Selibat dan Menikah Ajaran Yesus

0
807
paterdarius / Pixabay

Serangan-serangan kaum Fundamentalis pada hidup selibat dapat dilihat dalam berbagai bentuk — tidak semuanya selaras satu dengan yang lainnya. Hampir semua yang disampaikan penuh dengan berbagai kesimpangsiuran.

Kekeliruan pertama dan paling mendasar adalah mereka mengira bahwa selibat merupakan dogma atau doktrin — bagian dari iman yang sentral dan tidak dapat diubah, yang dipercayai oleh umat Katolik berasal dari Yesus dan para rasul. Dengan itu sebagian kaum Fundamentalis begitu memperhatikan referensi dari Alkitab terhadap ibu-mertua Petrus (Markus 1:30), nampaknya beranggapan bahwa, bila Katolik tahu bahwa Petrus menikah, maka mereka tidak dapat menganggap dia sebagai Paus pertama. Sekali lagi, lini waktu yang dimaksud oleh kaum Fundamentalis akan “ciptaan-ciptaan Katolik” (sebuah bentuk tulisan populer) menetapkan “keharusan selibat imamat” kepada tahun ini atau itu di dalam sejarah Gereja, mengandaikan bahwa sebelum keharusan ini Gereja bukanlah Katolik.

Kaum Fundamentalis ini seringkali terkejut bila mengetahui bahwa selibat bukanlah aturan kepada semua imam Katolik. Faktanya, untuk Katolik Ritus Timur, imam yang menikah adalah hal umum, sama layaknya dengan Kristen Ortodoks dan Oriental.

Bahkan di dalam gereja-gereja Timur, sesungguhnya, selalu ada beberapa pembatasan menyangkut pernikahan dan pentahbisan. Sekalipun pria yang sudah menikah bisa menjadi imam, imam yang tidak menikah tidak boleh menikah, dan imam yang sudah menikah, bila menjadi duda, tidak boleh menikah lagi. Terlebih lagi, ada disiplin Timur kuno yang memilih para uskup dari para biarawan yang selibat, jadi semua uskup-uskup mereka tidak menikah.

Tradisi dalam Gereja Barat atau Ritus Latin adalah bagi imam-imam dan para uskup untuk mengambil kaul selibat, sebuah aturan yang sudah dikukuhkan sejak awal abad pertengahan. Akan tetapi, ada beberapa pengecualian. Sebagai contoh, ada imam-imam Ritus Latin yang menikah yang adalah mereka yang pindah dari Lutheranisme dan Epikospalisme.

Beberapa variasi dan pengecualian ini mengindikasikan, bahwa selibat bukanlah dogma yang tidak dapat diubah tetapi hanyalah sebuah aturan (disiplin). Fakta bahwa Petrus menikah tidak bertentangan dengan iman Katolik, karena pastor dari Gereja Katolik Maronit juga menikah.

Apakah Pernikahan itu Keharusan?

Kebingungan lain dari kaum Fundamentalis yang agak berbeda adalah anggapan bahwa selibat itu tidak alkitabiah, bahkan “tidak alami.” Setiap manusia, klaimnya, harus mematuhi perintah Alkitab untuk “Beranak cuculah” (Kej 1:28); dan Paulus memerintahkan supaya “setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Kor 7:2). Bahkan diargumentasikan bahwa selibat entah bagaimana “menyebabkan”, atau paling tidak mempunyai keterkaitan dengan peningkatan insiden dari perilaku seksual yang haram atau menyimpang.

Semua ini tidak benar. Sekalipun hampir semua orang pada suatu titik dalam hidup mereka dipanggil untuk menikah, panggilan selibat sudah dengan jelas dianjurkan — dan dipraktisikan — oleh Yesus maupun Paulus.

Jauh dari “memerintahkan” pernikahan di dalam 1 Korintus 7, pada bab yang sama tersebut Rasul Santo Paulus nyatanya mendukung selibat bagi mereka yang mampu akan itu: “Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.” (1 Kor 7:8-9).

