan Malaikat kepada Maria. Malaikat itu berkata kepada Bunda Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).

Firman atau Roh itu masuk ke dalam rahim Maria, dan menjadi manusia. Ini yang kita sebut dengan istilah ‘inkarnasi’ (Latin: in artinya masuk; carne artinya daging); Firman masuk ke dalam daging (bdk. Yoh. 1:1, 14). Kemudian, Firman yang menjelma menjadi manusia itu lahir ke dunia, dan dinamai Yesus (Luk. 1:31). Alhasil, Allah yang tadinya tidak kelihatan menjadi kelihatan. Ia yang tadinya jauh menjadi dekat dan bergaul dengan manusia, ciptaan-Nya. Dia sungguh Allah sungguh manusia. Jadi, pada waktu di salib Yesus tetap merupakan Tuhan dan sekaligus manusia.

Maka pada perkataan Yesus, ‘Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ menandakan dua hal. Pertama, seruan itu mengacu pada kodrat kemanusiaan Yesus, yang berdoa kepada Allah Bapa-Nya. Kedua, seruan ini sudah tercatat di dalam Kitab Mazmur: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2); dan terpenuhi dalam drama penyaliban Yesus. Yesus mengucapkan kembali apa yang tertulis di dalam Kitab Mazmur itu untuk menunjukkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia telah dinubuatkan. Nah, inilah salah satu dasar yang membuat umat Katolik percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, karena Dia telah dinubuatkan sebelumnya, termasuk kelahiran, karya publik, mukjizat, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Referensi:
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-know-he-was-god-at-the-incarnation
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-know-he-was-god-at-the-incarnation
http://www.katolisitas.org/eli-eli-lama-sabakhtani-dan-mengapa-yesus-berdoa/
https://www.catholic.com/qa/did-jesus-experience-the-fear-of-the-lordgod

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.