Bagi sebagian besar manusia, penyakit bisa menjadi hambatan dalam hidupnya, apalagi ”kanker” (penyakit yang umumnya identik dengan keadaan berbahaya atau mematikan) bukan penyakit yang mudah disembuhkan. Tetapi beda dengan Michelle Theodora. Walaupun sejak kecil sudah harus melawan penyakit ini, bukan berarti hidupnya tidak berarti lagi. Michelle dengan penuh sukacita dan semangat menjalani hidupnya, di usia mudanya Michelle sudah mengalami banyak mujizat dan kesaksian dalam kehidupannya.
Kebanyakan orang yang mengetahui perjalanan hidup Michelle, akan terlintas dipikiran, “Sungguh hebat! Kita saja yang manusia normal belum tentu sanggup bersikap ceria dan seperti tidak terjadi apa-apa ketika menghadapi keadaan seperti ini. Tapi Michelle, benar-benar membuka mata kita.”
Bagi saya, tulisan ini seperti “paradoks”. Begitu SEDERHANA penuturannya, tetapi begitu DALAM maknanya. Kesederhanaan dan kedalaman maknanya yang membuat tulisan ini begitu unik.
Melalui buku ini, Michelle membagikan kisah nyata kehidupannya sendiri yang divonis menderita luekemia sejak umur 11 tahun pada 2011. Ia harus menjalani perawatan dan kemoterapi selama 4 tahun di Jakarta dan Singapur. Seorang Michelle, gadis kecil yang sedang bertumbuh menjadi remaja harus melewati hari-hari yang panjang di pembaringan rumah sakit dengan segala kelemahan dan penderitaannya, menghadapi masa-masa sulit yang Tuhan izinkan. Namun, justru di tengah perjuangannya melawan penyakit yang menjadi momok bagi umat manusia, Michelle bertemu dengan pribadi Yesus yang sungguh ajaib. Michelle bertumbuh menjadi pribadi yang matang melebihi usianya yang baru 13 tahun pada waktu itu. Justru dalam kelemahannya, Michelle semakin intim dengan Tuhan dan hatinya semakin berpaut kepada Tuhan serta menjalani prosesnya bersama dengan Tuhan.
Saat ini Michelle adalah salah satu anak yang masih bertahan dengan penyakitnya karena mujizat yang diberikan Tuhan. Walaupun harus menghadapi berbagai cobaan, tapi Michelle tetap menjalani kehidupannya dengan semangat dan sukacita. Kisah nyata Michelle ini dapat ditelusuri pada buku karya Michelle Theodora yang berjudul ‘God is Greater than Cancer’.
Saya sendiri sebagai pembaca ‘God is Greater than Cancer’ merasa terberkati atas kisah yang dialami Michelle. Dalam kondisi fisiknya yang tak sempurna, dia tetap berusaha bersukacita dan bersyukur menjalani hidupnya. Karena dia percaya bahwa Tuhan akan memberikan rencana yang terbaik dalam hidupnya. Michelle dalam bukunya mengajak kita untuk memberikan energi yang luar biasa ditengah ketidaksempuranaan kita.
Menutup tulisan kali ini,
Perhatikan orang-orang di sekitar kita. Orang tua, saudara, teman, guru, dan siapapun yang mencintai kita. Mereka semua tidak sempurna. Ada saja hal yang membuat kita tak puas kepada mereka.
Tapi mereka semua memberi kita energi yang luar biasa, untuk menikmati hidup ini. Jangan berharap mereka akan sempurna, karena kita juga tidak sempurna.
Lalu, selanjutnya bagaimana? Asahlah terus keunggulan kita itu. Manfaatkan untuk menghasilkan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi diri kita sendiri. Banyak-banyaklah bersyukur dan berbuat baik, sampai perbuatan baik kita itu dinikmati oleh banyak orang.
Perbuatan baik, menghasilkan hal baik, akan menambah keunggulan yang tadinya sudah kita punya. Ia juga akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Ingat, bersyukur itu bukan mencari kekurangan orang lain yang tak ada pada kita.
Bersyukur itu adalah menemukan keunggulan pada diri kita, memanfaatkannya, menikmatinya, tanpa berkata, ‘mengapa seperti ini?’


