Sosok Bunda Maria di Mata Martin Luther: Dialah Permata Terindah dalam Kekristenan

4
15186
Gambar ilustrasi diambil dari Pixabay.com

Banyak aliran masa kini merasa terganggu jika menyebut nama Maria, Bunda Yesus. Mereka berprasangka bahwa dengan memberi tempat istimewa kepada Maria, kita menduakan Tuhan.

Tentu saja prasangka semacam itu tidak berdasar karena sampai kapanpun Maria tidak pernah disetarakan dengan Yesus. Justru kita menghormati Bunda Maria karena ia sudah bersedia berkata ‘YA’ terhadap tawaran dari Allah untuk melahirkan Sang Juruselamat ke dunia. Jadi, penghormatan terhadap Maria tidak bisa dilepaspisahkan dari kesediaannya dalam melahirkan Yesus, Tuhan kita.

Sejak awal, Gereja Katolik sudah menyadari pentingnya peran Maria; tapi tidak pernah menyamakan Maria dengan Tuhan Yesus. Karenanya, bagi Gereja Katolik, tindakan penghormatan terhadap Bunda Maria sama sekali tidak menduakan Tuhan.

Pencetus gerakan reformasi, Martin Luther, bahkan tidak mempersoalkan penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria. Ia justru ikut memberikan kata-kata pujian terhadap sosok Maria. Ia berkata: “Apa persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan keagungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.

Ia melanjutkan: “Sungguh pantaslah apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda, dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber¬seru: “Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia” tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.

Lalu, Martin Luther mengutip Nyanyian Pujian Maria untuk menunjukkan betapa Maria layak dihormati. “Melalui perkataannya sendiri dalam Magnificat (Luk. 1:46-55), dan melalui pengalamannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah. Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam frasa: ‘Bunda Allah’. Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di pohon, rumput di padang, bintang di langit, atau pasir di laut, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.

Referensi:
1. William Johnston SJ. 1987. Mistik Kristiani. Sang Rusa Terluka. Yogyakarta: Kanisius.
2. Frans Harjawiyata OCSO. 1993. Kehidupan Devosional dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Yogyakarta: Kanisius.
3. Alexander Roman. Martin Luther on the Mother of God; dalam http://orrologion.blogspot.com/2006/01/martin-luther-on-mother-of-god.html.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: [email protected] atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289