1.9 C
New York
Monday, January 12, 2026

Sebuah tulisan mencatut namanya, Romo Franz Magnis: tak mungkin saya yang menulis

Sebuah tulisan yang mencatut nama rohaniwan Romo Franz Magnis-Suseno beredar di media sosial terutama melalui media Whatsapp. Tulisan tersebut berisi harapan agar sejarah kelam Jerman di masa Hitler tidak terulang di Indonesia. Di dalamnya juga terdapat kalimat yang mendiskreditkan nama Prabowo.

Romo Magnis, sebutan akrab Franz Magnis-Suseno, menyatakan akan melaporkan perihal tulisan yang mencatut namanya tersebut ke Bareskrim Mabes Polri.

Berikut teks yang beredar tersebut:

Semoga apa yang telah terjadi di Jerman pada masa lalu dimana para fanatis identitas bangsa Aria mengakibatkan sejarah kelam Jerman, tidak terulang kembali di Indonesia.
Begitulah kita harus mencegah para fanatis khilafah PKS dan Gerindra yang bodoh ini, persis seperti orang2 Jerman kelompok fanatis identitas pada masa frustrasi setelah dilecehkan oleh bangsa2 Eropah sekitarnya pasca kekalahan PD I.

Pada waktu itu muncullah seorang Hitler yang melakukan politik identitas bangsa Aria.
Mereka seperti dilecutkan semangatnya dan mendukung Hitler.
Sebenarnya Hitler tidaklah mulus2 amat naik ketampuk kekuasaan.
Ber-kali2 dia gagal bahkan sempat dibui, di mana di dalam penjara dia menulis buku pandangan dan pemikirannya ke dalam tulisan yang berjudul “Mein Kampf” (Perjuanganku).

Dia hanya menang tipis pada pemilu awal dekade 30an, menandakan bahwa masih ada orang2 Jerman yang waras, yang tidak mendukung Hitler karena mengetahui sifat jahatnya yang tersembunyi.
Tetapi biarpun tipis, menang ya tetap menang untuk berkuasa.
Begitu dia berkuasa, dia sikat semua orang2 yang berbeda pendapat dengan dia, lalu dia perkuat posisinya dengan menempatkan para oportunistis yang menjadi komprador setianya.

Banyak yang ingin menjatuhkannya, salah satunya Graf von Fürstenberg gagal melaksanakan attentat-nya untuk membunuh Hitler melalui bom waktunya, sehingga dia sendiri yang dihukum mati.

Ketika bangsa Jerman melihat bahwa mereka sudah salah memilih, yaitu memilih monster, sudah terlambat.
Sudah terlambat bagi mereka untuk mendengar mereka yang sudah lama sebelumnya me-warning mereka agar jangan membuat seorang monster berkuasa.
Mereka2 yang mewarning rakyat sudah dimatikan di Gaskammern bersama jutaan Yahudi itu yang teringat sampai sekarang sebagai masa2 kelam Holocaust.
Saksi sejarah masa lalu itu adalah *Romo Franz Magnis* yang sekarang menjadi WNI dengan nama Suseno.

Dia mengatakan, bahwa pemilihan umum bukanlah untuk memilih seseorang yang sempurna (tidak ada manusia yang sempurna), melainkan untuk mencegah seorang gila yang jahat berkuasa. Prabowo sedang memanfaatkan sentimen identitas Islam, dia tau bahwa di Indonesia, muslim itu mayoritas. Kaum ini yang harus dirangkul.

Ada banyak Muslimin yang waras, seperti orang Jerman yang waras pada waktu Hitler ingin berkuasa. Tetapi ada banyak juga kaum Muslimin yang anasionalis militan, inilah yang sedang ditunggangi Prabowo.
Mereka begitu bodohnya, tidak tau bahwa kemilitansian mereka sedang dimanfaatkan Prabowo, persis seperti Hitler sudah memanfaatkan kemilitansian die Brauner (istilah bagi kelompok garis keras yang suka mengintimidasi rakyat Jerman. Mereka berseragam kecoklatan, braun bahasa Jermannya, memakai badge swastika di lengan baju mereka) untuk menyokong dirinya ke tampuk kekuasaan. Padahal banyak dari mereka ini juga nantinya tergilas oleh roda mesin persatuan manusia di bawah kegilaan Hitler.

