Mengapa Pusat Agama Katolik Berada di Vatikan (Seri I)?

0
8921

Banyak kaum Evangelis mempertanyakan mengapa Gereja berakhir di Roma. Menurut mereka Kitab Suci mengatakan mengenai “Yerusalem Baru” dan tidak mengatakan mengenai Gereja di Roma sampai pada akhir Kitab Kisah Para Rasul. Memahami hal ini sesungguhnya kembali kepada penerimaan kita bahwa Petrus diberikan kunci-kunci Kerajaan oleh Yesus (Mat. 16:18). [Selain itu, Rasul Petrus diberikan mandat untuk menjadi gembala atas domba-domba (bdk. Yoh. 21:15-19)].

Gereja Katolik meyakini adanya bukti biblis dan historis[a] tak terbantahkan yang mendukung keunggulan Petrus. Petrus mewartakan Injil sampai ke Roma dan meninggal di sana. Setelah itu penerus-penerusnya berada di sana dan melanjutkan penggembalaan. [hal ini tentu saja untuk menggenapi perkataan Yesus bahwa ia akan menyertai GerejaNya sampai akhir jaman]. Sementara, itu di Yerusalem sekitar tahun 70, terjadi penganiayaan hebat yang membuat Gereja hampir mati suri sampai sekitar tahun 130. Banyak artikel yang meneguhkan keberadaan Rasul Petrus dan wafatnya di Roma.[b].

Yerusalem Baru Dalam Kitab Wahyu Bukan Sebuah Tempat Fisik

Sama halnya Perjanjian Lama penuh dengan bayangan akan [tipologi] Perjanjian Baru, umat Katolik meyakini bahwa Alkitab menunjukkan jelas bahwa Yerusalem Baru dalam Kitab Wahyu bukanlah kota historis Yerusalem. Kita tidak percaya bahwa Israel masa kini adalah sebuah wujud spiritual yang sama dengan Israel dalam sejarah sebelum masa Kristus. Setelah penyaliban, tabir Bait Suci Yahudi terbelah menjadi dua (Mar 15:37-39, Luk 23:44-46, Mat 27:51). Pada titik itu, pemindahan otoritas terjadi dan kita percaya bahwa bibit Gereja menjadi Israel Baru.

Katekismus Gereja Katolik artikel 63 menjelaskan: Israel adalah bangsa imam-imam Allah (Bdk. Kel 19:6), yang telah diberkati dengan “nama Allah” (Ul 28:10). Itulah bangsa orang-orang, “yang menerima Sabda Allah sebelum kita” (MR, Jumat Agung, Doa umat meriah 6), bangsa “kakak-kakak” dalam iman Abraham. [KGK #63]. Setelah wafat Yesus, nubuatan Perjanjian Lama mengenai Yerusalem secara jelas dipahami sebagai referensi akan umat Allah dan bukannya kota historis Yerusalem. Ini berarti bahwa takhta Gereja dapat berada dimanapun di bumi. Ini membuka pintu akan kepindahan ke tempat yang paling bagus untuk bibit Gereja yang sedang berjuang. Itu bukan berarti tidak ada kepentingan historis akan Yerusalem maupun ia menyangkal bahwa Allah masih mempunyai hati kepada umat Yahudi dan suati hari mereka akan bertobat. Lihat artikel saya mengenai Teologi Penggantian[c] untuk lebih jelasnya.

‘Ujung Bumi’ Dalam Kisah Para Rasul adalah Roma

Yesus ingin agar Injil diwartakan ke seluruh dunia. Bila tidak terjadi penganiayaan di Yerusalem dapat dipertanyakan sejauh mana Injil dapat berjalan. Penganiayaan memaksa para rasul untuk keluar dari Yerusalem. Kita melihat dalam Kisah Para Rasul sebuah gerakan yang kuat untuk mendirikan Gereja di Roma sebagai ‘ujung bumi’. Disitulah Kisah Para Rasul berakhir. Santo Lukas menyatakan, “Inilah bagaimana kita akhirnya sampai di Roma” (Kis 28:14). Beberapa Evangelis berpikir bahwa Kisah para Rasul berakhir terlalu tiba-tiba. Mereka gagal melihat bahwa pendirian Gereja Perdana di Roma adalah tujuan dan Lukas mengakhiri bukunya saat hal ini terpenuhi. Kepindahan ke Roma terjadi sangat awal dalam sejarah Kristiani yang kita dapat temukan dalam Alkitab. Yesus sendiri berkata “jadikanlan semua bangsa murid-Ku” (bdk. Mat 28:19) dan itu dapat terpenuhi apabila Injil telah diwartakan sampai ke ujung bumi yakni Roma. Mereka yang berpikir bahwa Roma adalah kota binatang [dalam Wahyu] mungkin perlu membaca ini[d].