Hanya karena “bahaya percabulan” (7:2) itulah Paulus memberikan pengajaran mengenai setiap laki-laki dan wanita memiliki seorang pasangan dan memenuhi “kewajibannya” (7:3); dia secara spesifik menjelaskan, “Hal ini kukatakan kepadamu SEBAGAI KELONGGARAN, BUKAN SEBAGAI PERINTAH. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” (1 Kor. 7:6-7).

Paulus melangkah lebih jauh lagi untuk berargumen mengenai selibat lebih dari pernikahan: “…Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang… orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu… Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya; Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.” (7:27-34)

Kesimpulan Paulus: “Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin berbuat lebih baik.” (7:38).

Paulus bukanlah rasul pertama yang menyimpulkan bahwa selibat, dalam beberapa artian, “lebih baik” daripada menikah. Setelah pengajaran Yesus dalam Matius 19:12 mengenai cerai dan menikah lagi, para murid berseru, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” (Matius 19:10). Ucapan ini memulai pengajaran Yesus akan nilai-nilai selibat “demi kerajaan”:

“Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Matius 19:11-12).

Perhatikan bahwa selibat “demi kerajaan surga” adalah sebuah karunia, sebuah panggilan yang tidak untuk semua orang, atau bahkan kebanyakan orang, tetapi dikaruniakan kepada sebagian. Orang-orang yang lain terpanggil ke dalam pernikahan. Benar pula bahwa seringkali individu-individu yang berada dalam kedua jenis panggilan tersebut gagal dari syarat-syarat yang dibutuhkan akan status mereka, tetapi hal ini tidak mengecilkan kedua panggilan tersebut, maupun itu berarti bahwa individu yang bersangkutan sebenarnya “tidak benar-benar terpanggil” untuk panggilan tersebut. Dosa seorang imam tidak membuktikan bahwa dia seharusnya tidak pernah mengambil kaul selibat, sama halnya dosa seorang laki-laki atau perempuan yang sudah menikah membuktikan bahwa dia seharusnya tidak menikah. Hal yang mungkin bagi kita untuk gagal dalam panggilan sejati kita.

Selibat sesuatu yang alami dan alkitabiah. “Beranak cuculah” tidak mengikat kepada setiap individu; melainkan, ia adalah pedoman umum bagi umat manusia. Jika tidak, setiap laki-laki maupun wanita yang sudah masuk dalam usia menikah akan berada dalam keadaan berdosa dengan tetap melajang, dan Yesus dan Paulus akan bersalah dalam menganjurkan dosa sekaligus pula melakukannya.

Suami Dari Satu Isteri

Argumen Fundamentalis lainnya, sehubungan dengan yang terakhir, adalah bahwa pernikahan itu keharusan bagi pemimpin-pemimpin Gereja. Paulus berkata bahwa seorang uskup haruslah “suami dari satu istri,” dan “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Tim 3:2,4-5). Ini berarti, seolah-olah mereka benar bahwa hanya seorang pria yang sudah menunjukkan kekeluargaannya layak untuk mengurus Jemaat Allah; seorang yang tidak menikah, implikasinya, belum teruji dan terbukti.

Interpretasi ini menuju kepada kekonyolan yang total. Dalam satu hal, bila “suami dari satu istri” benar-benar berarti bahwa seorang uskup harus menikah, dengan logika yang sama “disegani dan dihormati oleh anak-anaknya” berarti bahwa dia harus mempunyai anak-anak. Suami-suami yang tidak beranak (atau ayah dari seorang anak saja, karena Paulus menggunakan kata jamak) tidak masuk kualifikasi.

Faktanya, mengikuti gaya interpretasi konyol tersebut, puncaknya, karena Paulus berkata uskup-uskup harus memenuhi syarat-syarat ini (bukan akan mereka telah memenuhi syarat tersebut, atau akan kandidat-kandidat uskup yang sudah memenuhinya), juga berarti bahwa uskup yang sudah ditahbiskan yang istri maupun anak-anaknya meninggal akan menjadi tidak layak untuk pelayanan! Jelas-jelas penafsiran harafiah seperti ini harus ditolak.