Begitupula yang akan terjadi pada kaum Muslimin bodoh ini, mereka akan digilas oleh mesin kesatuan manusia yang kesurupan kegilaan Prabowo.
Seorang Prabowo tidak akan mau mengikuti keislaman orang2 PKS dan Gerindra bodoh ini.
Dia akan memperkokoh keakuannya sendiri, dengan bantuan kekuatan2 luar yang me-nunggu2 kemunculan seorang pengkhianat Indonesia.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mencegah itu, agar jangan sejarah kelam Jerman terulang kembali.

Romo Franz Magnis Suseno, SJ

Terkait teks yang beredar tersebut Romo Magnis memberikan catatan.

Pertama, teks tersebut sebagian menulis tentang Romo Magnis seperti tertera dalam penggalan “Saksi sejarah masa lalu itu adalah *Romo Franz Magnis* yang sekarang menjadi WNI dengan nama Suseno. Dia mengatakan,….” Namun demikian, sebagian tulisan itu mengatasnamakan Romo Magnis.

Kedua, Romo Magnis menyatakan tak pernah memakai sebutan “Romo” untuk dirinya sendiri demikian juga dalam hasil karyanya. Orang lain yang menyebutnya dengan “Romo”.

Ketiga, Romo Magnis menegaskan bawah namanya yang selalu saya pakai tanpa kecuali adalah “Franz Magnis-Suseno”, sedangkan dlam teks yang beredar menggunakan “Franz Magnis Suseno”, tanpa tanda penghubung.

Keempat, Romo Magnis menyatakan bahwa setiap orang yang menjalani pendidikan menengah, apalagi pendidikan tinggi di Jerman seperti dirinya tentu tahu bahwa yang mencoba membunuh Hitler pada 20 Juli 1944 namanya bukan Fürstenberg seperti dalam teks yang beredar. “Tak mungkin saya yang menulisnya,” demikian pernyataan Romo Magnis, Jumat (5/4/2019)

Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=585844238592730&id=100015014774975 (BeritaSatu)

avatar
Silvester Detianus Gea
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu-Esiwa, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan Strata 1 (S1) Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Menyelesaikan Strata 2 (2023). Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Ikut serta menulis dalam Seri Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (Antologi); “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), Ayahku Jagoanku, Anakku Permataku, Guruku Inspirasiku, Hidup Berdamai Dengan Corona Vol. IV, dan Jalan Kenangan Ibuku Vol. IV (2021), Autobiografi Mini Kisah-Kisah Hidupku (2022), Kuntum-Kuntum Kasih Sayang Vol. 3, Keluargaku Bahagiaku Vol. 2, Ibu Matahari Hidupku Vol. 1 (2023), Ibu Matahari Hidupku (2024), Menulis Itu Sehat & Hidup Itu Anugrah (2025), Ikut menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama penerbit Ethos Logos Pathos (2024-sekarang), Menulis buku "Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti" bersama PT. Mitra Laksana Pelita (2025-sekarang). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com dan floresnews.net(2018-sekarang), Author jalapress.com/, dan mengajar di Sekolah Tarsisius Vireta (Website:https://www.tarsisiusvireta.sch.id/) (2019-2024), menjadi Wakil Kepala Sekolah SD Tarsisius 1 (Juli 2024-sekarang), Wakabid. Marketing, Humas & Pengembangan Usaha, Yayasan Bunda Hati Kudus (2025) Penulis dapat dihubungi melalui: Email: detianus.634@gmail.com Facebook: Silvester Detianus Gea. Kompasiana: https://www.kompasiana.com/degeasofficial1465. Akun tiktok https://www.tiktok.com/@orang_muda.katolik1. Akun Youtube: https://www.youtube.com/@Degeasofficial. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/de-gea-000825389/.

Artikel Terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Ikuti Kami

10,700FansLike
680FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Artikel Terkini