Sejarah Gereja Katolik di Dunia: Kapan Berdirinya?

2
4493
sdmsteadtaz / Pixabay

Gereja Katolik Roma atau sering disebut Gereja Roma Katolik merupakan Gereja Perdana. Seperti kita ketahui pada abad pertama ada lima keuskupan yaitu keuskupan Roma, keuskupan Konstantinopel, keuskupan Antiokhia, keuskupan Yerusalem, dan keuskupan Alexandria.

Setelah kenaikan Yesus ke surga, Kristen Katolik tersebar luas mulai dari Yerusalem, Antiokhia, Alexandria, Konstantinopel dan Roma.[1] Santo Lukas penulis Kisah Para Rasul hanya menyinggung Kristen Katolik yang ada di Antiokhia, salah satu alasannya adalah karena ia berasal dari Antiokhia.[2] Santo Lukas menulis hal itu bukan berarti empat tempat lain tidak ada keuskupan. Yang perlu diketahui Kristen yang dimaksud adalah Kristen Katolik, yang berpusat atau keuskupan Antiokhia.

Ketika Kristen Katolik masuk ke wilayah kekaisaran Romawi, muncullah penganiayaan hebat terhadap jemaat hingga pada masa Kaisar Konstantinus I pada tahun 313. Setelah melalui berbagai penganiayaan, pada tahun 380, Kaisar Teodosius I menetapkan agama Katolik sebagai agama resmi kekaisaran Romawi.

Kata ‘Katolik’ Ada dalam Alkitab

Kata ‘Katolik’ dapat ditemukan dalam Alkitab Berbahasa Yunani, tepatnya pada Kis. 9:31 ‘Ἡ μὲν οὖν ἐκκλησία καθ’ ὅλης τῆς Ἰουδαίας καὶ Γαλιλαίας καὶ Σαμαρίας εἶχεν εἰρήνην, οἰκοδομουμένη καὶ πορευομένη τῷ φόβῳ τοῦ κυρίου, καὶ τῇ παρακλήσει τοῦ ἁγίου πνεύματος ἐπληθύνετο.” Kata Katolik dalam bahasa Yunani disebut Katholikos. Katolik memiliki arti “universal (keseluruhan) atau lengkap (komplit)”. Dengan demikian Gereja yang didirikan oleh Yesus merupakan milik seluruh dunia yang merangkul semua suku, bangsa, kaum dan bahasa (bdk. Why. 7:9). Selain itu, kata ‘katolik’ berarti Gereja yang setia pada seluruh kebenaran dan meneruskan firman Allah dengan utuh.

Santo Policarpus dan Santo Ignatius

Kata ‘katolik’ juga telah ada sejak zaman Santo Policarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menjelaskan Gereja yang utuh dalam meneruskan Firman Allah dan ajaran para rasul.[3]

”At length, when those wicked men perceived that his body could not be consumed by the fire, they commanded an executioner to go near and pierce him through with a dagger. And on his doing this, there came forth a dove, and a great quantity of blood, so that the fire was extinguished; and all the people wondered that there should be such a difference between the unbelievers and the elect, of whom this most admirable Polycarp was one, having in our own times been an apostolic and prophetic teacher, and bishop of the Catholic Church which is in Smyrna. For every word that went out of his mouth either has been or shall yet be accomplished.”[4]

St. Policarpus dalam surat tersebut menjelaskan tentang perbedaan antara orang-orang tidak percaya dan orang-orang pilihan. Menurutnya, orang-orang pilihan memiliki guru atau nabi yang meneruskan ajaran para rasul seperti Uskup. Bahkan, pada tahun 154, Santo Policarpus pergi ke Roma untuk membicarakan tentang perbedaan waktu perayaan paskah dengan jemaat Roma. Policarpus diterima dengan hormat oleh Anicetus, uskup Roma. Santo Polikarpus memperoleh persetujuan dari Anicetus bahwa jemaat-jemaat di Asia Kecil boleh meneruskan kebiasaan mereka dalam merayakan Paskah pada 14 Bulan Nisan.

