Sukacita Pentakosta 2019 pada Trio Komunitas Kasih Labuan Bajo

0
266

Pentakosta artinya hari ke-50 setelah kebangkitan Kristus. Pada saat itu, para murid dipenuhi Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus itu merupakan pemenuhan janji Yesus bahwa Ia akan mengutus Penghibur yaitu Roh Kebenaran (bdk. Yoh.15:26).

Roh itu memberi mereka keberanian untuk bersaksi tentang Kristus dan segala perintah-Nya. Roh itu yang membuat mereka keluar dari ‘persembunyian’ dan pergi mewartakan kabar gembira kerajaan Allah yang dibawa dan diwartakan Yesus ke seluruh penjuru dunia. Roh itu memampukan para murid berbagi sukacita keraaan Allah kepada banyak orang.

Karena dipenuhi oleh kuasa dari atas (Roh Kudus), pewartaan para murid mudah diterima dan dimengerti oleh pendengarnya (Bdk. Kis. 2). Alhasil, banyak orang tersentuh hatinya dan mau dibaptis menjadi pengikut Yesus. Begitulah Roh Kudus bekerja menggerakkan para murid menjadi saksi kebenaran tentang kerajaan Allah.

Bagi kita orang Katolik, Pentakosta adalah Hari Raya besar. Pentakosta itu hari lahirnya Gereja. Tak heran kalau ada orang yang pada hari Pentakosta menulis atau mengucapkan, “Selamat ulang tahun Gereja Katolik!” Kelahiran Gereja mustahil tanpa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, tak ada Gereja! Itulah juga alasannya mengapa Roh Kudus disebut sebagai mempelai Gereja. Karena Hari Raya besar, perayaannya dilakukan secara serempak dan meriah di seluruh dunia.

Selain Perayaan Ekaristi, umat beriman  melakukan kegiatan sosial-karitatif lain, misalnya mengunjungi panti asuhan atau memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Aktivitas ini diyakini sebagai gerakan Roh Kudus yang terus mendorong umat beriman melakukan karya kebaikan dan mewartakan-membagikan sukacita kerajaan Allah kepada sesama.

Di Labuan Bajo, Komunitas Sant’Egidio (KSE) merayakan Pentakosta  secara berbeda bersama dua komunitas kasih lain yakni Komunitas Bruder Missionaries of the Poor (MOP) dan Komunitas Suster Kkottongnae. Perayaan yang ‘berbeda’ ini dirayakan di Komunitas Suster Kkottognae, setelah tahun lalu dirayakan di Komunitas Bruder MOP. Perayaan ini diawali dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 10.00 Wita. Perayaan ekaristi dipimpin oleh RP. Laurens Gafur, SMM (selebran) dan didampingi oleh RD. Silvester Gonsaga (konselebran). Salah satu aspek penting yang ditekankan oleh RP. Laurens dalam kotbahnya adalah tentang peran Roh Kudus. Peran Roh Kudus yang digarisbawahi  itu menggerakkan atau memampukan orang berbagi kasih. Tentang berbagi kasih ini, Komunitas MOP dan Komunitas Suster Kkotongnae adalah teladan.

Kedua komunitas ini telah melaksanakan dengan baik apa itu berbagi kasih. Betapa tidak, Komunitas MOP merawat-mendampingi belasan anak laki-laki berkebutuhan khusus yang mereka ‘ambil’  atau dititipkan oleh keluarga-keluarga di seputar Manggarai Raya khususnya dan Flores umumnya. Sementara Komunitas Suster Kkotongnae merawat-mendampingi beberapa oma (nenek-nenek lansia) yang dititipkan atau mereka ‘ambil’ dari keluarga-keluarga di sekitar Manggarai Raya. Di pihak lain, Komunitas Sant’Egidio belajar berbagi kasih dari kedua komunitas ini. Cara belajarnya adalah mengunjungi kedua komunitas ini satu kali seminggu. Kunjungan diisi dengan bermain bersama atau belajar sesuatu dan diakhiri dengan doa bersama. Selain itu, ada Perayaan Ekaristi bersama setiap minggu ketiga dalam satu bulan. Semuanya ini diyakini sebagai peran dan karya Roh Kudus.

Setelah Perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana. Acara ini diawali dengan mendengarkan pesan Pentakosta dari presiden KSE internasional, Marco Impagliazo. Satu hal penting yang disampaikan Marco adalah tentang kiprah KSE internasional. KSE telah berkembang pada 90 negara dan berperan aktif dalam menanggapi isu-isu global, misalnya isu kemanusiaan, perdamaian dan lingkungan hidup. Keterlibatan itu adalah perintah Injil. Keterlibatan itu hanya mungkin karena peran-dorongan Roh Kudus. Marco terus memberi semangat agar KSE di seluruh dunia di bawah terang-bimbingan Roh Kudus terus peduli dan aktif menanggapi isu global dan berjuang mencari solusi terbaik bersama pihak-pihak terkait (negara, lembaga agama, organisasi kemanusiaan, LSM, dll).

