Sebuah Kesaksian: Orang Katolik Tidak Menyembah Patung (Seri I)

4
13102
Faithfuls fill Saint Peter's Square in Vatican City 16 June 2002 to attend the canonization ceremony of Italian priest Padre Pio. Padre Pio, who is the second most popular figure in the country after Pope John Paul II, became the Catholic Church's 758th saint on Sunday. AFP PHOTO EPA/ANSA MARIO DE RENZIS hh

Sebagian oknum Kristen non-Katolik sering menuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah patung. Mereka mengatakan hal itu hanya berdasarkan penglihatan mereka, bukan berdasarkan pemahaman yang benar tentang ajaran iman Katolik. Mereka selalu mengatakan bahwa “bersujud” di depan patung adalah menyembah. Tentu saja tuduhan semacam ini sangat gegabah dan dangkal, karena banyak tindakan “bersujud” yang bermakna lain dari apa yang dilihat. Hal “Bersujud” yang dilakukan oleh orang-orang Katolik tidak bermakna menyembah pada benda yang ada di depannya melainkan suatu penghormatan kepada sosok yang berada di balik apa yang digambarkan oleh patung, misalnya Yesus, Maria dan lain sebagainya.

Sebelum menjadi Katolik, saya tidak suka dengan patung-patung yang dipajang dalam Gereja Katolik. Oleh sebab itu saya memandang orang-orang Katolik melanggar Keluaran 20:4-5, karena bersujud dan berdoa di depan patung. Keluaran 20:4-5 adalah senjata empuk saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah patung. Menurut saya, Allah melarang pembuatan patung dalam bentuk dan rupa apapun. Allah sangat membenci pembuat dan penyembah patung (bdk. Kel. 20:4-5). Saya menemukan begitu banyak ayat Alkitab yang  melarang pembuatan dan penyembahan terhadap patung yaitu, Kel. 23:24, Mazmur 135:16-18, Yes. 42:8, Habakuk 2:18-19, Imamat 26:1, Ulangan 4:16, Ulangan 7:5, 12:3, 2 Tawarikh 24:18, 33:7, 19, 34:3 dan masih banyak lagi ayat-ayat yang melarang pembuatan dan penyembahan terhadap patung.

Saya sudah terbiasa membaca Alkitab baik pribadi maupun dalam kebaktian. Setiap umat dapat membaca dan memberikan tafsir sesuai dengan pandangan pribadi. Tidak ada patokan yang harus didengar untuk menafsir Alkitab meskipun ada Konkrodansi. Ayat-ayat di atas saya kutip dan secara meyakinkan saya sampaikan kepada orang-orang Katolik ‘agar mereka bertobat dan tidak menyembah patung’. Saya menemukan tindakan bangsa Israel yang  membuat dan menyembah patung lembu emas dan patung ular tembaga (bdk. Kel. 32:1-35, 2 Raj. 18:3-5).

Pada suatu ketika saya menemukan kisah tentang Musa yang diperintahkan oleh Allah untuk membuat Tabut Perjanjian. Allah menyuruh Musa untuk membuat dua kerup dari emas tempaan dan diletakkan di atas tabut (bdk. Kel. 25:10-22). Selain itu, saya menemukan kisah ketika Allah menyuruh Musa membuat patung ular tembaga (bdk. 21:4-9). Keyakinan saya bahwa Allah melarang pembuatan patung mulai goyah. Jika pendapat saya benar, maka secara tidak langsung saya mengatakan Allah melanggar FirmanNya (Kel. 20:4-5).

Saya semakin penasaran dan terus membaca Alkitab. Setelah Beberapa waktu kemudian saya menemukan kisah Raja Salomo yang membangun Bait Allah. Allah memerintahkan Salomo untuk membuat beberapa Kerub di dalam Bait Allah (bdk. 1 Raj. 6:1-38, 7:1-12, 13-51). Sekali lagi keyakinan saya goyah. Saya melihat kembali Kel. 20:4-5 dan membaca secara perlahan-lahan. Saya mulai mengerti bahwa Allah tidak melarang pembuatan patung. Apabila Allah melarang maka  Allah sendiri yang melanggar FirmanNya. Selain itu Allah sendiri yang memerintahkan Musa dan Salomo untuk melanggar FirmanNya. Patung Kerub adalah makhluk yang ada di surga dan patung ular tembaga makhluk yang ada di bumi. Mata saya tertuju pada kalimat “…jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya…” Saya kembali melihat 2 Raj. 18:3-5, di mana patung ular tembaga yang dibuat Musa dihancurkan. Saya mengaitkan kisah itu dengan Keluaran 20:4-5, di mana dikatakan jangan sujud menyembah atau beribadah kepada patung. Pendapat  saya satu persatu gugur, karena ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan pembuatan patung ular dan kerub.

Kemudian saya beralih pada pendapat yang kedua yaitu masalah penyembahan terhadap patung. Saya melihat orang-orang Katolik ‘sujud’ di depan patung dan ‘mengarak patung’. Saya mengira mereka melakukan penyembahan kepada patung. Namun, saya menemukan bahwa di atas tabut perjanjian terdapat patung kerub dan  diarak oleh bangsa Israel. Allah bertemu dan berbicara dengan bangsa Israel dari atas tutup pendamaian dari antara kedua patung kerub (bdk. Kel. 25:10-22). Saya membaca berulang-ulang ayat itu. saya menyimpulkan bahwa Tuhan menggunakan Tabut sebagai simbol, lambang, sarana atau media, sehingga bangsa Israel tidak melakukan penyembahan kepada patung. Berbeda dengan yang dilakukan bangsa Israel, yang menjadikan patung sebagai sesembahan (bdk. 2 Raj. 18:3-5). Selain itu, pengertian sujud tidak selalu menyembah, tetapi bisa juga menghormati, mengagumi dan menghargai.

Dengan demikian orang-orang Katolik tidak menyembah patung, meskipun mereka mencium, mengarak dan sujud di depan patung. Saya mulai mengerti bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah menghormati, mengagumi, menghargai sosok di balik yang ditampilkan oleh patung. Patung berguna sebagai pengingat. Orang-orang Katolik sama sekali tidak pernah mengajarkan bahwa patung itu Tuhan atau mengajak umat untuk menyembah patung. Saya semakin kagum dengan Gereja Katolik yang menafsir Alkitab dengan utuh tanpa ada kontradiksi. Sebagaimana Musa dan Salomo memakai tabut, patung ular tembaga dan kerub, demikianlah Gereja Katolik memperlakukan patung. Patung Yesus, Maria, dan para kudus dibuat sebagai simbol, sarana, lambang dan alat pengingat, tanpa ada tujuan untuk penyembahan.

Penulis: Silvester Detianus Gea

(Penulis memilih menjadi seorang Katolik pada tahun 2009. Sebelumnya seorang penganut Banua Niha Keriso Protestan (BNKP)).

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289