Pada tahun 107 (abad ke-2) Santo Ignatius dari Antiokhia menegaskan kembali pemakaian nama “Gereja Katolik” dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8.

“See that you all follow the bishop, even as Jesus Christ does the Father, and the presbytery as you would the apostles; and reverence the deacons, as being the institution of God. Let no man do anything connected with the Church without the bishop. Let that be deemed a proper Eucharist, which is [administered] either by the bishop, or by one to whom he has entrusted it. Wherever the bishop shall appear, there let the multitude [of the people] also be; even as, wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church. It is not lawful without the bishop either to baptize or to celebrate a love-feast; but whatsoever he shall approve of, that is also pleasing to God, so that everything that is done may be secure and valid.[5]

St. Ignatius dari Antiokhia dalam surat tersebut menyampaikan tentang pentingnya keberadaan seorang Uskup dan para pelayan dalam Gereja yang apostolik. Ia mengatakan: “Jauhilah perpecahan sebagai sumber kerusuhan. Hendaklah kalian semuanya mengikuti uskup, sebagaimana Yesus Kristus mengikuti Bapa; ikutilah pula kaum klerus/presbiter sebagaimana kalian ikuti para rasul; hormatilah kaum diaken sebagaimana kalian akan mematuhi Allah. Tak seorang pun hendaknya berbuat sesuatu yang berhubungan dengan gereja tanpa izin uskup. Hendaknya kalian anggap sah Ekaristi yang dilayankan oleh Uskup atau oleh seseorang yang dikuasakannya. Di tempat hadirnya uskup hendaklah jemaat berkumpul, sebagaimana di tempat hadirnya Yesus Kristus, di situ pula hadir Gereja Katolik. Tanpa pengawasan uskup, pembaptisan atau perjamuan kasih tidak diizinkan. Sebaliknya apa pun yang disetujuinya adalah menyenangkan bagi Allah. Dengan demikian, apapun yang kalian lakukan akan sah…baguslah kita akui Allah dan uskup. Siapa yang menghormati uskup, dihormati oleh Allah. Tetapi siapa ppun bertindak tak setahu uskup, ia mengabdi kepada iblis.”

St. Ignatius dari Antiokhia memberikan penegasan bahwa Gereja Katolik adalah Kristen (pengikut Yesus) satu-satunya. Hal itu untuk membedakan Kristen Katolik dengan para heretik/bidat atau aliran sesat yang juga mengaku Kristen seperti heresi Docetisme dan Gnostisisme. Maka ciri khas dari Kristen Katolik adalah dipimpin oleh para uskup yang mengajarkan doktrin yang utuh sesuai dengan ajaran Yesus Kristus.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa sejak abad pertama Gereja Katolik Roma telah ada di kekaisaran Romawi, namun tidak diakui sebagai agama negara sehingga muncul penganiayaan. Setelah ditetapkan sebagai agama resmi negara, penganut agama Katolik yang berada di wilayah kekaisaran dapat menjalankan agamanya dengan bebas. Oleh sebab itu klaim bahwa Katolik bukan Kristen dari pihak non-Katolik tidak tepat. Lebih tepatnya ‘Katolik sudah pasti Kristen, tetapi Kristen belum tentu Katolik.’

[1] Church History (Book II) dalam http://www.newadvent.org/fathers/250102.html Chapter 14. The Preaching of the Apostle Peter in Rome.
[2] Lihat Kisah Para Rasul 11:26.
[3] Wellem, F.D. Riwayat Hidup Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.
[4] The Martyrdom of Polycarpdalam http://www.newadvent.org/fathers/0102.html, Chapter 16. Polycarp is pierced by a dagger
[5] The Epistle of Ignatius to the Smyrnaeans dalam http://www.newadvent.org/fathers/0109.html, Chapter 8. Let nothing be done without the bishop.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289