Pesan Pentakosta Presiden KSE ini dipertegas oleh Penanggung Jawab KSE Labuan Bajo, Maria Yemato Asmat (Yen).  Selain mempertegas, Yen juga mengapresiasi semangat anak-anak muda KSE Labuan Bajo dalam berbagi kasih. Dengan kata-kata mutiaranya, “Tak ada yang terlalu miskin sehingga tidak bisa berbagi kasih kepada sesama”, Yen berharap agar KSE terus maju dalam berbagi kasih dan terus belajar bertumbuh bersama di atas dasar PRAY (doa), POOR (miskin), PEACE (damai). Karya kebaikan berbagi kasih itu adalah buah dari doa dan renungan atas Injil. Karya kasih itu lintas batas usia, suku, golongan, agama dan sebagainya. Itu juga alasannya mengapa tema perayaan Pentakosta bersama tahun ini adalah “KASIH PERSAUDARAAN TANPA BATAS.”

Setelah penegasan dan apresiasi penanggung jawab KSE Labuan Bajo ini, acara dilanjutkan dengan berbagi (sharing) pengalaman pelayanan berbagi kasih selama ini. Yang berbagi pengalaman adalah  beberapa perwakilan KSE, Komunitas MOP, Komunitas Suster Kkotongnae dan beberapa undangan yang hadir, termasuk RD. Silvester Gonsaga. Kisah berbagi ini memiliki benang merah bahwa berbagi kasih itu panggilan jiwa sebagai pengikut Kristus. Berbagi kasih itu perintah Injil! Aktivitas berbagi kasih itu selain dilandasi doa dan injil, perlu dilakukan sepenuh hati atau bersumber dari hati yang tulus; bukan embel-embel ingin dipuji atau mengejar keuntungan tertentu. Semua yang berbagi pengalaman sepakat bahwa berbagi kasih itu mendatangkan sukacita di hati. Sukacita itu tak tergantikan. Salah satu dasar biblis karya berbagi kasih yang mendatangkan sukacita itu adalah kata-kata Yesus dalam Matius 25:40, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Setelah sharing pengalaman berbagi kasih, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Saat makan siang berlangsung pelbagai acara hiburan (nyanyian, fragmen singkat, dll) disuguhkan kepada semua yang hadir. Setelah makan, sebagian peserta menari bersama. Ada sukacita! Perayaan penuh sukacita itu berakhir pukul 15.00 WITA.

Komunitas Sant’Egidio adalah komunitas awam Katolik yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang anak muda Italia berusia 18 tahun bernama Andrea Ricardi. Tampak bahwa misi pembaruan yang dihembuskan Konsili Vatikan II (1962-1965) dipahami dengan sangat baik oleh Andrea. Pemahaman yang baik itu ditandai dengan keberaniannya membangun KSE. Komunitas ini memiliki beberapa pilar, antara lain Doa, Orang Miskin, Damai, Injil, Hidup Berkomunitas dan Dialog. Pilar-pilar ini tak terpisahkan satu sama lain. Saat ini, KSE sudah berkembang di 90 kurang lebih 90 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Di Labuan Bajo, KSE sudah berusia 2 tahun dan beranggotakan puluhan anak muda.

Komunitas Bruder MOP didirikan pada 1981 oleh Father Richard Ho Lung di Jamaica. Komunitas ini sudah berkembang di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Mereka tergerak untuk melayani kaum miskin dan terpinggirkan. Di Labuan Bajo, Komunitas MOP mulai hadir tahun 2010. Selain membangun komunitas pembinaan (aspiran dan postulan), mereka juga mendirikan panti asuhan untuk menampung dan merawat anak-anak laki-laki berkebutuhan khusus. Saat ini ada belasan anak berkebutuhan khusus yang mereka layani dengan penuh sukacita.

Komunitas Suster Kkottongnae didirikan pada 1996  di diosean Chungju-Korea oleh Father John Oh. Teks Kitab Suci yang menjadi dasar komunitas ini adalah Yoh. 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” dan 1Yoh. 4:16, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Di Labuan Bajo, Komunitas ini diresmikan dan diberkati oleh Admistrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San pada 4 Juni 2018. Karya pelayanan mereka saat ini adalah merawat dan melayani dengan penuh sukacita beberapa oma (nenek, lansia) yang dititipkan oleh keluarga-keluarga tertentu.

Trio Komunitas Kasih ini (KSE, MOP & Suster Kkottongnae) akan terus berkarya berbagi kasih berlandaskan Injil dan atas desakan Roh Kudus di Labuan Bajo, khususnya di panti asuhan MOP dan Komunitas Suster KKottongnae.***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.