Katolik Menjawab: Tuhan Marah karena Patung Berhala

0
2352
Devanath / Pixabay

Kita sudah melihat bahwa ternyata tidak semua patung dilarang oleh Tuhan. Jika patung itu hanya sebatas sebagai alat peraga (seperti di sekolah), patung untuk permainan (untuk anak-anak), patung memorial (seperti patung Martin Luther di Jerman), atau patung sebagai sarana rohani (di Gereja), maka tidak dilarang. Yang dilarang oleh Tuhan adalah patung yang dibuat untuk disembah sebagai ‘allah lain’.

Ada satu kisah populer dalam Kitab Keluaran mengenai bagaimana Tuhan begitu marah terhadap orang Israel karena mereka membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai allah lain. Kisah lengkapnya ada di Kitab Keluaran 32:1-35. Dari perikop ini tampak sekali bahwa Tuhan marah besar terhadap orang-orang Israel karena mereka terbukti melanggar larangan yang sudah disampaikan-Nya pada Kel. 20:3-5.

Pelanggaran itu bermula ketika orang-orang Israel sedang menunggu kedatangan Musa dari atas Gunung Sinai. Ketika Musa cukup lama berada di atas Gunung Sinai, mereka tidak sabar menunggu. Makanya mereka ingin membuat allah mereka sendiri, yaitu allah yang berbeda dari Allah Musa. Jadi, pada saat mereka melebur semua perhiasan emas, mereka sudah mempunyai niatan untuk membuat bagi mereka allah emas dan yang bukan Allah Israel.

Sayangnya, Harun tak kuasa menahan keinginan mereka, sehingga ia akhirnya menuruti kemauan mereka. Ia tak meluruskan pandangan yang sesat itu, tapi malah mengikuti kehendak mereka, dengan melebur perhiasan emas mereka dan membuat patung anak lembu tuangan, seperti lambang Baal.

Allah marah terhadap bangsa Israel sebab dengan membuat patung emas itu, mereka melanggar perintah pertama dalam kesepuluh perintah Allah, yaitu, “Akulah Tuhan (dalam bentuk tunggal), Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir … Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Kel. 20:2-3). Jangan kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu” (Kel. 20:23).

Makanya Allah berkata kepada Musa, “Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah allah-allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:8). Jadi, jelaslah bahwa Allah marah kepada bangsa Israel karena: 1) mereka mempunyai allah lain di hadapan-Nya; 2) mereka membuat patung dan menyembah patung itu sebagai allah lain itu.

Sampai di sini kita dapat menangkap esensi dari penyembahan berhala, yaitu menyembah sesuatu sebagai allah lain, sehingga menggeserkan kedudukan Allah yang seharusnya menempati tempat utama di dalam hidup kita. Hal ini mengantar kita pada pemahaman selanjutnya, yaitu bahwa membuat patung saja tidak serta-merta dikategorikan sebagai penyembahan berhala. Sepanjang patung itu tidak disembah sebagai ‘allah lain’, maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai penyembahan berhala.

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.