Teori bahwa pemimpin-pemimpin Gereja harus menikah juga berkontradiksi dengan fakta jelas bahwa Paulus sendiri, seorang pemimpin Gereja unggul, lajang dan bahagia dalam kelajangannya. Terkecuali dia seorang munafik, dia tidak dapat memaksakan persyaratan kepada para uskup dimana dia sendiri tidak memenuhinya. Pertimbangkan pula, implikasi dari sikap positif Paulus terhadap selibat dalam 1 Korintus 7: Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi dan perhatiannya terbagi-bagi, tetapi hanya mereka yang layak untuk menjadi uskup-uskup; sedangkan mereka yang tidak menikah dan memusatkan perhatiannya kepada Tuhan, ditolak dari pelayanan!

Saran bahwa laki-laki yang tidak menikah belum teruji atau terbukti jugalah konyol. Setiap panggilan mempunyai tantangannya sendiri; laki-laki selibat harus melatih “pengendalian diri” (1 Kor 7:9); suami harus mengasihi dan berkorban demi istrinya (Ef 5:25); dan seorang ayah harus membesarkan anak-anaknya dengan baik (1 Tim 3:4). Setiap laki-laki harus memenuhi standar Rasul Paulus dalam “mengurus rumah tangganya dengan baik”, sekalipun “rumah tangga” ini adalah dirinya sendiri. Bila itu seorang laki-laki selibat menemui standar yang lebih tinggi dari seorang pria berkeluarga yang terhormat.

Jelasnya, maksud dari persyaratan Rasul Paulus bahwa seorang uskup “suami dari satu istri” bukanlah bahwa dia harus mempunyai satu istri, tetapi bahwa dia harus mempunyai satu istri saja. Dinyatakan sebaliknya, Paulus berkata bahwa seorang uskup harus tidak mempunyai anak-anak yang tidak bisa diatur atau tidak disiplin (bukan dia harus mempunyai anak-anak yang harus berperilaku baik), dan tidak boleh menikah lebih dari sekali (bukan dia harus menikah).

Sejatinya, secara tepat mereka yang secara unik “memusatkan perhatian akan perkara-perkara Tuhan” (1 Kor 7:32), kepada mereka yang telah diberikan untuk “membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga” (Mat 19:12), yang secara ideal cocok untuk mengikuti langkah-langkah mereka yang telah “meninggalkan segala-galanya” demi mengikuti Kristus (bdk. Mat 19:27) — panggilan sebagai imam kaum religi yang dikonsekrasi (para biarawan dan biarawati).

Karena itu Paulus memperingatkan Timotius, seorang uskup muda, bahwa mereka yang dipanggil menjadi “prajurit” Kristus harus menghindari “hal-hal sipil”: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Tim 2:3-4). Dalam terang kata-kata Paulus pada 1 Korintus 7 mengenai keuntungan dari selibat, pernikahan dan keluarga jelas-jelas menonjol dalam kaitannya dengan “hal-hal sipil”.

Sebuah contoh dari pelayanan selibat juga bisa dilihat pada Perjanjian Lama. Nabi Yeremia, sebagai bagian dari pelayanan nubuatannya, dilarang untuk mengambil seorang istri: “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini.”” (Yer 16:1-2). Tentunya, ini berbeda dengan selibat imamat Katolik, yang tidak ditahbiskan secara ilahi; tetapi preseden ilahi masih mendukung legitimasi dari institusi manusia ini.

Dilarang Untuk Menikah

Tetapi tiada satupun dari ayat-aya ini memberikan kita contoh akan selibat sebagai mandat dari manusia. Selibat Yeremia itu sebuah keharusan, tetapi itu dari Tuhan. Ucapan Paulus kepada Timotius akan “hal-hal sipil” hanyalah peringatan umum, bukan perintah spesifik; dan bahkan dalam 1 Korintus 7 Rasul Paulus menganjurkan untuk selibat dengan menambahkan: “Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” (7:35)

Ini membawa kita kepada serangan terakhir kaum Fundamentalis: bahwa, dengan mensyaratkan sebagian dari imam dan kaum religinya untuk tidak menikah, Gereja Katolik jatuh kedalam kutukan Paulus dalam 1 Timotius 4:3 kepada para pembelot yang “melarang pernikahan”.