Petrus Mempunyai Kedudukan Tertinggi Diantara Para Rasul

Seorang imam Ortodoks menunjukkan bahwa Yakobus yang membuat keputusan seputar permasalahan sunat di Yerusalem, bukan Petrus (Kis 15:19). Seperti kita ketahu, Yakobus adalah Uskup Yerusalem sehingga masuk akal bahwa Yakobus akan membuat keputusan di dalam wilayah pelayanannya/keuskupannya. Dia membuat keputusan tersebut berdasarkan ceramah Petrus (Kis 15:14). Keputusannya adalah tanggapan atas petunjuk Petrus. Tiada bukti biblis akan perebutan kekuasaan diantara Santo Yakobus (Uskup Yerusalem) dan Santo Petrus. Akan tetapi ada banyak bukti bahwa Petrus adalah sebagai pemimpin. Sekedar untuk kita ketahui, Petrus disebut lebih banyak dari para rasul lainnya dalam Kitab Suci (152 kali). Ia berdiri dan berkata mewakili para rasul (Mat 19:27, Kis 1:15, 2:14). Ia berdiri pada kelahiran Gereja saat Pantekosta untuk memimpin mereka (Kis 2:14). Selain itu, para murid disebut dengan “Petrus dan para rasul” (Kis 2:37, 5:29) dan Petrus diberikan otoritas ‘kuasa melepas dan mengikat’ sebelum para rasul lainnya (Mat 16:18). Ia  selalu disebut pertama saat daftar para rasul dimunculkan (Mat 10:1-4, Mar 3:16-19, Luk 6:14-16, Kis 1:13) — beberapa kali hanya “Petrus dan mereka yang bersama dia” (Luk 9:32).Yohanes berlari mendului Petrus ke makam akan tetapi saat dia tiba dia berhenti dan tidak masuk ke dalam. Dia menunggu dan membiarkan Petrus masuk. (Yoh 20:4). Petrus turun dari perahu di tengah badai, sekalipun mereka semua takut mereka akan mati di dalam badai (Mat 14:29).

Petrus adalah yang tertua

Yesus berkata pada petrus untuk “Berilah makan domba-dombaKu [Yunani: ‘arnia’]… gembalakanlah domba-dombaKu [Yunani: ‘probata’]… berilah makan domba-dombaKu [Yunani: ‘probata’]” (Yoh 21:15-17). Perbedaan antara ‘arnia’ dan ‘probata’ sangat signifikan. ‘Arnia’ adalah anak/bayi domba, sedangkan ‘probata’ adalah domba dewasa. Kemungkinan Yesus meminta kepada Petrus untuk menjaga baik umat awam (arnia), dan para rasul (probata). Terlepas dari penafsiran akan anak-anak domba dan domba dewasa, secara jelas Yesus meminta kepada Petrus untuk memberi makan dan menggembalakan kawanan dombaNya. Nampaknya Dia meminta Petrus untuk menggembalakan GerejaNya di bumi, mewakiliNya.”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu (Yunani: ‘hymas’, bentuk jamak, atau “kamu semua”) seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau (Yunani ‘sou’, bentuk tunggal personal, atau “kamu sendiri”), supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Lukas 22:31-32). Petrus mengawasi ‘masuknya’ bangsa Samarita, dan non Yahudi [ke dalam Gereja]. Ini dapat menghancurkan iman, akan tetapi dibawah bimbingan Petrus Gereja turut bersama, karena Petrus adalah pempimpin mereka.

Perpindahan Pusat Kekristenan Dari Yerusalem Ke Roma

Dari sudut pandang praktis, kita tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya kepausan berada di Yerusalem. Yerusalem selalu berada dalam keadaan kacau, dan telah ditaklukkan berkali-kali. Yerusalem di bawah kekuasa Islam selama berabad-abad setelah masa Kristus. Kita dapat membayangkan nasib Kepausan di bawah kekuasaan Islam. Itu akan menjadi bencana. Benar, Roma telah dijarah berkali-kali pada tahun 410, 455 dan 546 oleh suku-suku Jerman [barbar], dan sekali lagi pada tahun 1527 oleh Kaisar Agung Roma, Charles V, akan tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kekacauan Yerusalem. Umat Katolik percaya Allah tahu persis apa yang Dia lakukan saat Dia memindahkan takhta Gereja ke Roma jauh dari timur tengah selama generasi pertama sesudah Kristus.

Catatan Kaki

[a] http://catholicbridge.com/catholic/pope_peter_rock.php

[b] http://catholicbridge.com/catholic/did_peter_die_in_rome.php

[c] http://catholicbridge.com/catholic/replacement_theology.php

[d] http://catholicbridge.com/catholic/were_catholics_pagan.php

Sumber: http://catholicbridge.com/…/why_did_the_catholic_church_mov…

Penerjemah:  Maximinus

Editor: Silvester Detianus Gea

Catatan: Tulisan dalam tanda kurung ‘[ ]’ adalah tambahan editor.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289