Mengapa Orang Baik Hidupnya Susah?

0
1097
27707 / Pixabay

Seorang anak remaja pernah bertanya begini kepada saya, “Mengapa orang saleh dan tidak bersalah, seringkali hidupnya penuh dengan penderitaan dan disakiti?

Tentu saja tidak gampang untuk memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan terhadap pertanyaan seperti ini; sebab di belakang kepala kita sudah ada pemikiran bahwa orang baik seharusnya hidup tenang dan senang, bukan hidup susah dan dipersulit. Kita masih mudah menerima kenyataan bahwa orang yang sifatnya buruk mendapatkan hidup yang susah daripada orang baik hidupnya dipersulit.

Tapi, saya mencoba memberikan jawaban dengan sedikit ilustrasi. Menurut saya, hidup kita ini seperti seorang siswa. Ya, kita ini berada di tempat yang disebut ‘sekolah kehidupan’. Seorang siswa belum bisa dikatakan pintar atau tidak,  jika belum pernah diuji. Kepintaran itu mesti bisa dibuktikan, dan cara pembuktiannya adalah lewat ujian. Ujian merupakan alat pengukur kepintaran untuk siswa di sekolah.

Nah, demikian juga halnya kita yang ada di ‘sekolah kehidupan’ ini. Kadang-kadang kita diuji. Tapi ingat, ujian tidak sama dengan hukuman. Hukuman bertujuan untuk memberi efek jera, atau bila perlu menghanguskan; sedangkan ujian diberikan untuk mencari tahu apakah orang yang diuji itu benar-benar tahan uji atau tidak. Hukuman berakhir dengan cerita tragis, sedangkan ujian selalu happy ending. Jadi, ujian hanya sekedar sebagai alat pembuktian terhadap ketahanan iman seseorang.

Ketika ada orang baik dan saleh hidupnya sulit, barangkali itu adalah ujian untuk membuktikan kebaikan dan kesalehannya. Maka, benarlah ada ungkapan: “Mohon bersabar ini ujian”. Tidak perlu takut menghadapi ujian itu.Sabar saja; dan tetap lakukan yang terbaik.

Dalam Kitab Suci, banyak sekali diceritakan bagaimana Tuhan menguji iman umat-Nya. Abraham, misalnya, diuji imannya oleh Tuhan. Ia disuruh untuk mengorbankan anaknya satu-satunya.  Tapi ending-nya, setelah Tuhan tahu bahwa Abraham kuat imannya, Tuhan melarang dia membunuh Ishak; dan Tuhan menganugerahkan kepadanya keturunan seperti bintang di langit banyaknya.

Demikian juga dengan Ayub. Setelah Ayub berhasil melewati ujian demi ujian, Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari kepunyaannya dahulu (Ayub 42:10). Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih daripada dalam hidupnya yang dahulu. Ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.

Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.

Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Kita yakin dan percaya, jika seseorang itu sungguh baik dan saleh; dan kebaikan dan kesalehannya itu bisa dibuktikan dengan ‘tahan uji’, maka pastilah Tuhan akan memberikan ganjaran yang terbaik untuknya, sesuai dengan kebaikan dan kesalehannya.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.