Faktanya, Gereja Katolik tidak melarang siapa pun untuk menikah. Tidak ada yang diharuskan mengambil kaul selibat; mereka yang melakukan hal itu, melakukannya dengan sukarela. Mereka demikian “karena kemauan sendiri” (Mat 19:12); tiada yang melarang hal itu kepada mereka. Seorang Katolik yang tidak ingin mengambil kaul tersebut tidak perlu melakukannya, dan dia bebas untuk menikah dengan restu dari Gereja. Gereja secara sederhana memilih kandidat-kandidat untuk imamat (atau, pada ritus Timur, untuk episkopat) dari mereka yang secara sukarela untuk tidak menikah.

Tetapi apakah ada preseden alkitabiah akan praktisi yang membatasi keanggotaan ke dalam group hanya kepada mereka yang secara sukarela berkaul selibat? Ya. Rasul Paulus, menulis sekali lagi kepada Timotius, menyebut para janda yang bersumpah tidak menikah lagi (1 Tim 5:9-16); dengan tertentu menasihati: “Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh kebirahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya.” (5:11-12).

“Kesetiaan mereka yang semula” yang dipungkiri oleh pernikahan lagi tidak mungkin mengacu kepada pernikahan mereka yang pertama, karena Paulus tidak mengutuk para janda untuk menikah lagi. (cf. Rom 7:2-3). Itu hanya bisa mengacu kepada sumpah untuk tidak menikah yang diambil para janda yang masuk ke dalam grup ini. Hasilnya, mereka adalah bentuk awal dari group perempuan religi — Biarawati Perjanjian Baru. Gereja Perjanjian Baru memiliki tatanan dengan keharusan selibat, sama halnya Gereja Katolik saat ini. Pelarang Pernikahan yang dimaksud Rasul Paulus pada saat itu adlaah sekte Gnostik. Gnostik mencela pernikahan, seks, dan menganggap tubuh itu pada hakekatnya jahat. Beberapa bidaah awal masuk ke dalam penjabaran ini, pula kaum Albigensian dan Kataris pada abad pertengahan (yang, ironisnya, dikagumi beberapa penulis anti-Katolik yang tidak kritis, nampaknya hanya karena kebetulan mereka bersikeras untuk menggunakan versi terjemahan bahasa mereka masing-masing akan Alkitab; lihat pada traktat Catholic Answer berjudul Catholic Inventions).

Martabat Dari Selibat dan Pernikahan

Kebanyakan umat Katolik menikah, dan semua umat Katolik diajarkan untuk menghormati pernikahan sebagai institusi kudus — sebuah sakramen, tindakan Allah akan jiwa kita; salah satu dari hal-hal terkudus yang kita alami dalam hidup ini.

Faktanya, justru karena kesucian pernikahanlah membuat selibat itu berharga; hanya karena apa yang baik dan kudus dalam sendirinya itu bisa diserahkan kepada Allah sebagai persembahan. Sama layaknya puasa mengandaikan kebaikan dari makanan, selibat juga mengandaikan kebaikan dari pernikahan. Dengan memandang rendah selibat, maka dari itu, sama dengan memandang rendah pernikahan itu sendiri — seperti yang ditunjukkan oleh Bapa-bapa Gereja.

Selibat juga sebuah institusi penegasan kehidupan. Dalam Perjanjian Lama, dimana selibat hampir tidak diketahui, yang tidak beranak seringkali dicela oleh orang-orang lain dan oleh diri mereka sendiri; hanya melalui anak-anak, dirasakan, seseorang mempunyai nilai. Dengan menolak pernikahan, sang selibat menegaskan nilai hakiki dari setiap hidup manusia dalam kesendiriannya, terlepas dari keturunan.

Pada akhirnya, selibat adalah pertanda eskatologi akan Gereja, sebuah tanda kehidupan saat ini akan selibat universal dari sorga: “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” (Mat 22:30)

NIHIL OBSTAT: I have concluded that the materials presented in this work are free of doctrinal or moral errors.
Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, August 10, 2004

IMPRIMATUR: In accord with 1983 CIC 827
permission to publish this work is hereby granted.
+Robert H. Brom, Bishop of San Diego, August 10, 2004

CATATAN KAKI:
Sumber asal: http://www.catholic.com/tracts/celibacy-and-the-priesthood
Diterjemahkan oleh Maximinus

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289